Dufan dan Pembentukan Perilaku

19.05.2008
kategori: curhat

Kemarin, saya pergi ke Dufan bersama teman saya. Terakhir saya ke Dufan itu kapan, ya? Mungkin pas jaman-jamannya saya masih SMP gitu (udah lama ya?)

Ternyata sekarang Dufan bersih banget, ya? Tong sampah pun banyak dan mudah ditemukan. Satu hal lagi yang bikin saya tercengang itu adalah kepatuhan orang-orang untuk merokok hanya di kawasan merokok. Jarang banget saya melihat ada yang merokok di daerah umum.

Bahkan, selama saya di sana, banyak juga kata-kata "Pak, Bu, jangan buang sampah di sini," baik dari para petugas kebersihan maupun dari sesama pengunjung yang mengingatkan pengunjung lainnya. Teman saya dan saya juga sempat berteori: mungkin karena lingkungannya bersih, yang lain juga jadi segan mau buang sampah sembarangan, atau karena tidak ada yang merokok jadi segan mau merokok di luar area yang sudah ditunjuk. Apalagi dengan tong sampah yang mudah terlihat di mana saja. Malu dong, sama yang lain, ya?

Tidak lama berselang setelah teori itu disampaikan, saya memperhatikan ada seorang bapak yang celingukan hendak menyalakan rokok. Tapi setelah melihat tidak ada yang merokok di sekelilingnya, dia pun tidak jadi menyalakan rokoknya.

Lalu ada lagi seorang cewek (mungkin rada ABG gitu, dengan dandanan yang oke juga), yang dengan ragu meninggalkan bungkus bekas makanan ringan di atas kursi yang tadi dia dudukin. Tapi belum juga beranjak dua langkah, dia balik dengan terburu-buru, mengambil bungkus itu, lalu menaruhnya di dalam tempat sampah yang memang nggak jauh dari tempat dia duduk tadi.

Jadi mungkin memang begitu, ya? Pengaruh lingkungan membentuk perilaku. Kalau ketemu tempat yang bersih, mau nyampah juga kagok dan malu. Tapi kalo ketemu tempat yang jorok, ya hayuk aja.

P.S: nggak! aku nggak dibayar sama Dufan kok. Malah bayar Dufan.
P.P.S: semoga bersihnya nggak cuma pas kemaren doang, tapi sekarang dan selama-lamanya.
P.P.P.S: mungkin lain kali aku datang, tong sampahnya nggak cuma satu jenis, tapi sudah untuk sampah terpilah. *berharap* hehehe.



Yagitudeh: Baterai, si Habis Terang Terbitlah Gelap

5.05.2008
kategori: teori, faq

Ini juga jadi pertanyaan banyak orang. Baterai (batu baterai, atau kalo di bule dikenal sebagai dry-cell batteries) itu habis dipake lalu dibuang, kan ya? Apakah bisa di daur ulang? Apakah semua orang bisa mendaur ulang baterai? Apalagi yang namanya batu baterai itu kan bahan berbahaya dan beracun. Salah-salah, bukannya untung malah buntung.

Tapi, kalau dibuang begitu saja bersama dengan sampah, lalu berakhir di tempat pembuangan akhir, atau malah dibakar… hmmm… kayaknya nggak sehat banget, ya?

Di luar negeri, yang namanya baterai itu bisa dikembalikan ke pembuatnya (manufacturer) ketika sudah selesai dipake. Satu RT/RW bisa mengumpulkan di wadah terpisah, dan nanti bareng-bareng dikembalikan ke si pembuat. Atau, orang-perseorangan bisa ke toko-toko swalayan, toko-toko elektronik, atau toko-toko lain yang menyediakan tempat pengumpulan baterai bekas pakai. Selain itu, perusahaan-perusahaan pembuat baterai juga mendirikan beberapa recycling depot di daerah-daerah/kota-kota tertentu.

Lalu, di Indonesia sendiri bagaimana? Kayaknya belum ada, ya? Menurut salah satu koran ibu kota, banyak perusahaan dan toko yang sebenernya tau, tapi cuek karena di Indonesia belum ada peraturan yang mengharuskan mereka untuk melakukan tindakan proaktif untuk mengumpulkan dan mendaur-ulang baterai-baterai yang imut-imut tapi berbahaya ini (ya, kalau cabe rawit juga imut dan pedes, tapi ga bahaya).

Jadi, bisa nggak kita mengembalikan batu baterai bekas ke si pabriknya? Ini sih saya belum tau. Tapi lucu juga kali ya, kalau satu RT saja mengumpulkan batu baterai bekasnya lalu dikembalikan ke pabrik baterai itu? Ada yang udah coba?

Cara-cara yang mudah adalah:

  1. Ingat-ingat… apakah masih ada baterai nganggur di rumah. Kadang-kadang kita kan suka lupa, "masih ada nggak ya, baterai di rumah?" Malah kalau terlalu banyak baterai, akhirnya mubazir.
  2. Simpan dengan rapi dan terpisah… untuk membantu mengingat apakah kita masih punya stok baterai atau tidak, simpan batu baterai baru dengan rapi, di tempat yang terpisah. Kalau ayahku di rumah punya kotak khusus untuk batu baterai stok serumah. Kalau tercecer malah akhirnya baterainya suka nyelip, hilang, dan nanti waktu sudah ditemukan malah sudah benyenyeh dan karatan.
  3. Beli baterai yang lebih ramah lingkungan. Kadang-kadang ada lho baterai yang kandungan bahan berbahaya atau merkurinya lebih tinggi daripada baterai lainnya. Lagian, kata temen yang kerja di lab, merkuri ini kan bisa menyebabkan kemandulan dan masalah-masalah kesehatan lainnya.
  4. Engkol, matahari, dan sumber energi lainnya… Kalau mau, pilih barang-barang yang tidak butuh baterai, atau ada sumber tenaga alternatif (misalnya kalkulator yang bisa nyala pake tenaga cahaya itu lho).
  5. Gunakan rechargeable battery. Ya jadi nggak sekali pakai terus buang. Ya itung-itung sembari nunggu pemerintah mengeluarkan peraturan perbateraian. Omong-omong… baterai yang bisa disetrum ulang juga belum tentu ramah lingkungan, karena selain untuk nyetrum mereka juga butuh tenaga (listrik!), mereka juga mengandung bahan-bahan beracun dan berbahaya. Jadiii… kalau baterainya udah nggak mau distrum lagi, ya harus dibuang dengan hati-hati juga, jangan sampai malah meracuni lingkungan.
Gunakan baterai sampai titik darah penghabisan!
Selain itu, pastikan kita benar-benar menggunakan baterai sampai puol pol pol; karena setiap volt baterai itu berharga, lho. Misalnya, baterai bekas alat pemutar musik, tustel eh kamera digital atau mungkin cukuran kumis, masih bisa dimasukkan ke dalam remote televisi atau AC (walau mungkin range-nya nggak bisa dari jauuuuh, tapi masih bisa kok). 

Temenku menghemat baterai dengan berbagai cara. Ada yang dijemur, ada juga yang dimasukin ke kulkas. Entah deh nih, apa berhasil atau nggak. Terus, dengan dimasukin ke kulkas nggak tau juga deh dampaknya ke makanan-makanan yang ada di dalem kulkas.

Mari Merakit Joule Thief
Atau, simpan baterai yang kamu kira sudah mati. Karena sebenernya mereka belum mati! Kebanyakan alat-alat elektronik berbaterai butuh minimal 1.5 - 3V untuk menyala (misalnya LED biru atau putih). Di bawah itu, mereka menyatakan baterainya sudah soak, sudah mati, sudah tidak ada gunanya. Tapi berarti, di dalam baterai itu masih ada sekitar 1.5V yang nganggur begitu saja.

Nah, kalau ada iseng, buat saja sebuah joule thief, dengan kata lain, senter kecil yang bercahaya lumayan tapi hanya perlu daya rendah. Dia akan tetep menggunakan daya baterai yang tinggal sedikit itu (±1V), sampai hanya 0.3V saja yang tersisa (lama hidup: sekitar 3 hari sampai 1 minggu).

Jadi, lumayan lah baterai-baterai yang udah "nggak guna" itu bisa disimpan untuk saat-saat di mana PLN lagi ngambek dan matiin lampu rumah.

Saya sih lagi mau nyoba bikin, minggu ini. Entah deh berhasil atau nggak, berhubung saya ga mahir begini-beginian. Tapi temenku bikin sih berhasil. (Ya iya lah, dia kan pinter, masa’ ya iya dong?)

Yuk!

Tautan lainnya:
- "Wasted Opportunity to manage e-trash", Jakarta Post, 03 May 2008
- Cara membuat joule thief. (blog.makezine.com) (emanator.co.uk) (ledsales.com.au)



Yagitudeh: Pake Lagi Minyak Goreng Bekas

25.04.2008
kategori: teori, faq

Ini yang jadi pertanyaan banyak orang, mulai dari emakku yang doyan masak, sampai dengan seorang ibu di acara Green Fest kemarin: Menyak goreng abis dipake, kalo udah nggak layak pake lagi, diapain yah?

Kalo jumlahnya sedikit sih masih mending bisa dimasukin ke kotak kompos. Tapi kalo udah dalam jumlah yang banyak? Ga mungkin juga lah ya. Dibuang gitu aja?

Kebetulan, waktu ibu-ibu Green Fest itu tanya, saya baru aja mencari-cari tahu dari Om Gugel, jadinya saya bisa cuap-cuap ngecap-ngecap sedikit, walau belum ada satu pun yang saya dipraktekin. Tapi, saya tertarik juga untuk coba bikin sabun (ya betul! sabun… seperti sabun yang dipake untuk cuci tangan itu).

Mungkin minggu depan saya mau coba bikin sabun.

Jadi… beberapa hal di antara banyak hal yang bisa dilakukan dengan menggunakan minyak goreng bekas adalah:

Pengganti bahan bakar kendaraan
Terutama untuk kendaraan-kendaraan bermesin diesel. Pertama kali saya tau ini dari salah satu stasiun televisi musik sekitar tahun lalu. Ceritanya ada salah seorang artis bule yang menggunakan minyak jelantah untuk bis tur keliling negerinya. Jadi, dia tidak pusing kalau misalnya harus tur ke daerah-daerah yang rada jauh. Tinggal berhenti di suatu restoran, minta jelantahnya (kadang kalo bayar ya uwis… kadang dia didaulat nyanyi sebagai ganti sejerigen dua jerigen jelantah).

Di Indonesia, penggunaan jelantah sebagai bahan bakar alternatif juga sudah mulai marak lho. Di Bogor misalnya, pemerintah kota Bogor sudah mulai menggunakan minyak jelantah, yang dicampur solar (entah diseling-seling sama solar, atau dicampur beneran sama solar ya?) ini untuk kendaraan operasional pemerintah dan juga angkot Transpakuan.

Kalo di Bali ada Pak Olivier yang menggunakan minyak goreng bekas pakai sebagai bahan bakar truk. Kalau ada yang mau menyumbang minyak goreng atau bertanya-tanya, silakan hubungi beliau.

Dijadikan sabun
Jadi inget yang di filemnya Brad Pitt itu ya, yang Fight Club. Hehehe… bikin sabun secara rumahan. Intinya sih, karena menggunakan bahan soda api (caustic soda alias sodium hidroksida, NaOH), sabun ini sebaiknya nggak dipake untuk cuci muka dan jangan sampe kena mata. Mungkin paling banter bisa untuk bersih-bersih rumah, bisa untuk cuci-cuci baju, atau paling jauh ya untuk cuci tangan.

Bahan soda api (caustic soda) ini emang sering dipake untuk bikin deterjen kok.

Untuk jelasnya, gimana cara bikinnya, silakan liat di sini. Jurusnya cuma: aduk, aduk, aduk. Dan jangan sentuh soda api dengan tangan yang tak terlindungi. Pakelah perlindungan.

Oh iya, walau semua tipe minyak goreng sebenernya bisa dipake untuk bikin sabun ini, kayaknya (menurut sumber-sumber yang aku baca, paling bagus itu minyak kelapa).

Digunakan untuk mencegah rerumputan/tumbuhan liar
Buat yang suka berkebun, gunakan minyak goreng bekas pakai sebagai salah satu bahan sungkupan (untuk mulching). Jadi ceritanya, kertas bekas direndam dengan minyak goreng ini, lalu diletakkan di bagian bawah sungkupan itu.

Katanya nih, kalau di daerah yang adem-adem dingin (negara yang ada musim seminya), sungkupan berbahan minyak goreng malah bikin rerumputan liar ini cepet tumbuh. Tapi… karena kita tinggal di daerah tropis alias panas, menggunakan sungkupan dengan campuran minyak bekas ini malah mencegah, memperlambat, bahkan membunuh rerumputan liar. Oke banget, kan?

Info lebih lanjut sila buka halaman ini, lihat di bawah sub-judul "Paper Mulches".

Catatan kecil lainnya
Oh iya, kalau emang misalnya minyaknya rada berbau oye (misalnya abis ngegoreng yang enak-enak) dan takut kalau terlalu bau yah… bisa "dibersihin dulu". Menurut salah satu halaman web di bawah itu tuh *tunjuk-tunjuk* caranya:
- masukin ke dalam toples atau wadah yang cukup, masukkan minyak bekas dan air (perbandingan 1:1)
- abis gitu, sinar-sinarin di bawah matahari, sekitar 2 harian. Kocok seingetnya.
- nanti, tujuannya itu supaya hal-hal jelek yang terperangkap dalam minyak itu pindah masuk ke dalam air.
- kalau minyak sudah keliatan agak oke, dan air berubah menjadi agak buram, pisahkan minyak dari air.
- silakan dipake buat hal-hal lainnya yang dianggap asik.

Nah, kalau ada yang punya info lainnya, monggo lho kalau mau dibagi. Hihihi, supaya minyak gorengnya nggak "habis manis sepah dibuang"… Apalagi kalau masih bisa dipake.

Tautan lainnya:
- Biodiesel gitu deh
- Bahan Bakar Bogor
- Recycle This
- Green Lifestyle



Yagitudeh: Bau?

22.04.2008
kategori: teori, praktek, faq, kompos

Daging, sea food, dan sejenisnya… bagus untuk dikomposkan, sebab kandungan nutrisinya banyak (proteinnya bagus buat pohon lho). Tapi… bau. Belum busuk aja udah bau. Selain itu masih banyak lagi yang menyebabkan wadah kompos mengeluarkan bau-bau yang nggak asik banget. Ini ada semacam check-list yang mungkin bisa membantu menanggulangi bau barang sedikit.

Sampah dapurku ada daging, sea food, dan eksoskeleton udang (kepala, cangkang, dll), atau sejenisnya.
Sampah-sampah jenis ini, sebelum dicacah, bisa direbus barang sebentar. Air rebusannya juga nggak usah banyak kok. Asal rebus sedikit, siram dengan air dingin, tiriskan, cacah. Habis itu masukkan deh ke dalam wadah kompos dan perlakukan seperti layaknya sampah dapur lainnya (aduk dengan bioaktivator, starter, atau sejenisnya).

Masih bau juga?

Asal baunya nggak parah banget sih… ya itu wajarlah. Kalau pake metode takakura sih harusnya nggak bau-bau amat karena baunya terserap oleh aktivator (pupuk kompos jadi). Kalau pake mini-composter mungkin iya. Kalau masih dalam batas normal, oke lah.

Untuk bau dan keadaan normal, gunakan "pewangi" alam seperti daun suji, daun pandan, atau kulit jeruk. Tapi, kalau sudah tidak normal lagi…

Baunya udah masuk Kategori Ya Ampun Amit-amit!
Periksa apakah tumpukan komposnya terlalu basah/berair.
Kalau terlalu basah atau berair, memang akhirnya membuat bau yang tidak enak ini keluar. Belum lagi nanti blenyeh dan berlendir. 

Kalau yang seperti ini kayaknya tidak bisa deh pake daun wangi atau kulit jeruk. Karena ini masalah air yang harus diserap atau dikeluarkan. Gunakan media kaya karbon untuk menyerap kelebihan air ini. Kalau sudah terserap, baunya bisa berkurang. Di toko tumbuhan banyak dijual "deodoran kompos" bahannya ya karbon aktif (mirip bubuk arang gitu). Dia yang akan menyerap kelebihan air ini.  

Selain itu si deodoran ini juga ada bahan aktif penetralisir bau (tapi tentu aja mungkin nggak 100%). Selanjutnya, penggunaan deodoran ini bisa dicampurkan sekam bakar, serbuk gergaji atau serutan kayu.

Ini sejauh yang saya tau. Ada resep jitu menangkal bau lainnya? Sharing dooong.



18-20 April 2008: Green Festival

21.04.2008
kategori: curhat, berita

Pestipal Hejo. Hihihi. Jadi teringat salah satu dari sekian banyak tebak-tebakan di panggung utama di Green Festival. "3R+1R, R yang terakhir itu apa?" Ada yang jawab "Reflant" tapi disalahin, karena harusnya nyunda dikit alias "Replant". Gara-gara beda ep-na panta sama ep-na pespa, jadi nggak dapet sepeda gunung deh.

Omong-omong… Green Festival… Apa ya? Ide baik juga, "Aksiku untuk Bumi" slogannya. Seberapa pedulinya sih sama bumi? Seberapa pedulinya sama isi bumi itu?

Buat yang nggak sempet ke Green Festival, atau yang lupa-lupa inget, bisa liat infonya di sini.

Beberapa organisasi yang ikut meramaikan: GHBS (Gropesh, hehe, ada sayanya lho); DML (stand tetangga, kampanye plastik bio-degradeable dari singkong); Swiss Contact (stand tetangga satu lagi, kampanye daur ulang mulai dari tas bungkus kopi sampai dengan lampu dari filter oli… keren bok!); Pelangi (wah, saya akhirnya ga sempet foto-foto) dan Green Lifestyle (halo!); WWF (si panda imut); CIFOR (tanam pohon! anak-anak, mari belajar mengenal dan menanam!); Lamintu (Pak Slamet dengan kawan-kawannya yang "walau lansia, kami kreatif lho!"); LIPI; Budidaya Gaharu (pertamanya saya kira jualan isi wirok, ternyata bukan ya?); Bike to Work; dan masih banyak lagi yang saya lupa namanya, tapi saya tau.

(more…)





«« catatan lama •  catatan baru »»