Yagitudeh: Baterai, si Habis Terang Terbitlah Gelap

5.05.2008
kategori: teori, faq

Ini juga jadi pertanyaan banyak orang. Baterai (batu baterai, atau kalo di bule dikenal sebagai dry-cell batteries) itu habis dipake lalu dibuang, kan ya? Apakah bisa di daur ulang? Apakah semua orang bisa mendaur ulang baterai? Apalagi yang namanya batu baterai itu kan bahan berbahaya dan beracun. Salah-salah, bukannya untung malah buntung.

Tapi, kalau dibuang begitu saja bersama dengan sampah, lalu berakhir di tempat pembuangan akhir, atau malah dibakar… hmmm… kayaknya nggak sehat banget, ya?

Di luar negeri, yang namanya baterai itu bisa dikembalikan ke pembuatnya (manufacturer) ketika sudah selesai dipake. Satu RT/RW bisa mengumpulkan di wadah terpisah, dan nanti bareng-bareng dikembalikan ke si pembuat. Atau, orang-perseorangan bisa ke toko-toko swalayan, toko-toko elektronik, atau toko-toko lain yang menyediakan tempat pengumpulan baterai bekas pakai. Selain itu, perusahaan-perusahaan pembuat baterai juga mendirikan beberapa recycling depot di daerah-daerah/kota-kota tertentu.

Lalu, di Indonesia sendiri bagaimana? Kayaknya belum ada, ya? Menurut salah satu koran ibu kota, banyak perusahaan dan toko yang sebenernya tau, tapi cuek karena di Indonesia belum ada peraturan yang mengharuskan mereka untuk melakukan tindakan proaktif untuk mengumpulkan dan mendaur-ulang baterai-baterai yang imut-imut tapi berbahaya ini (ya, kalau cabe rawit juga imut dan pedes, tapi ga bahaya).

Jadi, bisa nggak kita mengembalikan batu baterai bekas ke si pabriknya? Ini sih saya belum tau. Tapi lucu juga kali ya, kalau satu RT saja mengumpulkan batu baterai bekasnya lalu dikembalikan ke pabrik baterai itu? Ada yang udah coba?

Cara-cara yang mudah adalah:

  1. Ingat-ingat… apakah masih ada baterai nganggur di rumah. Kadang-kadang kita kan suka lupa, "masih ada nggak ya, baterai di rumah?" Malah kalau terlalu banyak baterai, akhirnya mubazir.
  2. Simpan dengan rapi dan terpisah… untuk membantu mengingat apakah kita masih punya stok baterai atau tidak, simpan batu baterai baru dengan rapi, di tempat yang terpisah. Kalau ayahku di rumah punya kotak khusus untuk batu baterai stok serumah. Kalau tercecer malah akhirnya baterainya suka nyelip, hilang, dan nanti waktu sudah ditemukan malah sudah benyenyeh dan karatan.
  3. Beli baterai yang lebih ramah lingkungan. Kadang-kadang ada lho baterai yang kandungan bahan berbahaya atau merkurinya lebih tinggi daripada baterai lainnya. Lagian, kata temen yang kerja di lab, merkuri ini kan bisa menyebabkan kemandulan dan masalah-masalah kesehatan lainnya.
  4. Engkol, matahari, dan sumber energi lainnya… Kalau mau, pilih barang-barang yang tidak butuh baterai, atau ada sumber tenaga alternatif (misalnya kalkulator yang bisa nyala pake tenaga cahaya itu lho).
  5. Gunakan rechargeable battery. Ya jadi nggak sekali pakai terus buang. Ya itung-itung sembari nunggu pemerintah mengeluarkan peraturan perbateraian. Omong-omong… baterai yang bisa disetrum ulang juga belum tentu ramah lingkungan, karena selain untuk nyetrum mereka juga butuh tenaga (listrik!), mereka juga mengandung bahan-bahan beracun dan berbahaya. Jadiii… kalau baterainya udah nggak mau distrum lagi, ya harus dibuang dengan hati-hati juga, jangan sampai malah meracuni lingkungan.
Gunakan baterai sampai titik darah penghabisan!
Selain itu, pastikan kita benar-benar menggunakan baterai sampai puol pol pol; karena setiap volt baterai itu berharga, lho. Misalnya, baterai bekas alat pemutar musik, tustel eh kamera digital atau mungkin cukuran kumis, masih bisa dimasukkan ke dalam remote televisi atau AC (walau mungkin range-nya nggak bisa dari jauuuuh, tapi masih bisa kok). 

Temenku menghemat baterai dengan berbagai cara. Ada yang dijemur, ada juga yang dimasukin ke kulkas. Entah deh nih, apa berhasil atau nggak. Terus, dengan dimasukin ke kulkas nggak tau juga deh dampaknya ke makanan-makanan yang ada di dalem kulkas.

Mari Merakit Joule Thief
Atau, simpan baterai yang kamu kira sudah mati. Karena sebenernya mereka belum mati! Kebanyakan alat-alat elektronik berbaterai butuh minimal 1.5 - 3V untuk menyala (misalnya LED biru atau putih). Di bawah itu, mereka menyatakan baterainya sudah soak, sudah mati, sudah tidak ada gunanya. Tapi berarti, di dalam baterai itu masih ada sekitar 1.5V yang nganggur begitu saja.

Nah, kalau ada iseng, buat saja sebuah joule thief, dengan kata lain, senter kecil yang bercahaya lumayan tapi hanya perlu daya rendah. Dia akan tetep menggunakan daya baterai yang tinggal sedikit itu (±1V), sampai hanya 0.3V saja yang tersisa (lama hidup: sekitar 3 hari sampai 1 minggu).

Jadi, lumayan lah baterai-baterai yang udah "nggak guna" itu bisa disimpan untuk saat-saat di mana PLN lagi ngambek dan matiin lampu rumah.

Saya sih lagi mau nyoba bikin, minggu ini. Entah deh berhasil atau nggak, berhubung saya ga mahir begini-beginian. Tapi temenku bikin sih berhasil. (Ya iya lah, dia kan pinter, masa’ ya iya dong?)

Yuk!

Tautan lainnya:
- "Wasted Opportunity to manage e-trash", Jakarta Post, 03 May 2008
- Cara membuat joule thief. (blog.makezine.com) (emanator.co.uk) (ledsales.com.au)



Yagitudeh: Pake Lagi Minyak Goreng Bekas

25.04.2008
kategori: teori, faq

Ini yang jadi pertanyaan banyak orang, mulai dari emakku yang doyan masak, sampai dengan seorang ibu di acara Green Fest kemarin: Menyak goreng abis dipake, kalo udah nggak layak pake lagi, diapain yah?

Kalo jumlahnya sedikit sih masih mending bisa dimasukin ke kotak kompos. Tapi kalo udah dalam jumlah yang banyak? Ga mungkin juga lah ya. Dibuang gitu aja?

Kebetulan, waktu ibu-ibu Green Fest itu tanya, saya baru aja mencari-cari tahu dari Om Gugel, jadinya saya bisa cuap-cuap ngecap-ngecap sedikit, walau belum ada satu pun yang saya dipraktekin. Tapi, saya tertarik juga untuk coba bikin sabun (ya betul! sabun… seperti sabun yang dipake untuk cuci tangan itu).

Mungkin minggu depan saya mau coba bikin sabun.

Jadi… beberapa hal di antara banyak hal yang bisa dilakukan dengan menggunakan minyak goreng bekas adalah:

Pengganti bahan bakar kendaraan
Terutama untuk kendaraan-kendaraan bermesin diesel. Pertama kali saya tau ini dari salah satu stasiun televisi musik sekitar tahun lalu. Ceritanya ada salah seorang artis bule yang menggunakan minyak jelantah untuk bis tur keliling negerinya. Jadi, dia tidak pusing kalau misalnya harus tur ke daerah-daerah yang rada jauh. Tinggal berhenti di suatu restoran, minta jelantahnya (kadang kalo bayar ya uwis… kadang dia didaulat nyanyi sebagai ganti sejerigen dua jerigen jelantah).

Di Indonesia, penggunaan jelantah sebagai bahan bakar alternatif juga sudah mulai marak lho. Di Bogor misalnya, pemerintah kota Bogor sudah mulai menggunakan minyak jelantah, yang dicampur solar (entah diseling-seling sama solar, atau dicampur beneran sama solar ya?) ini untuk kendaraan operasional pemerintah dan juga angkot Transpakuan.

Kalo di Bali ada Pak Olivier yang menggunakan minyak goreng bekas pakai sebagai bahan bakar truk. Kalau ada yang mau menyumbang minyak goreng atau bertanya-tanya, silakan hubungi beliau.

Dijadikan sabun
Jadi inget yang di filemnya Brad Pitt itu ya, yang Fight Club. Hehehe… bikin sabun secara rumahan. Intinya sih, karena menggunakan bahan soda api (caustic soda alias sodium hidroksida, NaOH), sabun ini sebaiknya nggak dipake untuk cuci muka dan jangan sampe kena mata. Mungkin paling banter bisa untuk bersih-bersih rumah, bisa untuk cuci-cuci baju, atau paling jauh ya untuk cuci tangan.

Bahan soda api (caustic soda) ini emang sering dipake untuk bikin deterjen kok.

Untuk jelasnya, gimana cara bikinnya, silakan liat di sini. Jurusnya cuma: aduk, aduk, aduk. Dan jangan sentuh soda api dengan tangan yang tak terlindungi. Pakelah perlindungan.

Oh iya, walau semua tipe minyak goreng sebenernya bisa dipake untuk bikin sabun ini, kayaknya (menurut sumber-sumber yang aku baca, paling bagus itu minyak kelapa).

Digunakan untuk mencegah rerumputan/tumbuhan liar
Buat yang suka berkebun, gunakan minyak goreng bekas pakai sebagai salah satu bahan sungkupan (untuk mulching). Jadi ceritanya, kertas bekas direndam dengan minyak goreng ini, lalu diletakkan di bagian bawah sungkupan itu.

Katanya nih, kalau di daerah yang adem-adem dingin (negara yang ada musim seminya), sungkupan berbahan minyak goreng malah bikin rerumputan liar ini cepet tumbuh. Tapi… karena kita tinggal di daerah tropis alias panas, menggunakan sungkupan dengan campuran minyak bekas ini malah mencegah, memperlambat, bahkan membunuh rerumputan liar. Oke banget, kan?

Info lebih lanjut sila buka halaman ini, lihat di bawah sub-judul "Paper Mulches".

Catatan kecil lainnya
Oh iya, kalau emang misalnya minyaknya rada berbau oye (misalnya abis ngegoreng yang enak-enak) dan takut kalau terlalu bau yah… bisa "dibersihin dulu". Menurut salah satu halaman web di bawah itu tuh *tunjuk-tunjuk* caranya:
- masukin ke dalam toples atau wadah yang cukup, masukkan minyak bekas dan air (perbandingan 1:1)
- abis gitu, sinar-sinarin di bawah matahari, sekitar 2 harian. Kocok seingetnya.
- nanti, tujuannya itu supaya hal-hal jelek yang terperangkap dalam minyak itu pindah masuk ke dalam air.
- kalau minyak sudah keliatan agak oke, dan air berubah menjadi agak buram, pisahkan minyak dari air.
- silakan dipake buat hal-hal lainnya yang dianggap asik.

Nah, kalau ada yang punya info lainnya, monggo lho kalau mau dibagi. Hihihi, supaya minyak gorengnya nggak "habis manis sepah dibuang"… Apalagi kalau masih bisa dipake.

Tautan lainnya:
- Biodiesel gitu deh
- Bahan Bakar Bogor
- Recycle This
- Green Lifestyle



Yagitudeh: Bau?

22.04.2008
kategori: teori, praktek, faq, kompos

Daging, sea food, dan sejenisnya… bagus untuk dikomposkan, sebab kandungan nutrisinya banyak (proteinnya bagus buat pohon lho). Tapi… bau. Belum busuk aja udah bau. Selain itu masih banyak lagi yang menyebabkan wadah kompos mengeluarkan bau-bau yang nggak asik banget. Ini ada semacam check-list yang mungkin bisa membantu menanggulangi bau barang sedikit.

Sampah dapurku ada daging, sea food, dan eksoskeleton udang (kepala, cangkang, dll), atau sejenisnya.
Sampah-sampah jenis ini, sebelum dicacah, bisa direbus barang sebentar. Air rebusannya juga nggak usah banyak kok. Asal rebus sedikit, siram dengan air dingin, tiriskan, cacah. Habis itu masukkan deh ke dalam wadah kompos dan perlakukan seperti layaknya sampah dapur lainnya (aduk dengan bioaktivator, starter, atau sejenisnya).

Masih bau juga?

Asal baunya nggak parah banget sih… ya itu wajarlah. Kalau pake metode takakura sih harusnya nggak bau-bau amat karena baunya terserap oleh aktivator (pupuk kompos jadi). Kalau pake mini-composter mungkin iya. Kalau masih dalam batas normal, oke lah.

Untuk bau dan keadaan normal, gunakan "pewangi" alam seperti daun suji, daun pandan, atau kulit jeruk. Tapi, kalau sudah tidak normal lagi…

Baunya udah masuk Kategori Ya Ampun Amit-amit!
Periksa apakah tumpukan komposnya terlalu basah/berair.
Kalau terlalu basah atau berair, memang akhirnya membuat bau yang tidak enak ini keluar. Belum lagi nanti blenyeh dan berlendir. 

Kalau yang seperti ini kayaknya tidak bisa deh pake daun wangi atau kulit jeruk. Karena ini masalah air yang harus diserap atau dikeluarkan. Gunakan media kaya karbon untuk menyerap kelebihan air ini. Kalau sudah terserap, baunya bisa berkurang. Di toko tumbuhan banyak dijual "deodoran kompos" bahannya ya karbon aktif (mirip bubuk arang gitu). Dia yang akan menyerap kelebihan air ini.  

Selain itu si deodoran ini juga ada bahan aktif penetralisir bau (tapi tentu aja mungkin nggak 100%). Selanjutnya, penggunaan deodoran ini bisa dicampurkan sekam bakar, serbuk gergaji atau serutan kayu.

Ini sejauh yang saya tau. Ada resep jitu menangkal bau lainnya? Sharing dooong.



Yagitudeh: Biopori

20.01.2008
kategori: teori, faq

Ini oleh-oleh dari acara Consarety Sanur minggu lalu. Hehehe, satu dari banyak oleh-oleh. Salah satu stand di acara ini adalah mengenai Biopori.

Biopori? Naon eta?
Singkatnya sih: lubang kapiler di dalem tanah untuk menambah penyerapan air. Lubang ini yang bikin bukan siapa-siapa melainkan cacing tanah (yah kita awalnya membantu juga sih). Hebyat!

Man’paatnya apa?
Banyak, katanya. Membantu peresapan air tanah (jadi tanah tetep subur, ada "pengikatnya" dan nggak gampang longsor, atau mati). Mencegah banjir (jadi tanah lebih bisa "minum" air, dan bukannya air itu malah menggenang toh ya. Lalu bisa kompos yang terbentuk juga akan merangsang bakteri baik dalam tanah supaya makin menyuburkan tanah. Selain itu, lubang ini bisa juga dipake untuk menampung sampah organik (asik kan? Pak Tukang Sampah nggak dateng pun nggak panik!)

Biopori, gimana bikinnya?
Para adik kelas sudah membuatkan bagan yang imyut dan lucu. Silakan disimak:

Biopori 

  1. Siapkan bor tanah atau alat melubangi tanah apa saja (gali pake sekop juga boleh mah kalo bisa kali). Pokoknya untuk membuat lubang lah. Kalo bor (manual atau listrik atau batre) emang cocok kalau mau lubang yang rapi dan lumayan cepat.
  2. Gali tanah dengan  alat itu. Dalam = 1 meteran. Diameter lobang: 10-20cm-an.
  3. Isi lubang dengan sampah organik (misalnya daun kering atau sayur, tapi jangan daging kayaknya sih, nanti malah ngundang hewan-hewan yang nggak asik ngubek-ngubek lubang kita).
  4. Buatlah di sekeliling rumah, seperlunya, sepuasnya. (ihihihihi)
  5. Tunggu sampai cacing-cacing itu beraksi. Kemudian nikmati hasilnya.

Perhatian:

  1. Sebelom ngebor, cek dulu apa ada pipa, kabel, atau apalah yang tertanam di dalam tanah situ. Jangan sampe terus ngebor malah jadi masalah sekampung.
  2. Selain itu, kalau rumahnya kayak rumah saya, ingat-ingat waktu hewan peliharaannya mati, ditanem di mana, dan berapa lama sebelumnya. Serem juga kan kalo ngebornya malah… em… hiiiiiy.
  3. Jangan sampai terlalu banyak juga, beri jarak antar-lubang. Jangan terlalu dempet-dempet. Salah-salah malah nanti longsor. 

Pengen tau lebih banyak lagi?
Berkunjunglah ke sini: http://www.biopori.com/



Yagitudeh: Memilih Bioaktivator

10.12.2007
kategori: teori, faq

Beberapa hari (eh minggu?) ini aku dapet beberapa pertanyaan dari men-temen, entah itu dari blog ini atau langsung lewat telepon atau e-mail atau diamproki di tengah jalan (hehehe). Yaitu  bedanya bioaktivator jenis Boisca dan bioaktivator jenis EM4.

Kira-kira pertanyaannya mirip-mirip seperti ini:

Saya sudah mencoba membuat mini composter, sesuai dengan yang ada dibuku cara membuat kompos cair, akan tetapi saya kesulitan mendapatkan bioaktivator merek Boisca, maka saya menggunakan EM4 sebagai bio aktivatornya. Hasilnya memang terjadi pertumbuhan bakteri di dalam composter tersebut namun disitu banyak bermunculan larva (belatung), juga kondisi composter tersebut seperti isi “cubluk” dengan warna dan bau yang sama, juga kompos cair yang diharapkan pun tidak keluar, yang ada saluran air terisi penuh oleh larva.        (Enan Wahyudin)

Akhirnya setelah tanya kiri-kanan ketemu jawaban pendeknya:

Boisca dan EM4 itu nggak bisa dijadikan substitusi ternyata. Boisca khusus untuk membuat pupuk kompos cair, sedangkan EM4 umumnya digunakan untuk pupuk kompos padat. Karena itu pula, takaran dan cara mengolahnya juga berbeda. Kalau ternyata digunakan sebagai substitusi, bisa gagal juga proyeknya.

Setau aku EM4 itu sih sebenernya bisa digunakan untuk membuat kompos cair, tapi hanya bila bahan dasarnya sudah berbentuk limbah cair. 

Kalau bahan dasarnya berbentuk limbah/sampah padat, maka hasilnya pun padat juga dengan hasil lindi sebagai sampingan/tambahan (bukan hasil utama). Kalau EM4 digunakan sebagai substitusi Boisca dan diaplikasikan ke limbah padat, ya sepertinya sih mungkin nggak akan menghasilkan kompos cair. Tapi, bukan berarti jumlah lindi yang keluar tidak bisa lebih banyak. Dengan mencoba mengutak-utik kadar kelembaban tong kompos, lindi bisa didapat lebih banyak. Akan tetapi, ini berarti juga harus menggunakan/menyemprotkan EM4 yang lebih banyak dan lebih sering (untuk mencegah pembusukan karena kadar air yang berlebih).

Di bawah ini adalah beberapa informasi mengenai bioaktivator Boisca dan EM4 yang berhasil aku colong-colong dari beberapa laman web yang aku temui. Silakan dan monggo untuk yang punya pengalaman atau mau memperbaiki kesalahan-kesalahan kata yang ada.

Bioaktivator EM4
EM4 (Effective Microorganism 4) dikembangkan oleh Profesor Teruo Higa dari Jepang. Dia adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Ryukyu di Okinawa, Jepang. Di Indonesia, teknologi EM dikembangkan oleh Indonesia Kyusei Nature Farming Societies yang dipimpin oleh Ir. G N Wididana M.Agr.

EM4 sering digunakan sebagai bioaktivator dalam pembuatan pupuk kompos padat (dari limbah padat juga tentunya). Tapi walaupun begitu, EM4 juga dapat digunakan untuk mengolah limbah cair, tentu saja dengan takaran yang berbeda.

Sebenernya EM4 ini adalah satu dari sekian banyak rangkaian bioaktivator jenis EM, yang semuanya memiliki kandungan mikroorganisme (tentu aja berbeda-beda tergantung kebutuhan). Bioaktivator jenis EM mengandung mikroorganisme yang beraneka ragam, yang dapat dikategorikan sebagai:

  1. Bakteri Fotosintetik (Rhodopseudomonas spp.)
    Bakteri jenis ini berguna untuk memproduksi zat-zat yang bermanfaat bagi tumbuhan, misalnya: asam amino, asam nuleik, zat bioaktif, gula, dan zat lain yang bisa membantu mempercepat pertumbuhan tanaman. Selain itu, bakteri ini juga membantu menyemangati pertumbuhan bakteri lainnya lho. Hasilnya adalah tanah dan tanaman dapat lebih maksimal dan lebih bagus lagi pertumbuhannya.
  2. Bakteri Asam Laktat (Lactobacillus spp.)
    Bakteri ini berjasa banget dalam membantu mempercepat perombakan bahan organik (seperti lignin dan selulosa). Selain itu, dia juga menekan pertumbuhan mikroorganisme jahat yang biasanya nongol dari pembusukan bahan organik. Jadinya, dia bisa membantu membuat proses fermentasi di dalam kotak kompos menjadi lebih "sehat" dan tentunya lebih cepat.
  3. Ragi (Saccharomyces spp., Yeast)
    Ragi membantu proses fermentasi dengan menghasilkan banyak zat bioaktif seperti hormon dan enzim. Bila digunakan pada tanah dan akar, ragi membantu meningkatkan jumlah sel aktif pada tanaman dan akar.
  4. Actinomycetes
    Kata orang, Actinomycetes ini bukan sunglap bukan sihir… Eh. Bukan bakteri tapi bukan juga jamur, tapi antara bakteri dan jamur lah. Mereka menghasilkan zat anti-mikroba jahat, yaitu zat yang menekan pertumbuhan jamur dan bakteri yang nggak penting dan mengganggu proses fermentasi/pengomposan. Selain itu, bersama-sama dengan bakteri fotosintetik, actinomycetes ini membantu meningkatkan mutu tanah dengan menyemangati mikroba baik supaya tumbuh lebih banyak.
  5. Jamur Fermentasi (misal: Aspergilus spp. atau Penicillium spp.)
    Jamur ini menghasilkan alkohol, ester, dan hasil fermentasi lainnya (hehehe, tapi bukan alkohol buat diminum lho yah). Jamur ini juga semacem deodoran gitu deh, menghilangkan bau, dan mencegah serbuan ulat, lalat dan lain-lain (ternyata ulat bukan pemabuk yah?)

Bioaktivator Boisca
Kalo soal Boisca (atau sering juga disebut Biosca)… Bioaktivator untuk pembuatan pupuk cair ini diciptakan oleh Sukamto Hadisuwito, sepulangnya dari Jepang. Dengan berbekal pengalaman dari OISCA-Jepang (Organization for Industrial Spiritual and Cultural Advancement), Sukamto menciptakan bioaktivator untuk pengolahan sampah organik rumah tangga ini.

Secara singkat, Boisca adalah bioaktivator khusus untuk pembuatan kompos cair dari sampah rumah tangga.

Untuk komposisi dari Boisca itu sendiri aku belom ketemu. Beberapa hari ini udah mengarungi dunia maya (melalui om gugel, tentunya), tapi kok belom ketemu-ketemu juga ya? Buat yang tau komposisinya, boleh dong minta?

Belinya di mana?
Saya sih belom pernah beli EM4 atau Boisca. Tapi setau aku kalo EM4 ini lebih tersedia di pasaran. Sedangkan, menurut info-info Boisca baru bisa diperoleh dari Pak Sukamtonya. Dan salah satu tempat memperoleh EM4 itu di Gropesh, kayaknya sih, kalo masih setok loh yah.

  1. Gropesh (Gerombolan Peduli Sampah)
    http://gropesh.multiply.com
    Dieng Karnedi, SJ
    Jl. Kramat VI no. 22, Jakarta Pusat
    Tel: 08176877911
  2. Pak Sukamto
    Jl. Lumba-Lumba no. 2, RT014/RW08,
    Kelurahan Cempaka Baru, Cempaka Putih
    Jakarta Pusat
    Tel: 0811954039

Lebih banyak lagi mengenai bioaktivator:
- Laman web Pak Oles
- EM Indonesia
- AMPL.or.id
- OISCA.org





«« catatan lama •