Tacchan: Hari Keempat

2.08.2007
kategori: praktek, takakura

Hari ini Tacchan tidak dapat banyak, karena urusan perdapuran lagi sepi. Cuma kebagian kulit jahe dan parutan wortel saja. Juga sudah mulai penuh dan saya sudah mulai bingung. Apakah sebaiknya berhenti dulu? Karena teman-teman Tacchan (yang dikelola teman-teman saya yang lain) sudah berubah menjadi kompos semua, sedangkan sampah di dalam Tacchan masih banyak yang hijau-hijau.

Memang sih, teman-temanku sampahnya nggak sebanyak sampah yang tiap hari aku buang ke kotak takakuraku. Mungkin bakteri di dalam kotak sayah kalap, bingung mau mendekomposisi yang mana dulu. Kasihan juga sih sebenernya. Selain itu karena diaduk-aduk setiap hari, jadi bakterinya mungkin kaget.

Mungkin nanti waktu akhir pekan, pas sampahnya hampir tidak ada (akhir pekan, dapur emak tutup), Tacchan dibiarkan dua harian mengolah sampah. Semoga dengan begitu, lebih berhasil ya?

Eh, pengen juga nyoba bikin pake wadah yang lebih kecil dari kardus, mau coba aja. Hmmm… gimana ya? 



Takakura Tanya Jawab, bagian 2


kategori: takakura, faq

Melanjutkan menjawab pertanyaan sendiri…

T: Tacchan, si Keranjang Takakura, mengeluarkan panas ya? Apakah Tacchan sakit? Panas itu apa sih sebenernya? Lalu apakah mengeluarkan gas berbahaya?

tacchan 

J: Katanya, panas yang dikeluarkan itu wajar-wajar saja.
Coba kita tumpangkan tangan ke tangan yang sebelah satu lagi (jangan sampe menyentuh), pasti ada rasa hangat-hangat yang mengalir ruang antara dua tangan itu kan? Itu adalah panas alami tubuh yang dikeluarkan oleh makhluk hidup. Begitu juga dengan bakteri, punya panas sendiri. Tapi karena bakteri itu kecil-kecil jadi kadang-kadang kalo dia lagi bengong ngga melakukan apa-apa, ya nggak terasa panasnya.

Di dalam Tacchan, ada banyak bakteri dan mikroba lainnya yang giat bekerja. Dan kalau sedang giat bekerja, pasti mengeluarkan panas yang lebih banyak. Contohnya, kalau kita berolah raga atau habis bekerja berat, suhu tubuh pasti meningkat lalu merasa gerah. Nah, bakteri juga begitu, mengeluarkan panas (kalor) gitu, dan akhirnya Tacchan juga terasa hangat. Kira-kira begitu teorinya. Semoga aku nggak salah ngerti. Hihihi.


 

(more…)



Takakura Tanya Jawab, bagian 1


kategori: takakura, faq

Karena baru pertama banget bikin kompos, saya punya banyak pertanyaan dan mengalami berbagai kepanikan, khususnya di hari pertama dan hari kedua. Untungnya, hari ini aku ketemu dengan beberapa teman yang bisa sedikit menenangkan hati. Fyuh. Jadi, apa yang mereka katakan, saya rangkum di sini. Kalau ada kesalahan informasi di sini, berarti salah saya, bukan salah mereka. Hehehe. Jadi monggo dibantu dibenarkan ya.

 

T: Itu bantal sekam taronya di mana? Di luar kardus atau di dalam kardus?

J: Kalau menurut di sini dan di sini, bantal sekamnya ditaroh di dasar keranjang, sebelum kardus dimasukkan. Lebih jelasnya begini:

teorinya 

Tapi, karena saya teh meuni pelit pisan, nggak mau beli keranjang plastik dan langsung pake kardus, maka jadinya begini:

 

tacchan 

Katanya, ini juga bener. Tapi, sebaiknya kardus ini dilapisi kardus lagi (biar dobel kuatnya), karena kan bakterinya rajin mencerna nggak cuma sampah tapi juga sisi kardus. Bantal sekam tetap di dalam gitu.

Jadi dua-duanya bener… Syukurlah. Oh iya, itu selotip, boleh dipasang nanti kalau sudah mulai penuh saja, atau mau dipasang dari awal juga nggak apa-apa. Aku masih belum pasang selotip, supaya kardusnya bisa nutup dengan mudah (dan belum penuh). Hehehe. Mungkin di hari keempat atau kelima sudah harus pasang selotip.  

(more…)



Tacchan: Hari Ketiga

1.08.2007
kategori: praktek, takakura

Hari ini Tacchan, nama yang kuberikan pada kotak komposku, genap berusia tiga hari. Tacchan sudah mulai besar penuh. Dan sayah pun sedikit demi sedikit mulai tidak pesimis lagi. Maksudnya, mulai pasrah. Pasrah aja deh si Tacchan mau berubah jadi apa. Huhuhu.

Hari ini tidak begitu banyak kepanikan. Hanya ada beberapa hal kecil sajah. Seperti… misalnya kemarin saya bilang buah pir itu basah. Tetapi jika pir itu basah maka buah tomat itu bagaikan air bah! Owalah! Untung sampah daun kering lagi banyak, jadi untunglah. Sampah daun kering bisa jadi pengganti serbuk kayu. Tugasnya kurang lebih kan sama tuh. Apalagi kalo udah kering banget sampe bunyi kriuk-kriuk.

Hari ini, Tacchan juga kebagian protein hewaninya yang pertama. Nggak banyak sih. Cuma beberapa ekor nyamuk. Korban nyamuk jatuh ketika nyamuk sadis itu ngerubung sekeliling sayah yang lagi mencacah. Ciat! Ciat! Tepok sini Tepok sana. Akhirnya nyamuk pun mati dan banyak yang jatuh secara tidak disengaja ke dalem kaleng penampungan cacahan. Hmm… udah sulit untuk diambil lagi. Kan nyamuk kecil (ceritanya ngeles). Yah, semoga tidak berakibat buruk pada Tacchan. Semoga di perut nyamuk itu tidak ada bakteri berbahaya.

Sebenarnya, salah satu yang bikin sayah agak tenang dan tidak panikan lagi adalah bahwa tadi sempet ketemu beberapa dua teman yang lebih ngerti soal kompos dari saya. Kedua-duanya adalah murid fakultas biologi… ini fakultas apa jurusan? Memang sih mereka belum ketemu langsung dengan Tacchan, tapi saya sudah tanya-tanya, mengajukan beberapa pertanyaan, memberi gambaran seperti apa si Tacchan ini, dan mereka memberikan jawaban!

Hore! Jawaban yang sempat saya lontarkan di hari pertama dan hari kedua terjawab semuah (hampir semuanya). Jawaban yang saya dapat, nanti dibahas di posting selanjutnya yah.  



geger di hari kedua

31.07.2007
kategori: praktek, takakura

Setelah perasaan hampir kiamat di hari pertama (heu euh, hiperbola, tapi biarin deh)… rasanya senang sekali pas buka kotak hari ini dan ngerasa ada rasa haneut-haneut eh hangat keluar membumbung dari tumpukan sampah itu. Soalnya, katanya sih, kalau dalam proses suhunya naik berarti kayaknya prosesnya benar. Kalau pake metode takakura ini katanya sekitar 30-40°C gitu deh. Kalo pake minicomposter bisa sampe 80-an derajat gitu. Asal jangan terlalu panas sampe kayak kompor tentunya. Kalau suhunya meningkat, itu berarti kawan-kawan bakteri sedang bekerja dengan giat mencerna sampah, mengubahnya menjadi kompos. Teorinya sih gitu.

Yang aku takutkan, itu suhu meningkat gegara bakterinya kepanasan dan kegerahan. Kejemur sih kayaknya nggak. Tapi takutnya mereka kesumpekan. Lubangnya cukup ga ya? Mereka bisa nafas nggak ya?  

Kembali ke motong-memotong sampah. Karena kemarin cukup berhasil (menurutku) dalam hal motong-memotong, cacah-mencacah sampah, jadi hari ini rada pe-de nih, walau belum tau sampah yang didapat hari ini apa. Hwarakadah! Ternyata potongan kulit apel, bonggol apel (eh apa sih, itu yang bekas apel gitu deh), buntut wortel dan… sisa-sisa buah pir! Oh tidak! Huhu, benda-benda basah semua.

Jadilah selama mencacah-cacah banyak cairan yang keluar sampai-sampai menggenang di wastafel. Dan karena cairan yang keluar manis, yang ada sambil motong, sambil dirubung semut-semut kecil. Setelah selesai mencacah, buru-buru mengeluarkan jurus serbuk kayu yang didapat dengan cara memalak meminta baik-baik pada pemilik toko hewan peliharaan. Sesuai dengan petunjuk, sampah yang rada basah diaduk dengan serbuk kayu sampai nggak basah-basah amat. Nah. Kriteria nggak basah-basah amatnya itu gimana? Semoga bener lah.

Sekarang waktunya mengorek lubang baru untuk menimbun sampah. Hmm hmmm. Lalu melihat sampah yang kemarin ditimbun masih berwarna hijau ya? Sempet panik sebentar, kemudian tersadar kalo hari ini baru hari kedua. Huh, tidak ada yang instan sepertinya.

Ya sudah, akhirnya si sayah menuangkan sampah hari ini ke dalam lubang itu dan menimbun. Hmmm… tapi nggak sempurna tertutup nih. Komposnya nyampur sama sampah, jadi ada yang nyembul-nyembul sedikit di permukaan. Ini nggak apa-apa kan ya? Bener ga? Boleh ngga? Sedih deh nggak ada yang bisa aku tanyain. Tapi kayaknya sih masih nggak apa-apa.

Kalau dipikir-pikir hari ini sih rasanya agak sukses dibandingkan kemarin. Euh… tapi ada satu kendala. Aku baru inget kalau tadi ada satu dua biji apel dan/atau pir yang ikut nyemplung ke dalam kompos. Gawat! Itu… kalo… tiba-tiba tumbuh jadi pohon gimana? Ini kan proyek bikin kompos, bukan proyek budidaya apel. Huhuhuhu.

Ah, ternyata bikin kompos ini perlu kesabaran dan ketelatenan yang tinggi ya? Dan kayaknya nasib kompos yang satu ini kok suram banget ya? Hehe, kunamakan saja lah proyek ini Proyek Madesu Takakura, nama panggilannya "Tacchan". Hohoho. Mirip nama orang Jepang betulan.

Oh iya, si sayah mengumpulkan sampah di dua tempat berbeda. Untuk sampah basah ada plastik berwarna hitam, dan untuk sampah daun (termasuk yang kering) di plastik yang bening. Kamsudnya sih biar nggak nyampur dan akhirnya basah semua. Baru di malam hari dikeluarkan dan dicacah satu-satu, ditampung di wadah dari kaleng biskuit bekas. Abis itu baru diobok-obok, dan kalau misalnya masih terlalu basah, serbuk kayunya dituang di sana dan diobok-obok lagi. Setelah selesai semua, kantung plastik dan kaleng dibilas (biar nggak bau dan kalo manis nggak dikerubutin semut), dijemur, dan dipake lagi deh pagi-paginya. Hehehe.. Tadinya kepikir pake kertas koran. Tapi kok, kertas koran jadinya basah dan jadi sampah yang jijay ya? Entah cara ini bener apa nggak. 

Hari ini tidak ada foto juga. Masih maluw. Huhuhu. 





«« catatan lama •  catatan baru »»