Rumah Teman-teman Tacchan

17.04.2008
kategori: praktek, takakura

Wadah kompos, atau "rumah" itu bermacam-macam; sama seperti manusia ya? Ada yang permanen, semi permanen, ada yang terbuat dari bata, balok, bambu, dan lain-lain. Mungkin ada yang rumah panggung, ada juga yang rumahnya di atas air. Hehehe…

Aku sendiri masih pake kardus untuk Takkun (adiknya Tacchan, si Kotak Takakura). Alasannya? Karena di tempatku banyak kotak kardus bekas, dan rasanya sayang banget kalo nggak dipake (tadinya dikumpulin karena untuk simpen-simpen barang…. eeeeeh, barangnya sudah kesimpen semua kok ya kardusnya masih banyak?)

Tapi karena menggunakan kardus, jadinya rumahnya Takkun tidak permanen, alias harus sering pindahan (jadi kayak nomaden). Dan kalo pindahan ya berat! Harus diangkat, ditumplekin… Wah, wah. Cwapek! Pegel!

Nah, kalau mau mencari tempat yang lebih permanen supaya tumpukan komposmu nggak harus terus-terus migrasi dan transmigrasi, ini ada beberapa contoh "rumah permanen" dari teman-teman:

Keranjang Bambu (dari Ibu Christine)
Dulu aku pake kardus juga, tapi karena mesti beberapa kali ganti karena kebocoran dan sobek, aku jadi males pake kardus lagi, ribet. Sekarang aku pake keranjang bambu yang lubangnya kecil2. Sampah tinggal dimasukkan saja ke dalamnya, tanpa bantalan sekam. Bagian atasnya aku tutup dengan tampah bambu juga. Kalo pas dingin aku tutup dengan plastik/karung beras biar hangat. Dengan keranjang bambu ngaduknya juga lebih enak, bisa sampai ke dasar. Keranjang ini aku taruh di depan rumah, diatas saluran got. Jadi kalo ada belatung yg pengen jalan-jalan bisa langsung terjun ke got. Sayangnya, keranjang bambu ini tidak bisa dipakai selamanya karena keranjang bambu ini juga ikut dimakan sama si JR (Jasad Renik).

Keranjang Pakaian (dari Ibu Rita)
Prinsipnya wadah apa saja oke, spanjang sirkulasi udara bagus dan bisa menyantuh sampah ke timbunan kompos terdalam. Aku pake keranjang pakaian yg memiliki lubang kecil2 diseluruh bagiannya jadi gak repot lagi pake dus. Untuk bantalannya: sekam bakar yg bungkus plastik kasa/strimin biasa buat nutup jalusi jendela. Dengan begitu telor lalat yg terbawa sayuran akan terperangkap di dalamnya dan pada saat menetas lalatnya tidak bisa keluar/terbang gitu aja, tetapi terperangkap di dalam bantal itu. Kalo sudah panen kompos, bantalnya dijemur langsung di bawah matahari dan lalat akan mati.

Dinding Bata (a la Ibu Endang)
Di rumah Bu Endang, di salah satu pojok rumahnya, ada tumpukan bata yang membentuk sebuah bak (kira-kira tingginya sepinggang). Batanya nggak permanen. Jadi kalau lagi penuh, batanya bisa ditumpuk lebih tinggi, tapi kalau mau panen, batanya tinggal diangkat dan komposnya diambil; atau kalau isi baknya masih sedikit, batanya nggak usah tinggi-tinggi biar nggak cape mesti nylonjor-nylonjor ke dasar. Mengaduknya menggunakan bilah bambu yang agak panjang. Keuntungan dari dinding/bak bata ini: batanya bisa dipake berulang kali (bahkan sampe tebosen-bosen), tinggi-rendah baknya bisa diatur sesuai dengan isi. Oh iya, bak bata ini ditutup dengan triplek.

 



Berbagi Pengalaman: Ngompos nggak ada ruginya

31.03.2008
kategori: praktek, takakura, sharing

Dari Rita (dengan agak diedit tapi ga banyak kok):

Aku buat kompos juga di rumah, bahkan sudah menjual hasilnya yg di-drop ke tukang bunga keliling. Aku juga ngasi short course ttg pembuatan kompos dari limbah RT. Ada yg bayar ada yg gratis…

…[S]etelah mahfum konsep “aerob”, [Kotak] Takakuranya kembali jadi keranjang baju, soalnya ribet kudu nambahin “dus” yg lebih sering kemakan oleh MOL.

Prinsipnya wadah apa saja oke, sepanjang sirkulasi udara bagus dan bisa menyentuh sampah ke timbunan kompos terdalam. Aku pake keranjang pakaian yang memiliki lubang kecil2 di seluruh bagiannya, jadi gak repot lagi pake dus. Untuk bantalannya: sekam bakar yg bungkus plastik kasa/strimin biasa buat nutup jalusi jendela. Dengan begitu telor lalat yg terbawa sayuran akan terperangkap di dalamnya dan pada saat menetas lalatnya tidak bisa keluar/terbang gitu aja, tetapi terperangkap di dalam bantal. Kalo sudah panen kompos, bantalnya dijemur langsung di bawah sinar matahari, dan lalat akan mati.

MOL aku buat sendiri dari tape atau nasi basi. Tapi aku prefer dari tape soalnya gak bau bacin, udah gitu sampahku juga gak berbau. MOL ini dicampur air lindi dari sludge kompos kita bisa jadi pupuk cair.

Jadi berdasarkan pengalamanku, sekali kita mengolah limbah menjadi kompos, gak akan ada yg terbuang… [S]emuanya jadi bermanfaat: kompos kasarnya bisa jadi makanan cacing yg akhirnya kita bisa punya juga kascing, air lindinya diolah jadi pupuk cair, kompos halusnya bisa dijual. Asyik kan..



Tacchan dan Takkun: Musim Penghujan

26.01.2008
kategori: praktek, takakura

Musim penghujan ini bawa banyak berita buat Tacchan dan Takkun. Tacchan adalah eksperimen Takakura Systemku yang pertama (sejak Juli lalu) dan sudah pensiun (alias sudah dipake, walau kayaknya kualitasnya kurang okeh karena sering salah-salah (yah, bisa dibaca di seluruh penjuru blog ini). Takkun adalah Takakura II, adiknya Tacchan. Nama Takkun ini langsung dapet dikasih dari Pak Takakura lhoooo (aduuuuh, jadi malu. Hehehe. (makasih buat Om Didut yang udah baik hati hihihi)).

Saat ini Takkun usianya baru… yah 3 hari kali, ya? Dan, beda dengan kakaknya yang "anak Musim Kemarau", Takkun ini "anak Musim Penghujan". Hari pertama sempet gagal lho, soalnya ternyata atap di garasi bocor dan langsung ngetes (ngebanjirin) Takkun. Jadi harus diulang lagi.

Masalah sekarang adalah lembab, dingin. DINGIN! DINGIN SEKALI! Ya ampun. Air mandi aja jadi dingin banget, kayak kalo di Puncak gitu. Padahal ini kan Jakarta! Wong bangun pagi aja biasanya udah kepanasan, ini kok malah kedinginan. Takkun, yang masih bayi, juga kedinginan, dan nyari pojokan ruangan di garasi yang selalu hangat tanpa bocor rada susah juga. Tapi udah ketemu. Juga di kotak komposnya, kardusnya dilapis sama kardus lagi dilapis kardus lagi, terus di antara kardus-kardus dipakein tumpukan koran, dan di atas dan di bawah Takkun itu dilapisin sama karung plastik yang banyak.

Hihihi, jadi semacam insulasi darurat. Lumayan hangat sih. Nggak usah pake lampu penghangat model kalo lagi ngegedein pitik ayam. (Eh, tapi ngaruh nggak ya? Apa cuma suges doang?) Jadi pengen tanya sama Pak Takakura, kalo di Jepang gimana. Kan di sana dinginnya sampe turun salju tuh.

Oh iya, harus siap banjir juga nih. Nggak lucu banget kalo pas bangun tiba-tiba Takkun saya sudah hanyut! 



Tacchan: Minggu Keenam

14.09.2007
kategori: praktek, takakura

Ternyata usaha penyelamatan Tacchan agak berhasil. Saya senang sekali. Kotak kompos sudah tidak basah lagi dan jamur juga sudah tidak tampak lagi. Panasnya juga sudah tidak berlebihan dan tidak ngalahin oven emak (yang kemaren sempat meleduk sebentar, tapi ini tidak ada hubungannya sih dengan Tacchan).

Tapi… mungkin karena terlalu panik dan berlebihan, keadaan kotak kompos malah menjadi agak kering. Kering dalam arti, kandungan airnya sepertinya sih kurang dari 30%. Dari Pak Tri, aku dapet tips mengukur kandungan air mudah (tapi tentu tidak akurat titik komanya). Ambil sekepal kompos, kalau dikepal lalu kepalannya dilepaskan:

  1. Komposnya menggumpal (seperti nasi kepal orang Jepang) dan tidak buyar, maka terlalu banyak air. 
  2. Kalau komposnya malah buyar seluruhnya dan rasanya kasar seperti pasir/kerikil, berarti kurang air.
  3. Kalau tidak buyar seluruhnya, tetapi tidak juga menggumpal (di tengah-tengah), maka kandungan airnya cukup.

Nah, karena kemarin sempat panik dan akhirnya terlalu banyak menggunakan serbuk kayu dan kertas koran, akhirnya kondisi di dalam kotak kompos adalah kondisi nomor 2. Tacchan menjadi agak kasar. Solusinya adalah diperciki dengan air (disemprot-semprot), tapi jangan sampai menggenang. Airnya sebaiknya tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa (pHnya seimbang), atau dengan air lindi sedikit juga boleh.

Nah, yang aku takutkan sebenarnya dengan adanya berbagai krisis ini, apakah kualitas Tacchan masih bagus, ataukah malah buruk? Katanya sih tidak ada kompos yang buruk sama sekali, hanya saja komposnya berkualitas rendah. Tapi kan sayang ya kalau Tacchan jadi kompos yang berkualitas rendah (mungkin ini eufemisme dari kompos gagal).

Tapi, kata temanku, harus dilihat dari segi bagusnya juga. Tacchan telah mengajarkan banyak hal buat saya supaya tidak mengulangi kesalahan seperti dulu ya? 

Sudah satu bulan setengah perjalanan pembuatan kompos bersama Tacchan. Entah bagaimana nanti hasilnya. Tetapi sudah banyak yang saya dapatkan dari Tacchan, dan semoga masih bisa terus belajar supaya nanti kompos yang dihasilkan juga bagus dan nggak malu-maluin ya?



Tacchan: Minggu Kelima dan Jamur

7.09.2007
kategori: praktek, takakura

Jamuran. Menyedihkan sekali. Tacchan Jamuran. Kemarin ketika saya pulang dari kantor, saya membuka kardus Tacchan dan ketika menyentuh kardus yang sama sekali lepek dan basah, saya sudah mempunya perasaan yang agak kurang enak. Benar saja. Karung pelapis dan bantal kuyup basah oleh uap, dan jamur putih berbulu memenuhi seluruh permukaan. Setelah dikorek-korek, bahkan sudah sampai ke tengah dan hampir ke bagian dasar. Panik! Panik yang luar biasa. Jamuran! Aduh. Kalau saja jamur pada pupuk kompos dapat dihilangkan dengan obat oles jamur kulit.

Akhirnya saya rontok dan menelepon salah seorang kawan. Dia minta saya cerita dari awal apa sih yang mungkin menyebabkan Tacchan menjadi begitu.  

Dari pembicaraan panjang lebar akhirnya disimpulkan bahwa Tacchan jamuran karena:

  1. Udara panas. Beberapa waktu lalu saya bercerita tentang Tacchan diletakkan di dekat parkiran kendaraan. Sehingga panas dari kendaraan mempengaruhi proses penguraian. Selain itu juga beberapa hari ini matahari seperti sedang buka cabang di mana-mana.
  2. Kelebihan muatan. Terlebih daripada udara panas adalah kesalahan saya sendiri. Tacchan kelebihan muatan. Terlalu banyak sampah yang dimasukkan mengakibatkan bakteri tidak dapat mengimbangi pembusukan.
  3. Muatan yang basah. Basah dan panas. Tempat yang cocok untuk pertumbuhan jamur dan lain-lain. Mungkin kalau saya memasukkan kentang bulat-bulat, pastinya akan cocok tumbuh jadi kentang.

Akhirnya, setelah memindahkan Tacchan ke dalam kardus ketiga dalam dua minggu (bayangkan, harusnya kardus minimal ditukar sebulan sekali bahkan kadang-kadang bisa lebih!) dilakukan tahap-tahap perbaikan, maksudnya berusaha menyelamatkan Tacchan.

  1. Menggunakan kardus baru yang kering.
  2. Mencampur Tacchan dengan: (a) Pupuk baru sebagai starter. Untung saja Emak punya persediaan pupuk yang dulu dibeli dari toko tanaman. Pupuk ini tentu saja kering dan "sehat". Pupuk ini dicampurkan ke dalam Tacchan dan diaduk; (b) Serbuk kayu. Untung juga saya bisa ‘ngembat’ serbuk kayu yang lumayan banyak, mungkin membuat hamster orang nangis karena serbuk kayunya diambil untuk pupuk. Serbuk kayu digunakan untuk membantu penyerapan kelebihan air; (c) Koran bekas. Ini juga untuk membantu penyerapan air supaya tidak berlebihan.
  3. Menghentikan membuang sampah dapur di dalam Tacchan. Sudah cukup banyak sepertinya. Jangan kelebihan muatan lagi.
  4. Berdoa yang banyak.

Aduh, semoga masih bisa terselamatkan. Kata teman saya sih, ini belum sakit fatal kok. Dan sebenarnya jamur itu juga baik untuk kompos toh? Karena kalau membeli bio-aktivator, pasti di dalamnya juga ada senyawa jamur (fungi) gitu.

Sekarang, sambil dagdigdug menunggu, saya mau cari tahu lebih banyak tentang jamur dan ekosistem jamur. 





«« catatan lama •