Kurangi Sampah Sejak Dini

24.05.2008
kategori: praktek, sharing

Ah jadi inget, waktu Green Festival kemarin, saya sempet bicara panjang lebar sama seorang ibu (lupa dari negara mana) dengan dua anak cowok yang imyut-imyut. Salah satu dari sekian banyak topik yang sempet diomongin itu adalah tentang membiasakan anak untuk 3R+1R itu. Nggak cuma di rumah, tapi juga di sekolah (melalui guru dan prakarsa kelompok orang tua murid), anak-anak dibiasakan untuk melakukan praktek 3R+1R ini.

Misalnya:
Sekolahnya kedua anak itu sudah mengharuskan semua anak didik membawa peralatan makan (kotak makan, sendok, garpu, sumpit, dll yang bukan sekali pakai) dan botol minum sendiri dari rumah. Syukur-syukur kalau di dalam kotak makanannya juga sudah ada makanan yang dibawa sendiri dari rumah (para orang tua juga diberikan buklet gizi dan resep-resep mudah, bergizi dan nikmat dari sekolah sebagai anjuran).

Penjaja di kantin atau di luar gerbang sekolah sudah diminta kerjasamanya untuk mewanti-wanti anak didik untuk menggunakan wadah sendiri ketika "jajan".

Sekolah juga mendukung program penghematan kertas, misalnya: untuk lanjut terus menggunakan buku tulis yang masih berhalaman sisa, walau sudah naik kelas. Atau menganjurkan orang tua untuk membeli kertas tulis saja yang kemudian dilubangi dan dimasukkan ke dalam file (kalau loose leaf kemahalan, bisa kertas tulis biasa saja). Hal ini mengurangi mubazir halaman sisa, dan juga masih banyak buku tulis yang "cover"nya terbuat dari bahan yang tidak mudah terdaur ulang secara organik.

Saat ini, sekolah itu sedang memulai kerjasama dengan salah satu alumni sekolah itu, untuk daur ulang kertas. Para murid diajak untuk mengumpulkan kertas bekas untuk kemudian didaur ulang menjadi kertas tulis baru. Kertas ini kemudian akan dijual di koperasi sekolah itu dengan harga yang terjangkau.

Penghematan listrik juga dilakukan dengan cara belajar di luar ketika cuaca cerah. Di bawah rerimbunan pohon dan "saung kecil", terik matahari juga tidak terlalu terasa. Di sekolah, anak-anak juga belajar memilah sampah, menggunakan kembali sampah mereka untuk pelajaran kerajinan tangan, membuat kompos dan menanam bibit untuk pelajaran IPA.  

Masih banyak lagi hal-hal menarik yang saya dengar, tapi kok ya lupa ya? *jeduk-jeduk kepala ke tembok* nanti saya tambahin lagi kalau ingat :)

Bagaimana dengan Anda? Sharing dooong….



Berbagi Pengalaman: Ngompos nggak ada ruginya

31.03.2008
kategori: praktek, takakura, sharing

Dari Rita (dengan agak diedit tapi ga banyak kok):

Aku buat kompos juga di rumah, bahkan sudah menjual hasilnya yg di-drop ke tukang bunga keliling. Aku juga ngasi short course ttg pembuatan kompos dari limbah RT. Ada yg bayar ada yg gratis…

…[S]etelah mahfum konsep “aerob”, [Kotak] Takakuranya kembali jadi keranjang baju, soalnya ribet kudu nambahin “dus” yg lebih sering kemakan oleh MOL.

Prinsipnya wadah apa saja oke, sepanjang sirkulasi udara bagus dan bisa menyentuh sampah ke timbunan kompos terdalam. Aku pake keranjang pakaian yang memiliki lubang kecil2 di seluruh bagiannya, jadi gak repot lagi pake dus. Untuk bantalannya: sekam bakar yg bungkus plastik kasa/strimin biasa buat nutup jalusi jendela. Dengan begitu telor lalat yg terbawa sayuran akan terperangkap di dalamnya dan pada saat menetas lalatnya tidak bisa keluar/terbang gitu aja, tetapi terperangkap di dalam bantal. Kalo sudah panen kompos, bantalnya dijemur langsung di bawah sinar matahari, dan lalat akan mati.

MOL aku buat sendiri dari tape atau nasi basi. Tapi aku prefer dari tape soalnya gak bau bacin, udah gitu sampahku juga gak berbau. MOL ini dicampur air lindi dari sludge kompos kita bisa jadi pupuk cair.

Jadi berdasarkan pengalamanku, sekali kita mengolah limbah menjadi kompos, gak akan ada yg terbuang… [S]emuanya jadi bermanfaat: kompos kasarnya bisa jadi makanan cacing yg akhirnya kita bisa punya juga kascing, air lindinya diolah jadi pupuk cair, kompos halusnya bisa dijual. Asyik kan..