Tacchan dan Takkun: Musim Penghujan

26.01.2008
kategori: praktek, takakura

Musim penghujan ini bawa banyak berita buat Tacchan dan Takkun. Tacchan adalah eksperimen Takakura Systemku yang pertama (sejak Juli lalu) dan sudah pensiun (alias sudah dipake, walau kayaknya kualitasnya kurang okeh karena sering salah-salah (yah, bisa dibaca di seluruh penjuru blog ini). Takkun adalah Takakura II, adiknya Tacchan. Nama Takkun ini langsung dapet dikasih dari Pak Takakura lhoooo (aduuuuh, jadi malu. Hehehe. (makasih buat Om Didut yang udah baik hati hihihi)).

Saat ini Takkun usianya baru… yah 3 hari kali, ya? Dan, beda dengan kakaknya yang "anak Musim Kemarau", Takkun ini "anak Musim Penghujan". Hari pertama sempet gagal lho, soalnya ternyata atap di garasi bocor dan langsung ngetes (ngebanjirin) Takkun. Jadi harus diulang lagi.

Masalah sekarang adalah lembab, dingin. DINGIN! DINGIN SEKALI! Ya ampun. Air mandi aja jadi dingin banget, kayak kalo di Puncak gitu. Padahal ini kan Jakarta! Wong bangun pagi aja biasanya udah kepanasan, ini kok malah kedinginan. Takkun, yang masih bayi, juga kedinginan, dan nyari pojokan ruangan di garasi yang selalu hangat tanpa bocor rada susah juga. Tapi udah ketemu. Juga di kotak komposnya, kardusnya dilapis sama kardus lagi dilapis kardus lagi, terus di antara kardus-kardus dipakein tumpukan koran, dan di atas dan di bawah Takkun itu dilapisin sama karung plastik yang banyak.

Hihihi, jadi semacam insulasi darurat. Lumayan hangat sih. Nggak usah pake lampu penghangat model kalo lagi ngegedein pitik ayam. (Eh, tapi ngaruh nggak ya? Apa cuma suges doang?) Jadi pengen tanya sama Pak Takakura, kalo di Jepang gimana. Kan di sana dinginnya sampe turun salju tuh.

Oh iya, harus siap banjir juga nih. Nggak lucu banget kalo pas bangun tiba-tiba Takkun saya sudah hanyut! 



Acara: Consarety di Sanur

14.01.2008
kategori: praktek, berita

Tanggal 12 Januari yang lalu, di SMA Santa Ursula (Sanur), Jalan Pos (almamater saya lhoooo), diadakan acara Consarety (Conserving Environment through Science and Art for Humanity). Seneng banget bisa balik lagi ke alma mater en ngeliat adik-adik kelas begitu antusias. Acara ini juga jadi ajang temu kangen sama guru-guru yang dulu pernah mengajar saya.

Kata salah satu guru, acara pameran dan bazaar Consarety SMA Sanur ini sebenernya adalah lanjutan dari acara Tanam Seribu Pohon yang belom lama ini dilaksanakan oleh Sanur bagi lingkungan sekitarnya. Tahun lalu, mereka juga pernah melakukan Gerak Jalan Membersihkan Lingkungan dan Bazaar Lingkungan Hidup (bersama dengan TK, SD, dan SMPnya juga).

Aku sih kebetulan aja ke sana ngebantu salah satu ruang Pengolahan Sampah. Di ruang kami itu, ada penjelasan mengenai pembuatan kompos padat, pengolahan sampah anorganik, praktek origami, dan lomba memilah sampah.

Tapi saya takjub banget sama apa yang telah dicapai oleh adik-adik kelas. Melalui prakarsa dan semangat murid-murid sekolah itu sendiri, dan dengan dorongan dari guru serta suster-suster Ursulin, kentara banget hasil yang telah dicapai selama beberapa tahun terakhir ini. Mulai dari pemilahan sampah secara aktif di lingkungan sekolah (yang memang sejak dulu sampai sekarang selalu asri dan bersih, sampai-sampai di daerah WC dan wastafel pun bisa tenang duduk di lantai dan ngobrol), hingga penelitian sumber cahaya murah dan aman, praktek pembuatan kompos cair, biopori, daur ulang sampah styrofoam, sampai pupuk cair a la pipis kelinci pun ada. Bahkan ada karya seni maha gede banget yang dibuat dari kaleng minuman ringan yang dipotong kecil-kecil dan dipilin. Sempet nanya, "Bikin ginian berapa tangan yang jadi korban kebeset dan kebeler?"

"Wah, nggak terhitung dengan jari deh, kak!" jawab mereka. Cerdas! Hehehe.  

Banyak banget hikmah yang saya dapat, termasuk dari pentas seni yang digelar oleh kelompok teater SMA Sanur. Ceritanya sederhana, mungkin bisa juga masuk kategori klise (tapi dalam arti bagus lho, bukan jelek), seperti mungkin menonton komedi romantis yang nggak masuk nominasi Academy Awards tapi tetap memiliki pesan moral yang nggak kalah pentingnya.

Lingkungan memang sedang sedih, Ibu Bumi mungkin sedang sedih, tapi mungkin bisa menjadi sedikit bahagia melihat antusiasme generasi muda ini untuk menyelamatkannya.

Oh iya, kaos panitianya bagus lho! 

P.S: Foto-foto dan ilmu-ilmu (ciyeh, serasa Jurus) yang saya dapat nanti akan saya catat lagi di sini. Di posting-an lain ya. 



Tacchan: Minggu Keenam

14.09.2007
kategori: praktek, takakura

Ternyata usaha penyelamatan Tacchan agak berhasil. Saya senang sekali. Kotak kompos sudah tidak basah lagi dan jamur juga sudah tidak tampak lagi. Panasnya juga sudah tidak berlebihan dan tidak ngalahin oven emak (yang kemaren sempat meleduk sebentar, tapi ini tidak ada hubungannya sih dengan Tacchan).

Tapi… mungkin karena terlalu panik dan berlebihan, keadaan kotak kompos malah menjadi agak kering. Kering dalam arti, kandungan airnya sepertinya sih kurang dari 30%. Dari Pak Tri, aku dapet tips mengukur kandungan air mudah (tapi tentu tidak akurat titik komanya). Ambil sekepal kompos, kalau dikepal lalu kepalannya dilepaskan:

  1. Komposnya menggumpal (seperti nasi kepal orang Jepang) dan tidak buyar, maka terlalu banyak air. 
  2. Kalau komposnya malah buyar seluruhnya dan rasanya kasar seperti pasir/kerikil, berarti kurang air.
  3. Kalau tidak buyar seluruhnya, tetapi tidak juga menggumpal (di tengah-tengah), maka kandungan airnya cukup.

Nah, karena kemarin sempat panik dan akhirnya terlalu banyak menggunakan serbuk kayu dan kertas koran, akhirnya kondisi di dalam kotak kompos adalah kondisi nomor 2. Tacchan menjadi agak kasar. Solusinya adalah diperciki dengan air (disemprot-semprot), tapi jangan sampai menggenang. Airnya sebaiknya tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa (pHnya seimbang), atau dengan air lindi sedikit juga boleh.

Nah, yang aku takutkan sebenarnya dengan adanya berbagai krisis ini, apakah kualitas Tacchan masih bagus, ataukah malah buruk? Katanya sih tidak ada kompos yang buruk sama sekali, hanya saja komposnya berkualitas rendah. Tapi kan sayang ya kalau Tacchan jadi kompos yang berkualitas rendah (mungkin ini eufemisme dari kompos gagal).

Tapi, kata temanku, harus dilihat dari segi bagusnya juga. Tacchan telah mengajarkan banyak hal buat saya supaya tidak mengulangi kesalahan seperti dulu ya? 

Sudah satu bulan setengah perjalanan pembuatan kompos bersama Tacchan. Entah bagaimana nanti hasilnya. Tetapi sudah banyak yang saya dapatkan dari Tacchan, dan semoga masih bisa terus belajar supaya nanti kompos yang dihasilkan juga bagus dan nggak malu-maluin ya?



Tacchan: Minggu Kelima dan Jamur

7.09.2007
kategori: praktek, takakura

Jamuran. Menyedihkan sekali. Tacchan Jamuran. Kemarin ketika saya pulang dari kantor, saya membuka kardus Tacchan dan ketika menyentuh kardus yang sama sekali lepek dan basah, saya sudah mempunya perasaan yang agak kurang enak. Benar saja. Karung pelapis dan bantal kuyup basah oleh uap, dan jamur putih berbulu memenuhi seluruh permukaan. Setelah dikorek-korek, bahkan sudah sampai ke tengah dan hampir ke bagian dasar. Panik! Panik yang luar biasa. Jamuran! Aduh. Kalau saja jamur pada pupuk kompos dapat dihilangkan dengan obat oles jamur kulit.

Akhirnya saya rontok dan menelepon salah seorang kawan. Dia minta saya cerita dari awal apa sih yang mungkin menyebabkan Tacchan menjadi begitu.  

Dari pembicaraan panjang lebar akhirnya disimpulkan bahwa Tacchan jamuran karena:

  1. Udara panas. Beberapa waktu lalu saya bercerita tentang Tacchan diletakkan di dekat parkiran kendaraan. Sehingga panas dari kendaraan mempengaruhi proses penguraian. Selain itu juga beberapa hari ini matahari seperti sedang buka cabang di mana-mana.
  2. Kelebihan muatan. Terlebih daripada udara panas adalah kesalahan saya sendiri. Tacchan kelebihan muatan. Terlalu banyak sampah yang dimasukkan mengakibatkan bakteri tidak dapat mengimbangi pembusukan.
  3. Muatan yang basah. Basah dan panas. Tempat yang cocok untuk pertumbuhan jamur dan lain-lain. Mungkin kalau saya memasukkan kentang bulat-bulat, pastinya akan cocok tumbuh jadi kentang.

Akhirnya, setelah memindahkan Tacchan ke dalam kardus ketiga dalam dua minggu (bayangkan, harusnya kardus minimal ditukar sebulan sekali bahkan kadang-kadang bisa lebih!) dilakukan tahap-tahap perbaikan, maksudnya berusaha menyelamatkan Tacchan.

  1. Menggunakan kardus baru yang kering.
  2. Mencampur Tacchan dengan: (a) Pupuk baru sebagai starter. Untung saja Emak punya persediaan pupuk yang dulu dibeli dari toko tanaman. Pupuk ini tentu saja kering dan "sehat". Pupuk ini dicampurkan ke dalam Tacchan dan diaduk; (b) Serbuk kayu. Untung juga saya bisa ‘ngembat’ serbuk kayu yang lumayan banyak, mungkin membuat hamster orang nangis karena serbuk kayunya diambil untuk pupuk. Serbuk kayu digunakan untuk membantu penyerapan kelebihan air; (c) Koran bekas. Ini juga untuk membantu penyerapan air supaya tidak berlebihan.
  3. Menghentikan membuang sampah dapur di dalam Tacchan. Sudah cukup banyak sepertinya. Jangan kelebihan muatan lagi.
  4. Berdoa yang banyak.

Aduh, semoga masih bisa terselamatkan. Kata teman saya sih, ini belum sakit fatal kok. Dan sebenarnya jamur itu juga baik untuk kompos toh? Karena kalau membeli bio-aktivator, pasti di dalamnya juga ada senyawa jamur (fungi) gitu.

Sekarang, sambil dagdigdug menunggu, saya mau cari tahu lebih banyak tentang jamur dan ekosistem jamur. 



Tacchan: Ulang Bulan dan Krisis

30.08.2007
kategori: praktek, takakura

Tanggal ini satu bulan yang lalu, perjalanan Tacchan si Kotak Takakura dimulai. Tidak terasa sudah satu bulan umurnya ya? Banyak hal yang sudah dilewati, banyak pelajaran yang sudah didapat, dan banyak hal yang harus diperbaiki. Memang yang namanya momong anak itu kayak gitu ya? Ada kalanya dia rewel, ada kalanya dia baik dan tidak rewel. Hehe, padahal cuma kompos doang, tapi kok ya jadi seperti anak sendiri.

Minggu kelima, minggu terakhir dalam bulan. Heboh nian. Karena masalah kepanasan yang waktu itu, akhirnya banyak masalah timbul. Tacchan menjadi sangat basah dan harus ganti kardus lagi (padahal minggu lalu sudah ganti kardus). Masalahnya lagi, rembesannya mulai membasahi lantai garasi. Untung saja belum ada bau yang keluar (baik dari dalam kardus maupun dari luar kardus), padahal udah ada pete loh di dalam sana. Kardus harus diganti, pelapis harus diganti, bahkan kain yang menutupi kardus menjadi basah dan harus dijemur.

Untuk menanggulangi basah, teman saya menganjurkan untuk memasukkan kertas koran ke dalam Tacchan. Kertas koran yang sudah disobek dan diremas baik untuk menyerap air dan juga membuat kantong-kantong udara kecil di dalam kotak. Sembari diaduk terus, kertas koran ini bisa membantu mengatur suhu di dalam kotak sehingga tidak terlalu panas. Dan, tidak seperti serbuk kayu yang harus beli dulu… siapa sih yang nggak punya kertas koran ya? Dan, kertas koran juga bisa jadi kompos loh!

Biasanya kalau tidak ada sampah yang dibuang ke dalam Tacchan, kompos tidak diaduk setiap hari (cukup tiga hari sekali), tapi karena keadaan krisis ini, Tacchan diperiksa keadaannya dan diaduk setiap hari (malam hari). Semoga pengadukan yang lebih sering ini nggak berlebihan, ya.

Sampai hari ini, suhu di dalam Tacchan tidak hanya hangat, tetapi panas. Kalau hangat itu lazim dan malah bagus. Kalau sampai terlalu panas hingga berair… oh tidak! 

Selain itu, aku baru tahu kalau terlalu banyak kulit jeruk tidak baik untuk Tacchan! Terlalu banyak kulit jeruk bisa merusak keseimbangan pH (karena kulit jeruk itu masam/asam/acidic). Ternyata oh ternyata ya?





«« catatan lama •  catatan baru »»