Tacchan: Minggu Keenam

14.09.2007
kategori: praktek, takakura

Ternyata usaha penyelamatan Tacchan agak berhasil. Saya senang sekali. Kotak kompos sudah tidak basah lagi dan jamur juga sudah tidak tampak lagi. Panasnya juga sudah tidak berlebihan dan tidak ngalahin oven emak (yang kemaren sempat meleduk sebentar, tapi ini tidak ada hubungannya sih dengan Tacchan).

Tapi… mungkin karena terlalu panik dan berlebihan, keadaan kotak kompos malah menjadi agak kering. Kering dalam arti, kandungan airnya sepertinya sih kurang dari 30%. Dari Pak Tri, aku dapet tips mengukur kandungan air mudah (tapi tentu tidak akurat titik komanya). Ambil sekepal kompos, kalau dikepal lalu kepalannya dilepaskan:

  1. Komposnya menggumpal (seperti nasi kepal orang Jepang) dan tidak buyar, maka terlalu banyak air. 
  2. Kalau komposnya malah buyar seluruhnya dan rasanya kasar seperti pasir/kerikil, berarti kurang air.
  3. Kalau tidak buyar seluruhnya, tetapi tidak juga menggumpal (di tengah-tengah), maka kandungan airnya cukup.

Nah, karena kemarin sempat panik dan akhirnya terlalu banyak menggunakan serbuk kayu dan kertas koran, akhirnya kondisi di dalam kotak kompos adalah kondisi nomor 2. Tacchan menjadi agak kasar. Solusinya adalah diperciki dengan air (disemprot-semprot), tapi jangan sampai menggenang. Airnya sebaiknya tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa (pHnya seimbang), atau dengan air lindi sedikit juga boleh.

Nah, yang aku takutkan sebenarnya dengan adanya berbagai krisis ini, apakah kualitas Tacchan masih bagus, ataukah malah buruk? Katanya sih tidak ada kompos yang buruk sama sekali, hanya saja komposnya berkualitas rendah. Tapi kan sayang ya kalau Tacchan jadi kompos yang berkualitas rendah (mungkin ini eufemisme dari kompos gagal).

Tapi, kata temanku, harus dilihat dari segi bagusnya juga. Tacchan telah mengajarkan banyak hal buat saya supaya tidak mengulangi kesalahan seperti dulu ya? 

Sudah satu bulan setengah perjalanan pembuatan kompos bersama Tacchan. Entah bagaimana nanti hasilnya. Tetapi sudah banyak yang saya dapatkan dari Tacchan, dan semoga masih bisa terus belajar supaya nanti kompos yang dihasilkan juga bagus dan nggak malu-maluin ya?



Tacchan: Minggu Kelima dan Jamur

7.09.2007
kategori: praktek, takakura

Jamuran. Menyedihkan sekali. Tacchan Jamuran. Kemarin ketika saya pulang dari kantor, saya membuka kardus Tacchan dan ketika menyentuh kardus yang sama sekali lepek dan basah, saya sudah mempunya perasaan yang agak kurang enak. Benar saja. Karung pelapis dan bantal kuyup basah oleh uap, dan jamur putih berbulu memenuhi seluruh permukaan. Setelah dikorek-korek, bahkan sudah sampai ke tengah dan hampir ke bagian dasar. Panik! Panik yang luar biasa. Jamuran! Aduh. Kalau saja jamur pada pupuk kompos dapat dihilangkan dengan obat oles jamur kulit.

Akhirnya saya rontok dan menelepon salah seorang kawan. Dia minta saya cerita dari awal apa sih yang mungkin menyebabkan Tacchan menjadi begitu.  

Dari pembicaraan panjang lebar akhirnya disimpulkan bahwa Tacchan jamuran karena:

  1. Udara panas. Beberapa waktu lalu saya bercerita tentang Tacchan diletakkan di dekat parkiran kendaraan. Sehingga panas dari kendaraan mempengaruhi proses penguraian. Selain itu juga beberapa hari ini matahari seperti sedang buka cabang di mana-mana.
  2. Kelebihan muatan. Terlebih daripada udara panas adalah kesalahan saya sendiri. Tacchan kelebihan muatan. Terlalu banyak sampah yang dimasukkan mengakibatkan bakteri tidak dapat mengimbangi pembusukan.
  3. Muatan yang basah. Basah dan panas. Tempat yang cocok untuk pertumbuhan jamur dan lain-lain. Mungkin kalau saya memasukkan kentang bulat-bulat, pastinya akan cocok tumbuh jadi kentang.

Akhirnya, setelah memindahkan Tacchan ke dalam kardus ketiga dalam dua minggu (bayangkan, harusnya kardus minimal ditukar sebulan sekali bahkan kadang-kadang bisa lebih!) dilakukan tahap-tahap perbaikan, maksudnya berusaha menyelamatkan Tacchan.

  1. Menggunakan kardus baru yang kering.
  2. Mencampur Tacchan dengan: (a) Pupuk baru sebagai starter. Untung saja Emak punya persediaan pupuk yang dulu dibeli dari toko tanaman. Pupuk ini tentu saja kering dan "sehat". Pupuk ini dicampurkan ke dalam Tacchan dan diaduk; (b) Serbuk kayu. Untung juga saya bisa ‘ngembat’ serbuk kayu yang lumayan banyak, mungkin membuat hamster orang nangis karena serbuk kayunya diambil untuk pupuk. Serbuk kayu digunakan untuk membantu penyerapan kelebihan air; (c) Koran bekas. Ini juga untuk membantu penyerapan air supaya tidak berlebihan.
  3. Menghentikan membuang sampah dapur di dalam Tacchan. Sudah cukup banyak sepertinya. Jangan kelebihan muatan lagi.
  4. Berdoa yang banyak.

Aduh, semoga masih bisa terselamatkan. Kata teman saya sih, ini belum sakit fatal kok. Dan sebenarnya jamur itu juga baik untuk kompos toh? Karena kalau membeli bio-aktivator, pasti di dalamnya juga ada senyawa jamur (fungi) gitu.

Sekarang, sambil dagdigdug menunggu, saya mau cari tahu lebih banyak tentang jamur dan ekosistem jamur. 



Tacchan: Ulang Bulan dan Krisis

30.08.2007
kategori: praktek, takakura

Tanggal ini satu bulan yang lalu, perjalanan Tacchan si Kotak Takakura dimulai. Tidak terasa sudah satu bulan umurnya ya? Banyak hal yang sudah dilewati, banyak pelajaran yang sudah didapat, dan banyak hal yang harus diperbaiki. Memang yang namanya momong anak itu kayak gitu ya? Ada kalanya dia rewel, ada kalanya dia baik dan tidak rewel. Hehe, padahal cuma kompos doang, tapi kok ya jadi seperti anak sendiri.

Minggu kelima, minggu terakhir dalam bulan. Heboh nian. Karena masalah kepanasan yang waktu itu, akhirnya banyak masalah timbul. Tacchan menjadi sangat basah dan harus ganti kardus lagi (padahal minggu lalu sudah ganti kardus). Masalahnya lagi, rembesannya mulai membasahi lantai garasi. Untung saja belum ada bau yang keluar (baik dari dalam kardus maupun dari luar kardus), padahal udah ada pete loh di dalam sana. Kardus harus diganti, pelapis harus diganti, bahkan kain yang menutupi kardus menjadi basah dan harus dijemur.

Untuk menanggulangi basah, teman saya menganjurkan untuk memasukkan kertas koran ke dalam Tacchan. Kertas koran yang sudah disobek dan diremas baik untuk menyerap air dan juga membuat kantong-kantong udara kecil di dalam kotak. Sembari diaduk terus, kertas koran ini bisa membantu mengatur suhu di dalam kotak sehingga tidak terlalu panas. Dan, tidak seperti serbuk kayu yang harus beli dulu… siapa sih yang nggak punya kertas koran ya? Dan, kertas koran juga bisa jadi kompos loh!

Biasanya kalau tidak ada sampah yang dibuang ke dalam Tacchan, kompos tidak diaduk setiap hari (cukup tiga hari sekali), tapi karena keadaan krisis ini, Tacchan diperiksa keadaannya dan diaduk setiap hari (malam hari). Semoga pengadukan yang lebih sering ini nggak berlebihan, ya.

Sampai hari ini, suhu di dalam Tacchan tidak hanya hangat, tetapi panas. Kalau hangat itu lazim dan malah bagus. Kalau sampai terlalu panas hingga berair… oh tidak! 

Selain itu, aku baru tahu kalau terlalu banyak kulit jeruk tidak baik untuk Tacchan! Terlalu banyak kulit jeruk bisa merusak keseimbangan pH (karena kulit jeruk itu masam/asam/acidic). Ternyata oh ternyata ya?



Tacchan: Minggu Keempat

26.08.2007
kategori: praktek, takakura

Setelah minggu ketiga dilalui dengan sedikit masalah (minggu ketiga itu minggu tenang, sampah yang dimasukkan jenisnya standar, jumlahnya juga nggak banyak), Tacchan sang Kerangjang Takakura dan saya memasuki minggu keempat yang sarat cobaan.

Hujan deras benar-benar bikin saya sadar akan banyaknya lubang bocor di rumah, alhasil Tacchan pun harus diungsikan ke tempat yang tidak bocor. Ini karena Tacchan musuhan sekali dengan yang namanya sinar matahari langsung atau hujan. Jadi, harus dipindah ke tempat yang teduh. Oke. Akhirnya dipindah ke pojok yang lebih jauh.

Dari segi sampah yang dimasukkan pun Tacchan sudah naik kelas. Tiga minggu pertama, Tacchan hanya mendapat sampah mentah, misalnya daun-daun yang berguguran, sayur mayur sisa, kulit buah, atau daging buah sisa. Ya hitung-hitung saya sebagai ibunda Tacchan latihan dulu lah. Mosok dengan sayur sisa aja udah gagal mau coba yang lain. Syukurlah ternyata tiga minggu itu terlewati dengan lancar.

Oleh karena itu, mulai minggu keempat saya memberanikan diri untuk memberikan sampah dapur yang telah diolah, misalnya nasi, sayur yang sudah dimasak, bahkan roti isi basi. Ini yang bikin aku kebat-kebit ketakutan. Apakah nanti Tacchan akan sakit? Ada beberapa hal yang tetap harus dicatat:

  1. Makanan yang mengandung minyak atau santan harus dibilas sampai bersih. Minyak dan santan mempercepat pembusukan dan menghalangi fermentasi. Tacchan bisa sakit — bisa bau dan bisa rusak.
  2. Makanan tetap harus dicacah supaya Tacchan bisa dengan gampang mencerna.menjalankan proses fermentasi.

 Selain itu, Tacchan juga pindah kardus. Kardus yang terdahulu sepertinya sudah agak lapuk (karena memang pada awalnya sudah menggunakan kardus lapuk sih), jadi harus segera dipindah ke kardus baru sebelum kardusnya habis dimakan oleh bakteri-bakteri yang kerajinan itu. Kalau kardusnya habis dimakan, nanti kan isinya buyar semua. Proses pemindahan kardus ini sempat membuat bingung, karena nggak punya serokan atau sendok guedeeee gitu. Tapi akhirnya dengan memberanikan diri, Tacchan dijungkirbalikkan ke dalam kardus yang baru.

Letak bantal sekam juga diubah. Yang tadinya di bawah sekarang dijadikan penutup atas, yang tadinya di atas, dipindah ke bawah. Ini juga menolong proses sirkulasi dan penyaringan.

Akan tetapi, usaha untuk melindungi Tacchan dari hujan malah berakibat buruk. Pojok tempat Tacchan dipindahkan itu dekat sekali dengan kendaraan yang digunakan keluarga. Alhasil, panas dari mesin kendaraan sedikit banyak mempengaruhi suhu Tacchan.

Tacchan menjadi panas sekali, mungkin lebih dari 40°C yang menjadi batas maksimal normal (mungkin boleh lebih sedikit sih, tapi ini panas sekali). Aku baru tahu kenapa Tacchan harus diletakkan di tempat teduh. Panas yang amat-sangat ini sangat membantu bakteri supaya semakin giat bekerja. Alhasil cacahan roti, nasi, dan kulit pete yang baru dimasukkan sehari dua hari yang lalu sudah mulai coklat dan menjadi butiran pasir sedikit-demi-sedikit.

Karena proses fermentasi terlalu cepat, Tacchan menghasilkan uap air yang banyak dan meresap sampai keluar kardus. Aku rasa, kalau tidak cepat-cepat dipindahkan, Tacchan bisa menghasilkan air lindi deh. Dan itu bukan hal yang seharusnya dihasilkan oleh Keranjang Takakura.

Sepertinya, itulah mengapa metode pembuatan kompos yang singkat-singkat waktunya (misalnya dengan menggunakan mini-composter, yang notabene cuma butuh 5 hari-an… bandingkan dengan Tacchan yang satu bulan-an) menghasilkan lindi.

Akhirnya Tacchan dipindah lagi ke tempat semula, dan aku sedang negosiasi ke emak supaya Tacchan bisa masuk ke dalam rumah (karena sudah terbukti bahwa Tacchan tidak menghasilkan bau). 

Umur Tacchan sudah hampir satu bulan, semoga di minggu kelima tidak begitu ada masalah yang bikin orang sport jantung.



Tacchan: Minggu Ketiga

15.08.2007
kategori: praktek, takakura

Sudah masuk minggu ketiga lebih setengah minggu. Saya sudah nggak begitu panik lagi sih, karena kayaknya Tacchan, si Kompos Takakura milikku, baik-baik saja. Hanya saja, pas akhir pekan kemarin, Tacchan mendapat amat sangat banyak sekali. Maklum, emakku waktu kemarin bikin tumpeng untuk ulang tahun dua tante. Jadilah sampah dapur melimpah ruah, sesuai dengan ukuran tampah yang gede banget.

Baru kali ini Tacchan isinya penuh begitu. Tapi sepertinya bakteri-bakteri itu sudah terbiasa dan aktif sekali. Karena baru selang dua hari, bahkan wortel yang keras itu sudah berubah menjadi debu-debu gitu.

Sekarang, masalah yang muncul adalah mengganti kardus Tacchan dengan kardus baru. Karena bakteri itu kan nggak cuma mengunyah-ngunyah sampah, tetapi juga dinding kardus ya. Apalagi kalau kandungan air pada komposnya juga turut membantu pelapukan dinding kardus itu. Dinding kardus itu sekarang sudah mulai terlihat tanda-tanda "keropos", sudah tidak sekokoh waktu itu lagi. Jadi sebelum kardusnya jebol dan kompos serta sampah berhamburan ke mana-mana, kardus harus segera diganti. Memang sih katanya sebulanan gitu harus ganti ya? Kadang-kadang tahan lebih dari satu bulan sih, tergantung dengan seberapa pemilihnya sang bakteri itu.

Mungkin kardus Tacchan akan aku ganti minggu depan. Semoga saja tahan sampai minggu depan, sampai bisa menemukan kardus lagi.  





«« catatan lama •  catatan baru »»