Yagitudeh: Bergadang dengan kopi, berkebun dengan kopi

25.08.2008
kategori: curhat, teori, praktek, kompos

Sepertinya udah lama banget yah, saya membuat blog ini jadi blog yang terbengkalai. Salah satunya karena sibuk, salah satunya karena saya yang terlalu sering "tar-sok-tar-sok" (artinya entar, besok, entar, besok) — ditunda-tunda. Akhirnya sehari jadi seminggu jadi sebulan. Em… tapi…

Sibuk antara pekerjaan kantor, tugas negara, pekerjaan sampingan, akhirnya berbuah menjadi banyak kopi juga. Ampas kopi yang menggunung karena ternyata saya sudah tidak bisa lagi bergadang tanpa kopi (dulu masih bisa, minum air saja, sekarang udah tua kali ya?). Sekarang kopi dan teh jadi teman setia. Berlayar dengan Kapal Api, berburu Singa, minum kopi dari Bali, Bengkulu, Bandung… semua dilakukan dari sebuah ruang kecil di Jakarta.  

Apa yang bisa dilakukan dengan kopi yang banyak itu? Sebenarnya saya mulai mengetahui kalau bubuk kopi itu baik untuk berkebun sejak beberapa bulan yang lalu, tapi belum sempat (males sih sebenernya) untuk praktek dan ngumpulin (memang, kebiasaan buruk buang-buang masih sering juga).

Jadi apa saja yang bisa dilakukan dengan kopi?

Kopi, sumber nitrogen yang baik
Menjaga keseimbangan antara karbon dan nitrogen dalam sebuah kompos adalah wajib. Kebanyakan dari sampah organik adalah sumber karbon, dan kadang-kadang kalau kurang nitrogen komposnya malah lama jadinya. Terlalu banyak nitrogen juga tidak baik sih, karena akhirnya "komposnya" akan mati. Tapi dengan dosis yang baik, nitrogen membantu membuat kebun bahagia. :) Salah satu sumber nitrogen yang baik… kopi!

Langsung ke kebun
Kandungan nitrogen pada lapisan tanah kebun dapat hilang apabila terlalu sering diairi (baik itu karena disiram atau hujan). Menaburkan sedikit lapisan ampas kopi sebelum menyiram atau sebelum hujan (yah ini mungkin harus rajin-rajin liat ramalan cuaca) membantu menjaga kandungan nitrogen. Takarannya mungkin sekitar 45g untuk 1m².

Kalau takut kebanyakan (kebanyakan nitrogen bisa membuat tanah terlalu asam, nggak bagus juga ya?) campur dengan bahan karbon (misalnya sisa daun yang dihancurkan, dll).

Atau, ambil sedikit ampas kopi dan larutkan dalam air supaya bisa menjadi (sumplemen) pupuk cair juga. Takarannya kurang lebih 10 gram untuk 1 liter air, kocok. Kalau airnya terlalu panas atau terlalu dingin biarkan dulu sehingga mencapai suhu ruang. Semprotkan seperti biasa.

Gunakan untuk dasar pot-pot bunga untuk menghalau berbagai jenis serangga/hewan menyebalkan :)

Masukkan ke dalam kotak kompos
Selain membuat kotak kompos menjadi agak "wangi kopi", kopi atau teh bisa membantu menyumbang nitrogen ke dalam kotak kompos. Hati-hati tapinya, jangan sampai nitrogennya kebanyakan. Untuk belajar lebih jauh mengenai rasio karbon dan nitrogen yang baik, bisa coba klik di sini.

Tautan lain:
- Coffee and Gardening @ Sustainable Enterprises
- Grounds for Gardening @ Purdue University
- Artikel-artikel mengenai nitrogen dan karbon
- Rasio C:N @ Composting 101



Yagitudeh: Bau?

22.04.2008
kategori: teori, praktek, faq, kompos

Daging, sea food, dan sejenisnya… bagus untuk dikomposkan, sebab kandungan nutrisinya banyak (proteinnya bagus buat pohon lho). Tapi… bau. Belum busuk aja udah bau. Selain itu masih banyak lagi yang menyebabkan wadah kompos mengeluarkan bau-bau yang nggak asik banget. Ini ada semacam check-list yang mungkin bisa membantu menanggulangi bau barang sedikit.

Sampah dapurku ada daging, sea food, dan eksoskeleton udang (kepala, cangkang, dll), atau sejenisnya.
Sampah-sampah jenis ini, sebelum dicacah, bisa direbus barang sebentar. Air rebusannya juga nggak usah banyak kok. Asal rebus sedikit, siram dengan air dingin, tiriskan, cacah. Habis itu masukkan deh ke dalam wadah kompos dan perlakukan seperti layaknya sampah dapur lainnya (aduk dengan bioaktivator, starter, atau sejenisnya).

Masih bau juga?

Asal baunya nggak parah banget sih… ya itu wajarlah. Kalau pake metode takakura sih harusnya nggak bau-bau amat karena baunya terserap oleh aktivator (pupuk kompos jadi). Kalau pake mini-composter mungkin iya. Kalau masih dalam batas normal, oke lah.

Untuk bau dan keadaan normal, gunakan "pewangi" alam seperti daun suji, daun pandan, atau kulit jeruk. Tapi, kalau sudah tidak normal lagi…

Baunya udah masuk Kategori Ya Ampun Amit-amit!
Periksa apakah tumpukan komposnya terlalu basah/berair.
Kalau terlalu basah atau berair, memang akhirnya membuat bau yang tidak enak ini keluar. Belum lagi nanti blenyeh dan berlendir. 

Kalau yang seperti ini kayaknya tidak bisa deh pake daun wangi atau kulit jeruk. Karena ini masalah air yang harus diserap atau dikeluarkan. Gunakan media kaya karbon untuk menyerap kelebihan air ini. Kalau sudah terserap, baunya bisa berkurang. Di toko tumbuhan banyak dijual "deodoran kompos" bahannya ya karbon aktif (mirip bubuk arang gitu). Dia yang akan menyerap kelebihan air ini.  

Selain itu si deodoran ini juga ada bahan aktif penetralisir bau (tapi tentu aja mungkin nggak 100%). Selanjutnya, penggunaan deodoran ini bisa dicampurkan sekam bakar, serbuk gergaji atau serutan kayu.

Ini sejauh yang saya tau. Ada resep jitu menangkal bau lainnya? Sharing dooong.



Rumah Teman-teman Tacchan

17.04.2008
kategori: praktek, takakura

Wadah kompos, atau "rumah" itu bermacam-macam; sama seperti manusia ya? Ada yang permanen, semi permanen, ada yang terbuat dari bata, balok, bambu, dan lain-lain. Mungkin ada yang rumah panggung, ada juga yang rumahnya di atas air. Hehehe…

Aku sendiri masih pake kardus untuk Takkun (adiknya Tacchan, si Kotak Takakura). Alasannya? Karena di tempatku banyak kotak kardus bekas, dan rasanya sayang banget kalo nggak dipake (tadinya dikumpulin karena untuk simpen-simpen barang…. eeeeeh, barangnya sudah kesimpen semua kok ya kardusnya masih banyak?)

Tapi karena menggunakan kardus, jadinya rumahnya Takkun tidak permanen, alias harus sering pindahan (jadi kayak nomaden). Dan kalo pindahan ya berat! Harus diangkat, ditumplekin… Wah, wah. Cwapek! Pegel!

Nah, kalau mau mencari tempat yang lebih permanen supaya tumpukan komposmu nggak harus terus-terus migrasi dan transmigrasi, ini ada beberapa contoh "rumah permanen" dari teman-teman:

Keranjang Bambu (dari Ibu Christine)
Dulu aku pake kardus juga, tapi karena mesti beberapa kali ganti karena kebocoran dan sobek, aku jadi males pake kardus lagi, ribet. Sekarang aku pake keranjang bambu yang lubangnya kecil2. Sampah tinggal dimasukkan saja ke dalamnya, tanpa bantalan sekam. Bagian atasnya aku tutup dengan tampah bambu juga. Kalo pas dingin aku tutup dengan plastik/karung beras biar hangat. Dengan keranjang bambu ngaduknya juga lebih enak, bisa sampai ke dasar. Keranjang ini aku taruh di depan rumah, diatas saluran got. Jadi kalo ada belatung yg pengen jalan-jalan bisa langsung terjun ke got. Sayangnya, keranjang bambu ini tidak bisa dipakai selamanya karena keranjang bambu ini juga ikut dimakan sama si JR (Jasad Renik).

Keranjang Pakaian (dari Ibu Rita)
Prinsipnya wadah apa saja oke, spanjang sirkulasi udara bagus dan bisa menyantuh sampah ke timbunan kompos terdalam. Aku pake keranjang pakaian yg memiliki lubang kecil2 diseluruh bagiannya jadi gak repot lagi pake dus. Untuk bantalannya: sekam bakar yg bungkus plastik kasa/strimin biasa buat nutup jalusi jendela. Dengan begitu telor lalat yg terbawa sayuran akan terperangkap di dalamnya dan pada saat menetas lalatnya tidak bisa keluar/terbang gitu aja, tetapi terperangkap di dalam bantal itu. Kalo sudah panen kompos, bantalnya dijemur langsung di bawah matahari dan lalat akan mati.

Dinding Bata (a la Ibu Endang)
Di rumah Bu Endang, di salah satu pojok rumahnya, ada tumpukan bata yang membentuk sebuah bak (kira-kira tingginya sepinggang). Batanya nggak permanen. Jadi kalau lagi penuh, batanya bisa ditumpuk lebih tinggi, tapi kalau mau panen, batanya tinggal diangkat dan komposnya diambil; atau kalau isi baknya masih sedikit, batanya nggak usah tinggi-tinggi biar nggak cape mesti nylonjor-nylonjor ke dasar. Mengaduknya menggunakan bilah bambu yang agak panjang. Keuntungan dari dinding/bak bata ini: batanya bisa dipake berulang kali (bahkan sampe tebosen-bosen), tinggi-rendah baknya bisa diatur sesuai dengan isi. Oh iya, bak bata ini ditutup dengan triplek.

 



Berbagi Pengalaman: Ngompos nggak ada ruginya

31.03.2008
kategori: praktek, takakura, sharing

Dari Rita (dengan agak diedit tapi ga banyak kok):

Aku buat kompos juga di rumah, bahkan sudah menjual hasilnya yg di-drop ke tukang bunga keliling. Aku juga ngasi short course ttg pembuatan kompos dari limbah RT. Ada yg bayar ada yg gratis…

…[S]etelah mahfum konsep “aerob”, [Kotak] Takakuranya kembali jadi keranjang baju, soalnya ribet kudu nambahin “dus” yg lebih sering kemakan oleh MOL.

Prinsipnya wadah apa saja oke, sepanjang sirkulasi udara bagus dan bisa menyentuh sampah ke timbunan kompos terdalam. Aku pake keranjang pakaian yang memiliki lubang kecil2 di seluruh bagiannya, jadi gak repot lagi pake dus. Untuk bantalannya: sekam bakar yg bungkus plastik kasa/strimin biasa buat nutup jalusi jendela. Dengan begitu telor lalat yg terbawa sayuran akan terperangkap di dalamnya dan pada saat menetas lalatnya tidak bisa keluar/terbang gitu aja, tetapi terperangkap di dalam bantal. Kalo sudah panen kompos, bantalnya dijemur langsung di bawah sinar matahari, dan lalat akan mati.

MOL aku buat sendiri dari tape atau nasi basi. Tapi aku prefer dari tape soalnya gak bau bacin, udah gitu sampahku juga gak berbau. MOL ini dicampur air lindi dari sludge kompos kita bisa jadi pupuk cair.

Jadi berdasarkan pengalamanku, sekali kita mengolah limbah menjadi kompos, gak akan ada yg terbuang… [S]emuanya jadi bermanfaat: kompos kasarnya bisa jadi makanan cacing yg akhirnya kita bisa punya juga kascing, air lindinya diolah jadi pupuk cair, kompos halusnya bisa dijual. Asyik kan..



Tacchan dan Takkun: Musim Penghujan

26.01.2008
kategori: praktek, takakura

Musim penghujan ini bawa banyak berita buat Tacchan dan Takkun. Tacchan adalah eksperimen Takakura Systemku yang pertama (sejak Juli lalu) dan sudah pensiun (alias sudah dipake, walau kayaknya kualitasnya kurang okeh karena sering salah-salah (yah, bisa dibaca di seluruh penjuru blog ini). Takkun adalah Takakura II, adiknya Tacchan. Nama Takkun ini langsung dapet dikasih dari Pak Takakura lhoooo (aduuuuh, jadi malu. Hehehe. (makasih buat Om Didut yang udah baik hati hihihi)).

Saat ini Takkun usianya baru… yah 3 hari kali, ya? Dan, beda dengan kakaknya yang "anak Musim Kemarau", Takkun ini "anak Musim Penghujan". Hari pertama sempet gagal lho, soalnya ternyata atap di garasi bocor dan langsung ngetes (ngebanjirin) Takkun. Jadi harus diulang lagi.

Masalah sekarang adalah lembab, dingin. DINGIN! DINGIN SEKALI! Ya ampun. Air mandi aja jadi dingin banget, kayak kalo di Puncak gitu. Padahal ini kan Jakarta! Wong bangun pagi aja biasanya udah kepanasan, ini kok malah kedinginan. Takkun, yang masih bayi, juga kedinginan, dan nyari pojokan ruangan di garasi yang selalu hangat tanpa bocor rada susah juga. Tapi udah ketemu. Juga di kotak komposnya, kardusnya dilapis sama kardus lagi dilapis kardus lagi, terus di antara kardus-kardus dipakein tumpukan koran, dan di atas dan di bawah Takkun itu dilapisin sama karung plastik yang banyak.

Hihihi, jadi semacam insulasi darurat. Lumayan hangat sih. Nggak usah pake lampu penghangat model kalo lagi ngegedein pitik ayam. (Eh, tapi ngaruh nggak ya? Apa cuma suges doang?) Jadi pengen tanya sama Pak Takakura, kalo di Jepang gimana. Kan di sana dinginnya sampe turun salju tuh.

Oh iya, harus siap banjir juga nih. Nggak lucu banget kalo pas bangun tiba-tiba Takkun saya sudah hanyut! 





«« catatan lama •