5 Juni: Hari Lingkungan Hidup
kategori: berita
Semoga laen kali, setiap hari juga bisa jadi hari lingkungan hidup ya. Masa’ hidupnya cuma sehari abis itu hibernasi lagi?
Semoga laen kali, setiap hari juga bisa jadi hari lingkungan hidup ya. Masa’ hidupnya cuma sehari abis itu hibernasi lagi?
Pestipal Hejo. Hihihi. Jadi teringat salah satu dari sekian banyak tebak-tebakan di panggung utama di Green Festival. "3R+1R, R yang terakhir itu apa?" Ada yang jawab "Reflant" tapi disalahin, karena harusnya nyunda dikit alias "Replant". Gara-gara beda ep-na panta sama ep-na pespa, jadi nggak dapet sepeda gunung deh.
Omong-omong… Green Festival… Apa ya? Ide baik juga, "Aksiku untuk Bumi" slogannya. Seberapa pedulinya sih sama bumi? Seberapa pedulinya sama isi bumi itu?
Buat yang nggak sempet ke Green Festival, atau yang lupa-lupa inget, bisa liat infonya di sini.
Beberapa organisasi yang ikut meramaikan: GHBS (Gropesh, hehe, ada sayanya lho); DML (stand tetangga, kampanye plastik bio-degradeable dari singkong); Swiss Contact (stand tetangga satu lagi, kampanye daur ulang mulai dari tas bungkus kopi sampai dengan lampu dari filter oli… keren bok!); Pelangi (wah, saya akhirnya ga sempet foto-foto) dan Green Lifestyle (halo!); WWF (si panda imut); CIFOR (tanam pohon! anak-anak, mari belajar mengenal dan menanam!); Lamintu (Pak Slamet dengan kawan-kawannya yang "walau lansia, kami kreatif lho!"); LIPI; Budidaya Gaharu (pertamanya saya kira jualan isi wirok, ternyata bukan ya?); Bike to Work; dan masih banyak lagi yang saya lupa namanya, tapi saya tau.
Bagi umat katolik seluruh dunia, tanggal 21 Maret 2008 adalah Hari Jumat Agung, hari mengenang wafatnya Yesus Kristus, Isa Almasih. Teman-teman dari PMKAJ (Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta), seperti tahun-tahun sebelumnya, mengadakan napak tilas. Memang yang namanya napak tilas ini juga sebenarnya bagian dari tradisi Kamis Putih/Jumat Agung, di mana umat katolik mengadakan seperti ziarah-mini ke berbagai gereja. Napak tilas ini digunakan untuk koreksi diri, untuk merenung, dan syukur-syukur bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi banyak orang. (Mengenai tradisi napak tilas, mungkin bisa dilihat di sini).
Tahun ini, mereka mengambil tema "Pedulikah kita pada lingkungan hidup?" yang juga merupakan tema Aksi Puasa Pembangunan KAJ. Yang terjauh, mereka berjalan dari kampus UI Depok, mengunjungi berbagai perhentian (seperti gereja-gereja dan tempat-tempat "mahasiswa") hingga akhirnya ke UNIKA Atma Jaya dan kemudian Katedral Jakarta. Rombongan lain ada juga yang berangkat dari Trisakti, dan dari beberapa universitas lainnya.
Sepanjang perjalanan, ada doa bersama, ada juga kampanye kecil (seperti ngumpulin sampah, mengajak orang-orang untuk mengurangi "produksi" sampah, dll). Ternyata, dari UI Depok sampai ke Unika Atma Jaya aja udah terkumpul lebih dari 10 karung besar sampah (belom lagi sampah yang dikantongin sama anak-anak itu)! Dan itu baru sekelumit kecil jalan yang ada di Jakarta yang luas ini.
"Peduli lingkungan hidup adalah wujud nyata dari kasih," kata mereka. Dan walaupun capek napak tilas dari Depok ke Jakarta Pusat, semuanya senang dan bahagia, walaupun diiringi teriakan "Jangan pegang-pegang kaki gue doooong! Sakit nih!" Ada juga yang bilang, "Aku pulang dulu, mau tewas dulu sampe nanti sore." Tapi, hikmah yang didapat dari perjalanan itu kayaknya nggak bakal dilupain.
"Apakah elu bakal nyampah lagi, nanti kalau misalnya peduli lingkungan ini udah nggak ngetren lagi?"
"Setiap kali gue kepikiran mau nyampah sembarangan, pasti akan teringat sama penderitaan napak tilas jalan 8 jam ini dan beban karung sampah yang mesti gue gotong."
Hari Hening Sedunia
Siangnya, saya bertemu dengan seorang wartawan dari sebuah media penyiaran. Intinya sih, mbak wartawan ini mengeluhkan kalau yang namanya Hari Hening Sedunia kurang disosialisasikan. Alhasil,
masih banyak orang yang nggak tau tentang Hari Hening Sedunia ini.
Nggak pake listrik selama 4 jam? Mampu nggak? Apa lagi banyak banget dari benda-benda kita sekarang ini yang tergantung sama listrik, bahan bakar, atau paling nggak ada hubungannya dengan listrik atau sumber daya yang seperti itu. 4 jam nggak melakukan kegiatan yang nggak menghasilkan sampah? Bagaimana pula itu?
Nah waktu Hari Hening Sedunia itu, kamu ngapain?
Tanggal 12 Januari yang lalu, di SMA Santa Ursula (Sanur), Jalan Pos (almamater saya lhoooo), diadakan acara Consarety (Conserving Environment through Science and Art for Humanity). Seneng banget bisa balik lagi ke alma mater en ngeliat adik-adik kelas begitu antusias. Acara ini juga jadi ajang temu kangen sama guru-guru yang dulu pernah mengajar saya.
Kata salah satu guru, acara pameran dan bazaar Consarety SMA Sanur ini sebenernya adalah lanjutan dari acara Tanam Seribu Pohon yang belom lama ini dilaksanakan oleh Sanur bagi lingkungan sekitarnya. Tahun lalu, mereka juga pernah melakukan Gerak Jalan Membersihkan Lingkungan dan Bazaar Lingkungan Hidup (bersama dengan TK, SD, dan SMPnya juga).
Aku sih kebetulan aja ke sana ngebantu salah satu ruang Pengolahan Sampah. Di ruang kami itu, ada penjelasan mengenai pembuatan kompos padat, pengolahan sampah anorganik, praktek origami, dan lomba memilah sampah.
Tapi saya takjub banget sama apa yang telah dicapai oleh adik-adik kelas. Melalui prakarsa dan semangat murid-murid sekolah itu sendiri, dan dengan dorongan dari guru serta suster-suster Ursulin, kentara banget hasil yang telah dicapai selama beberapa tahun terakhir ini. Mulai dari pemilahan sampah secara aktif di lingkungan sekolah (yang memang sejak dulu sampai sekarang selalu asri dan bersih, sampai-sampai di daerah WC dan wastafel pun bisa tenang duduk di lantai dan ngobrol), hingga penelitian sumber cahaya murah dan aman, praktek pembuatan kompos cair, biopori, daur ulang sampah styrofoam, sampai pupuk cair a la pipis kelinci pun ada. Bahkan ada karya seni maha gede banget yang dibuat dari kaleng minuman ringan yang dipotong kecil-kecil dan dipilin. Sempet nanya, "Bikin ginian berapa tangan yang jadi korban kebeset dan kebeler?"
"Wah, nggak terhitung dengan jari deh, kak!" jawab mereka. Cerdas! Hehehe.
Banyak banget hikmah yang saya dapat, termasuk dari pentas seni yang digelar oleh kelompok teater SMA Sanur. Ceritanya sederhana, mungkin bisa juga masuk kategori klise (tapi dalam arti bagus lho, bukan jelek), seperti mungkin menonton komedi romantis yang nggak masuk nominasi Academy Awards tapi tetap memiliki pesan moral yang nggak kalah pentingnya.
Lingkungan memang sedang sedih, Ibu Bumi mungkin sedang sedih, tapi mungkin bisa menjadi sedikit bahagia melihat antusiasme generasi muda ini untuk menyelamatkannya.
Oh iya, kaos panitianya bagus lho!
P.S: Foto-foto dan ilmu-ilmu (ciyeh, serasa Jurus) yang saya dapat nanti akan saya catat lagi di sini. Di posting-an lain ya.
Mungkin sudah banyak yang tahu apa biofuel itu. Mungkin sudah banyak juga yang tahu apa itu 3R+1R (Reduce, Reuse, Recycle dan Replant). Dari keduanya, mungkin yang paling nggak sulit adalah menggunakan bahan bakar ramah lingkungan semacam biofuel tadi. Bahkan ada beberapa orang, termasuk beberapa yang saya kenal merasa penggunaan biofuel adalah alternatif dari melakukan gerakan 3R+1R. Mungkin ada yang beranggapan begini: buat apa 3R+1R, toh saya sudah pake biofuel. Kontribusi saya pada lingkungan sudah cukup besar.
Akan tetapi sekelompok peneliti dari Inggris Raya menyimpulkan bahwa penggunaan biofuel, atau bahan bakar alternatif yang sepertinya, belum tentu efektif untuk mengendalikan emisi karbon serta menyelamatkan lingkungan. Menurut mereka, penanaman kembali, pelestarian habitat, penataan kembali gaya hidup, dan dengan sendirinya kegiatan 3R+1R itu adalah pilihan yang lebih baik.
(more…)