Sumpah, Belum Lupa

21.01.2009
kategori: curhat

Setelah bolak-balik lihat arsip, dan konfirmasi ulang ke halaman depan, ternyata sudah hampir 5 bulan saya sukses nyuekin blog ini. Seperti kata teman saya, "Udah setahun nih blognya nggak apdet, udah mati, ya?" Iya juga, ya. Bahkan sampai sempat bengong karena lupa password untuk blog ini (padahal dulu sambil merem juga bisa ngetik username dan passwordnya).

Tapi, nggak kok, saya belum lupa, cuma belum nemu waktu yang tepat dan cukup panjang untuk menulis sesuatu yang, walaupun berbicara tentang sampah, tapi bukan sampah.

Selain sibuk di pekerjaan (yang ini mah tidak akan pernah ada habisnya), saya juga mulai sesuatu hal yang bener-bener sama sekali baru untuk saya: mendampingi anak-anak usia sekolah menengah dalam kegiatan ekstra-/intra-kurikuler daur ulang anorganik. Sibuk di sini lucu, karena anak-anak itu amat sangat kreatif sekali, dan saya harus banyak belajar di waktu senggang yang saya punya supaya nggak kelihatan bego-bego amat. :( Kan kasihan mereka, kalau ternyata kakak pendampingnya cengo’ kalo ditanya apa-apa tidak ngerti.

Di sisi lain, saya jadi dapet banyak sekali inspirasi dari anak-anak muda bangsa yang kreatif ini (ciyeh), jadi bahan untuk ngeblog sebenernya banyak (dun wuri™). Banyak foto-foto hasil karya mereka yang bisa dengan bangga saya pamer di sini. Bangga bukan karena saya yang bisa, tapi bangga karena saya diberi kesempatan untuk kenal mereka. 

Jadi, mungkin sampai di sini curhatnya :D Semoga selanjutnya saya akan bisa posting beneran.



Yagitudeh: Bergadang dengan kopi, berkebun dengan kopi

25.08.2008
kategori: curhat, teori, praktek, kompos

Sepertinya udah lama banget yah, saya membuat blog ini jadi blog yang terbengkalai. Salah satunya karena sibuk, salah satunya karena saya yang terlalu sering "tar-sok-tar-sok" (artinya entar, besok, entar, besok) — ditunda-tunda. Akhirnya sehari jadi seminggu jadi sebulan. Em… tapi…

Sibuk antara pekerjaan kantor, tugas negara, pekerjaan sampingan, akhirnya berbuah menjadi banyak kopi juga. Ampas kopi yang menggunung karena ternyata saya sudah tidak bisa lagi bergadang tanpa kopi (dulu masih bisa, minum air saja, sekarang udah tua kali ya?). Sekarang kopi dan teh jadi teman setia. Berlayar dengan Kapal Api, berburu Singa, minum kopi dari Bali, Bengkulu, Bandung… semua dilakukan dari sebuah ruang kecil di Jakarta.  

Apa yang bisa dilakukan dengan kopi yang banyak itu? Sebenarnya saya mulai mengetahui kalau bubuk kopi itu baik untuk berkebun sejak beberapa bulan yang lalu, tapi belum sempat (males sih sebenernya) untuk praktek dan ngumpulin (memang, kebiasaan buruk buang-buang masih sering juga).

Jadi apa saja yang bisa dilakukan dengan kopi?

Kopi, sumber nitrogen yang baik
Menjaga keseimbangan antara karbon dan nitrogen dalam sebuah kompos adalah wajib. Kebanyakan dari sampah organik adalah sumber karbon, dan kadang-kadang kalau kurang nitrogen komposnya malah lama jadinya. Terlalu banyak nitrogen juga tidak baik sih, karena akhirnya "komposnya" akan mati. Tapi dengan dosis yang baik, nitrogen membantu membuat kebun bahagia. :) Salah satu sumber nitrogen yang baik… kopi!

Langsung ke kebun
Kandungan nitrogen pada lapisan tanah kebun dapat hilang apabila terlalu sering diairi (baik itu karena disiram atau hujan). Menaburkan sedikit lapisan ampas kopi sebelum menyiram atau sebelum hujan (yah ini mungkin harus rajin-rajin liat ramalan cuaca) membantu menjaga kandungan nitrogen. Takarannya mungkin sekitar 45g untuk 1m².

Kalau takut kebanyakan (kebanyakan nitrogen bisa membuat tanah terlalu asam, nggak bagus juga ya?) campur dengan bahan karbon (misalnya sisa daun yang dihancurkan, dll).

Atau, ambil sedikit ampas kopi dan larutkan dalam air supaya bisa menjadi (sumplemen) pupuk cair juga. Takarannya kurang lebih 10 gram untuk 1 liter air, kocok. Kalau airnya terlalu panas atau terlalu dingin biarkan dulu sehingga mencapai suhu ruang. Semprotkan seperti biasa.

Gunakan untuk dasar pot-pot bunga untuk menghalau berbagai jenis serangga/hewan menyebalkan :)

Masukkan ke dalam kotak kompos
Selain membuat kotak kompos menjadi agak "wangi kopi", kopi atau teh bisa membantu menyumbang nitrogen ke dalam kotak kompos. Hati-hati tapinya, jangan sampai nitrogennya kebanyakan. Untuk belajar lebih jauh mengenai rasio karbon dan nitrogen yang baik, bisa coba klik di sini.

Tautan lain:
- Coffee and Gardening @ Sustainable Enterprises
- Grounds for Gardening @ Purdue University
- Artikel-artikel mengenai nitrogen dan karbon
- Rasio C:N @ Composting 101



blog mati suri?

26.07.2008
kategori: curhat

*lirik posting terakhir blog ini*

Pertama-tama, terima kasih buat yang sudah meninggalkan komentar dan belum sempat saya respon balik. Ternyata banyak banget :(

Dan saya juga ingin minta maaf untuk yang bertanya atau minta dikirimin langkah-langkah prakarya… bukannya saya nyuek’in, tapi saya udah lama banget nggak ngecek-ngecek blog :( payah ya? kok ya bisa sampe lupa kalau ada blog ini.

 Saya janji akan membalas email-email secepatnya dan mengirimkan info mengenai prakarya selengkap mungkin. Akan saya lakukan selama dua-tiga hari ke depan ini.

Sekali lagi, mohon maaf… Nggak maksud untuk nyuekin. Bukan juga karena saya tidak ingin berbagi ilmu. Malah sebaliknya, saya pengen banget berbagi apa yang sudah saya dapatkan selama ini. Mungkin nggak banyak, dan masih banyak kekurangannya :)  

Sebenarnya ada banyak hal baru, pengalaman baru yang saya dapatkan. Saya juga ingin berbagi cerita teman-teman baru saya, yang sangat berdedikasi dan sangat inspiratif kalau sudah bicara tentang sampah. Benar-benar mereka pahlawan lingkungan hidup.

Mulai bulan Agustus saya berharap bisa berbagi lebih sering lagi (apalagi catatan terakhir blog ini, hampir 2 bulan yang lalu ya?) *bersemu*

Dan sementara saya berberes-beres draft catatan yang tersimpan di komputer saya, saya minta tolong supaya teman-teman jangan cape-capenya untuk mengkoreksi, atau berbagi pengalamandi blog ini. :) Dan kalau saya ada salah tulis atau salah informasi, mohon koreksinya yaaaa… :)  

Terima kasih! :D  



Dufan dan Pembentukan Perilaku

19.05.2008
kategori: curhat

Kemarin, saya pergi ke Dufan bersama teman saya. Terakhir saya ke Dufan itu kapan, ya? Mungkin pas jaman-jamannya saya masih SMP gitu (udah lama ya?)

Ternyata sekarang Dufan bersih banget, ya? Tong sampah pun banyak dan mudah ditemukan. Satu hal lagi yang bikin saya tercengang itu adalah kepatuhan orang-orang untuk merokok hanya di kawasan merokok. Jarang banget saya melihat ada yang merokok di daerah umum.

Bahkan, selama saya di sana, banyak juga kata-kata "Pak, Bu, jangan buang sampah di sini," baik dari para petugas kebersihan maupun dari sesama pengunjung yang mengingatkan pengunjung lainnya. Teman saya dan saya juga sempat berteori: mungkin karena lingkungannya bersih, yang lain juga jadi segan mau buang sampah sembarangan, atau karena tidak ada yang merokok jadi segan mau merokok di luar area yang sudah ditunjuk. Apalagi dengan tong sampah yang mudah terlihat di mana saja. Malu dong, sama yang lain, ya?

Tidak lama berselang setelah teori itu disampaikan, saya memperhatikan ada seorang bapak yang celingukan hendak menyalakan rokok. Tapi setelah melihat tidak ada yang merokok di sekelilingnya, dia pun tidak jadi menyalakan rokoknya.

Lalu ada lagi seorang cewek (mungkin rada ABG gitu, dengan dandanan yang oke juga), yang dengan ragu meninggalkan bungkus bekas makanan ringan di atas kursi yang tadi dia dudukin. Tapi belum juga beranjak dua langkah, dia balik dengan terburu-buru, mengambil bungkus itu, lalu menaruhnya di dalam tempat sampah yang memang nggak jauh dari tempat dia duduk tadi.

Jadi mungkin memang begitu, ya? Pengaruh lingkungan membentuk perilaku. Kalau ketemu tempat yang bersih, mau nyampah juga kagok dan malu. Tapi kalo ketemu tempat yang jorok, ya hayuk aja.

P.S: nggak! aku nggak dibayar sama Dufan kok. Malah bayar Dufan.
P.P.S: semoga bersihnya nggak cuma pas kemaren doang, tapi sekarang dan selama-lamanya.
P.P.P.S: mungkin lain kali aku datang, tong sampahnya nggak cuma satu jenis, tapi sudah untuk sampah terpilah. *berharap* hehehe.



18-20 April 2008: Green Festival

21.04.2008
kategori: curhat, berita

Pestipal Hejo. Hihihi. Jadi teringat salah satu dari sekian banyak tebak-tebakan di panggung utama di Green Festival. "3R+1R, R yang terakhir itu apa?" Ada yang jawab "Reflant" tapi disalahin, karena harusnya nyunda dikit alias "Replant". Gara-gara beda ep-na panta sama ep-na pespa, jadi nggak dapet sepeda gunung deh.

Omong-omong… Green Festival… Apa ya? Ide baik juga, "Aksiku untuk Bumi" slogannya. Seberapa pedulinya sih sama bumi? Seberapa pedulinya sama isi bumi itu?

Buat yang nggak sempet ke Green Festival, atau yang lupa-lupa inget, bisa liat infonya di sini.

Beberapa organisasi yang ikut meramaikan: GHBS (Gropesh, hehe, ada sayanya lho); DML (stand tetangga, kampanye plastik bio-degradeable dari singkong); Swiss Contact (stand tetangga satu lagi, kampanye daur ulang mulai dari tas bungkus kopi sampai dengan lampu dari filter oli… keren bok!); Pelangi (wah, saya akhirnya ga sempet foto-foto) dan Green Lifestyle (halo!); WWF (si panda imut); CIFOR (tanam pohon! anak-anak, mari belajar mengenal dan menanam!); Lamintu (Pak Slamet dengan kawan-kawannya yang "walau lansia, kami kreatif lho!"); LIPI; Budidaya Gaharu (pertamanya saya kira jualan isi wirok, ternyata bukan ya?); Bike to Work; dan masih banyak lagi yang saya lupa namanya, tapi saya tau.

(more…)





«« catatan lama •