blog mati suri?

26.07.2008
kategori: curhat

*lirik posting terakhir blog ini*

Pertama-tama, terima kasih buat yang sudah meninggalkan komentar dan belum sempat saya respon balik. Ternyata banyak banget :(

Dan saya juga ingin minta maaf untuk yang bertanya atau minta dikirimin langkah-langkah prakarya… bukannya saya nyuek’in, tapi saya udah lama banget nggak ngecek-ngecek blog :( payah ya? kok ya bisa sampe lupa kalau ada blog ini.

 Saya janji akan membalas email-email secepatnya dan mengirimkan info mengenai prakarya selengkap mungkin. Akan saya lakukan selama dua-tiga hari ke depan ini.

Sekali lagi, mohon maaf… Nggak maksud untuk nyuekin. Bukan juga karena saya tidak ingin berbagi ilmu. Malah sebaliknya, saya pengen banget berbagi apa yang sudah saya dapatkan selama ini. Mungkin nggak banyak, dan masih banyak kekurangannya :)  

Sebenarnya ada banyak hal baru, pengalaman baru yang saya dapatkan. Saya juga ingin berbagi cerita teman-teman baru saya, yang sangat berdedikasi dan sangat inspiratif kalau sudah bicara tentang sampah. Benar-benar mereka pahlawan lingkungan hidup.

Mulai bulan Agustus saya berharap bisa berbagi lebih sering lagi (apalagi catatan terakhir blog ini, hampir 2 bulan yang lalu ya?) *bersemu*

Dan sementara saya berberes-beres draft catatan yang tersimpan di komputer saya, saya minta tolong supaya teman-teman jangan cape-capenya untuk mengkoreksi, atau berbagi pengalamandi blog ini. :) Dan kalau saya ada salah tulis atau salah informasi, mohon koreksinya yaaaa… :)  

Terima kasih! :D  



Dufan dan Pembentukan Perilaku

19.05.2008
kategori: curhat

Kemarin, saya pergi ke Dufan bersama teman saya. Terakhir saya ke Dufan itu kapan, ya? Mungkin pas jaman-jamannya saya masih SMP gitu (udah lama ya?)

Ternyata sekarang Dufan bersih banget, ya? Tong sampah pun banyak dan mudah ditemukan. Satu hal lagi yang bikin saya tercengang itu adalah kepatuhan orang-orang untuk merokok hanya di kawasan merokok. Jarang banget saya melihat ada yang merokok di daerah umum.

Bahkan, selama saya di sana, banyak juga kata-kata "Pak, Bu, jangan buang sampah di sini," baik dari para petugas kebersihan maupun dari sesama pengunjung yang mengingatkan pengunjung lainnya. Teman saya dan saya juga sempat berteori: mungkin karena lingkungannya bersih, yang lain juga jadi segan mau buang sampah sembarangan, atau karena tidak ada yang merokok jadi segan mau merokok di luar area yang sudah ditunjuk. Apalagi dengan tong sampah yang mudah terlihat di mana saja. Malu dong, sama yang lain, ya?

Tidak lama berselang setelah teori itu disampaikan, saya memperhatikan ada seorang bapak yang celingukan hendak menyalakan rokok. Tapi setelah melihat tidak ada yang merokok di sekelilingnya, dia pun tidak jadi menyalakan rokoknya.

Lalu ada lagi seorang cewek (mungkin rada ABG gitu, dengan dandanan yang oke juga), yang dengan ragu meninggalkan bungkus bekas makanan ringan di atas kursi yang tadi dia dudukin. Tapi belum juga beranjak dua langkah, dia balik dengan terburu-buru, mengambil bungkus itu, lalu menaruhnya di dalam tempat sampah yang memang nggak jauh dari tempat dia duduk tadi.

Jadi mungkin memang begitu, ya? Pengaruh lingkungan membentuk perilaku. Kalau ketemu tempat yang bersih, mau nyampah juga kagok dan malu. Tapi kalo ketemu tempat yang jorok, ya hayuk aja.

P.S: nggak! aku nggak dibayar sama Dufan kok. Malah bayar Dufan.
P.P.S: semoga bersihnya nggak cuma pas kemaren doang, tapi sekarang dan selama-lamanya.
P.P.P.S: mungkin lain kali aku datang, tong sampahnya nggak cuma satu jenis, tapi sudah untuk sampah terpilah. *berharap* hehehe.



18-20 April 2008: Green Festival

21.04.2008
kategori: curhat, berita

Pestipal Hejo. Hihihi. Jadi teringat salah satu dari sekian banyak tebak-tebakan di panggung utama di Green Festival. "3R+1R, R yang terakhir itu apa?" Ada yang jawab "Reflant" tapi disalahin, karena harusnya nyunda dikit alias "Replant". Gara-gara beda ep-na panta sama ep-na pespa, jadi nggak dapet sepeda gunung deh.

Omong-omong… Green Festival… Apa ya? Ide baik juga, "Aksiku untuk Bumi" slogannya. Seberapa pedulinya sih sama bumi? Seberapa pedulinya sama isi bumi itu?

Buat yang nggak sempet ke Green Festival, atau yang lupa-lupa inget, bisa liat infonya di sini.

Beberapa organisasi yang ikut meramaikan: GHBS (Gropesh, hehe, ada sayanya lho); DML (stand tetangga, kampanye plastik bio-degradeable dari singkong); Swiss Contact (stand tetangga satu lagi, kampanye daur ulang mulai dari tas bungkus kopi sampai dengan lampu dari filter oli… keren bok!); Pelangi (wah, saya akhirnya ga sempet foto-foto) dan Green Lifestyle (halo!); WWF (si panda imut); CIFOR (tanam pohon! anak-anak, mari belajar mengenal dan menanam!); Lamintu (Pak Slamet dengan kawan-kawannya yang "walau lansia, kami kreatif lho!"); LIPI; Budidaya Gaharu (pertamanya saya kira jualan isi wirok, ternyata bukan ya?); Bike to Work; dan masih banyak lagi yang saya lupa namanya, tapi saya tau.

(more…)



Saya nggak perlu kantong, Mbak

1.04.2008
kategori: curhat

Jam makan siang, saya pergi ke toko buku untuk membeli penggaris dan buku cerita. Saya membawa dua lembar uang sepuluh ribuan, satu lembar lima puluh libuan, dan beberapa keping uang lima ratusan. Hitung uang kembalian yang saya terima.

Hahahahaha… Jadi inget soal dalam buku Cerdas Tangkas! *jadi deja vu* Buku itu sekarang ke mana, ya? Kayaknya udah nggak dipake untuk sekolah lagi deh.

Tapi, ini sih bukan cerita soal itu deh. Ini cerita tentang kantong plastik. Saya beli buku ceritanya dulu. Setelah membayar kasirnya secara otomatis tuh kan ngeluarin plastik, tapi saya bilang, "Mbak, nggak usah diplastikin." Dan bukunya langsung saya masukin ke dalam tas. Mbaknya cuma tersenyum dan bilang, "Oh ya udah." Sambil plastiknya diberesin lagi dan diletakkan lagi di bawah mesin kassa.

Lalu, ke tempat alat tulis (di toko ini yang namanya bagian alat tulis sama bagian buku tuh terpisah gitu, bayarnya juga misah). Abis milih-milih penggaris dan ngantri sebentar, akhirnya aku ketemu hadap-hadapan sama Mbak kasirnya. Dia juga sama, setelah memberi kembalian, mulai membuka plastik untuk membungkus penggaris.

Dan aku mengulang lagi kalimat yang tadi aku omongkan ke koleganya, "Mbak, nggak usah diplastikin," sambil penggarisnya aku masukkan ke dalam tas. Belum selesai menutup ritsleting temenku SMS, "Hen, titip rautan yang diputer itu, yang gede. Yang di kantor rusak nih! Urgent yah!" Alhasil balik lagi dan terbirit-birit nyari rautan putar itu. Lah mana jam makan siang udah mau abis lagi.

Balik lagi, senyum-senyum lagi sama si Mbak (kayaknya sekali lagi mondar-mandir kasir bisa dapet piring cantik nih). Dan dia dengan otomatis ngeluarin plastik lagi, dan untuk ketiga kalinya aku bilang, "Mbak, nggak usah diplastikin."

"Beneran nih, Mbak?" Mbak Kasirnya bertanya, sambil menyodorkan plastik itu ke aku.

"Bener… Nggak perlu kok." Sambil menggeser-geser isi tas supaya rautan yang bentuknya lumayan gede itu muat. Untungnya nggak ada yang lagi ngantri di belakang aku, kalo nggak pasti aku udah dimarahin karena memperlambat antrian nih.

"Wah," kata Mbak Kasir itu. "Mbak salah satu orang yang lagi kena tren global warming itu, ya?" Katanya sambil merapikan plastik yang tertolak itu.

"Nggak juga sih," aku jawab. "Cuma emang plastik di rumah udah banyak banget. Nggak ada abis-abisnya."

Mungkin aku terlihat seperti orang yang lagi kena tren, ya? Yang lagi kumat, dan kumatnya cuma kalau lagi sedang tren. Memang, tahun ini sedang "tren" global warming. Yang dilihat sinis oleh orang-orang memang itu: nanti kalo trennya udah nggak ngetren lagi, terus gimana dong? Apa terus kembali ke tabiat asal?

Ini dulu pernah juga aku tulis deh di salah satu catatan di blog ini juga. Salah satu hal yang bikin aku "bangga" (ciyeh, "sombong mah," kata temenku) adalah aku ternyata udah praktek sayang-sayang bumi dari sejak lama (paling nggak sejak kuliah lah). Tapi itu lebih kepada "sayang dompet, pelit, dan gaya hidup mahasiswa"). Tapi aku harap aku bisa terus-menerus memperhatikan bumi dan melakukan dengan "sadar" dan penuh tanggung jawab.

Tapi, gimana cara meyakinkan orang bahwa yang aku lakukan ini nggak cuma sekadar tren aja ya?



Anak-anak bilang: Memilah dan menaruh sampah

28.02.2008
kategori: curhat

Hampir setengah tahun aku diberi kesempatan bantu-bantu Gropesh. Kegiatannya banyak, ada pameran, road show kecil-kecilan, sampai buka playgroup atau cuap-cuap di muka kelas. Sering banget aku ketemu anak-anak (baik yang kecilnya se-SD sampai yang udah gede tapi dipanggil "anak" sama emaknya). Mereka sering sekali berbagi pengalaman atau cerita.

Setelah dilihat-lihat, anak-anak itu adalah kelompok yang paling responsif dan paling hayuk diajak untuk memulai kebiasaan hidup ramah lingkungan.

Salah satu topik bahasan yang menggelitik banget setiap kali ada yang "curhat" adalah: "meminta agar mama papa (atau saudara, dll) menaruh sampah pada tempatnya" (yang kadang-kadang termasuk juga urusan pilah memilah).

Ada yang orang tuanya bilang, "Ah! Cerewet kamu!" atau ada yang pura-pura nggak denger.

Ada juga yang orang tuanya langsung bersemu merah dan langsung menaruh sampah di tempat yang seharusnya. Ada lagi yang orang tuanya kalau mau "buang sembarangan" di tempat umum itu sambil ngumpet-ngumpet, seperti berharap nggak ada yang lihat, dan setelah dipergoki anaknya langsung bersemu merah.

Ada lagi orang tua yang ketat banget menjalankan 3R+1R di rumahnya, sampai-sampai satu rumah itu seperti rumah percontohan.

Tapi banyak anak juga yang bilang, "Paling kesel kalo di rumah udah capek-capek dipilah, sampe diomelin mamah, tapi pas diangkut truk sampah, dicampur lagi jadi satu."





«« catatan lama •