Yagitudeh: Pake Lagi Minyak Goreng Bekas

25.04.2008
kategori: teori, faq

Ini yang jadi pertanyaan banyak orang, mulai dari emakku yang doyan masak, sampai dengan seorang ibu di acara Green Fest kemarin: Menyak goreng abis dipake, kalo udah nggak layak pake lagi, diapain yah?

Kalo jumlahnya sedikit sih masih mending bisa dimasukin ke kotak kompos. Tapi kalo udah dalam jumlah yang banyak? Ga mungkin juga lah ya. Dibuang gitu aja?

Kebetulan, waktu ibu-ibu Green Fest itu tanya, saya baru aja mencari-cari tahu dari Om Gugel, jadinya saya bisa cuap-cuap ngecap-ngecap sedikit, walau belum ada satu pun yang saya dipraktekin. Tapi, saya tertarik juga untuk coba bikin sabun (ya betul! sabun… seperti sabun yang dipake untuk cuci tangan itu).

Mungkin minggu depan saya mau coba bikin sabun.

Jadi… beberapa hal di antara banyak hal yang bisa dilakukan dengan menggunakan minyak goreng bekas adalah:

Pengganti bahan bakar kendaraan
Terutama untuk kendaraan-kendaraan bermesin diesel. Pertama kali saya tau ini dari salah satu stasiun televisi musik sekitar tahun lalu. Ceritanya ada salah seorang artis bule yang menggunakan minyak jelantah untuk bis tur keliling negerinya. Jadi, dia tidak pusing kalau misalnya harus tur ke daerah-daerah yang rada jauh. Tinggal berhenti di suatu restoran, minta jelantahnya (kadang kalo bayar ya uwis… kadang dia didaulat nyanyi sebagai ganti sejerigen dua jerigen jelantah).

Di Indonesia, penggunaan jelantah sebagai bahan bakar alternatif juga sudah mulai marak lho. Di Bogor misalnya, pemerintah kota Bogor sudah mulai menggunakan minyak jelantah, yang dicampur solar (entah diseling-seling sama solar, atau dicampur beneran sama solar ya?) ini untuk kendaraan operasional pemerintah dan juga angkot Transpakuan.

Kalo di Bali ada Pak Olivier yang menggunakan minyak goreng bekas pakai sebagai bahan bakar truk. Kalau ada yang mau menyumbang minyak goreng atau bertanya-tanya, silakan hubungi beliau.

Dijadikan sabun
Jadi inget yang di filemnya Brad Pitt itu ya, yang Fight Club. Hehehe… bikin sabun secara rumahan. Intinya sih, karena menggunakan bahan soda api (caustic soda alias sodium hidroksida, NaOH), sabun ini sebaiknya nggak dipake untuk cuci muka dan jangan sampe kena mata. Mungkin paling banter bisa untuk bersih-bersih rumah, bisa untuk cuci-cuci baju, atau paling jauh ya untuk cuci tangan.

Bahan soda api (caustic soda) ini emang sering dipake untuk bikin deterjen kok.

Untuk jelasnya, gimana cara bikinnya, silakan liat di sini. Jurusnya cuma: aduk, aduk, aduk. Dan jangan sentuh soda api dengan tangan yang tak terlindungi. Pakelah perlindungan.

Oh iya, walau semua tipe minyak goreng sebenernya bisa dipake untuk bikin sabun ini, kayaknya (menurut sumber-sumber yang aku baca, paling bagus itu minyak kelapa).

Digunakan untuk mencegah rerumputan/tumbuhan liar
Buat yang suka berkebun, gunakan minyak goreng bekas pakai sebagai salah satu bahan sungkupan (untuk mulching). Jadi ceritanya, kertas bekas direndam dengan minyak goreng ini, lalu diletakkan di bagian bawah sungkupan itu.

Katanya nih, kalau di daerah yang adem-adem dingin (negara yang ada musim seminya), sungkupan berbahan minyak goreng malah bikin rerumputan liar ini cepet tumbuh. Tapi… karena kita tinggal di daerah tropis alias panas, menggunakan sungkupan dengan campuran minyak bekas ini malah mencegah, memperlambat, bahkan membunuh rerumputan liar. Oke banget, kan?

Info lebih lanjut sila buka halaman ini, lihat di bawah sub-judul "Paper Mulches".

Catatan kecil lainnya
Oh iya, kalau emang misalnya minyaknya rada berbau oye (misalnya abis ngegoreng yang enak-enak) dan takut kalau terlalu bau yah… bisa "dibersihin dulu". Menurut salah satu halaman web di bawah itu tuh *tunjuk-tunjuk* caranya:
- masukin ke dalam toples atau wadah yang cukup, masukkan minyak bekas dan air (perbandingan 1:1)
- abis gitu, sinar-sinarin di bawah matahari, sekitar 2 harian. Kocok seingetnya.
- nanti, tujuannya itu supaya hal-hal jelek yang terperangkap dalam minyak itu pindah masuk ke dalam air.
- kalau minyak sudah keliatan agak oke, dan air berubah menjadi agak buram, pisahkan minyak dari air.
- silakan dipake buat hal-hal lainnya yang dianggap asik.

Nah, kalau ada yang punya info lainnya, monggo lho kalau mau dibagi. Hihihi, supaya minyak gorengnya nggak "habis manis sepah dibuang"… Apalagi kalau masih bisa dipake.

Tautan lainnya:
- Biodiesel gitu deh
- Bahan Bakar Bogor
- Recycle This
- Green Lifestyle



Yagitudeh: Bau?

22.04.2008
kategori: teori, praktek, faq, kompos

Daging, sea food, dan sejenisnya… bagus untuk dikomposkan, sebab kandungan nutrisinya banyak (proteinnya bagus buat pohon lho). Tapi… bau. Belum busuk aja udah bau. Selain itu masih banyak lagi yang menyebabkan wadah kompos mengeluarkan bau-bau yang nggak asik banget. Ini ada semacam check-list yang mungkin bisa membantu menanggulangi bau barang sedikit.

Sampah dapurku ada daging, sea food, dan eksoskeleton udang (kepala, cangkang, dll), atau sejenisnya.
Sampah-sampah jenis ini, sebelum dicacah, bisa direbus barang sebentar. Air rebusannya juga nggak usah banyak kok. Asal rebus sedikit, siram dengan air dingin, tiriskan, cacah. Habis itu masukkan deh ke dalam wadah kompos dan perlakukan seperti layaknya sampah dapur lainnya (aduk dengan bioaktivator, starter, atau sejenisnya).

Masih bau juga?

Asal baunya nggak parah banget sih… ya itu wajarlah. Kalau pake metode takakura sih harusnya nggak bau-bau amat karena baunya terserap oleh aktivator (pupuk kompos jadi). Kalau pake mini-composter mungkin iya. Kalau masih dalam batas normal, oke lah.

Untuk bau dan keadaan normal, gunakan "pewangi" alam seperti daun suji, daun pandan, atau kulit jeruk. Tapi, kalau sudah tidak normal lagi…

Baunya udah masuk Kategori Ya Ampun Amit-amit!
Periksa apakah tumpukan komposnya terlalu basah/berair.
Kalau terlalu basah atau berair, memang akhirnya membuat bau yang tidak enak ini keluar. Belum lagi nanti blenyeh dan berlendir. 

Kalau yang seperti ini kayaknya tidak bisa deh pake daun wangi atau kulit jeruk. Karena ini masalah air yang harus diserap atau dikeluarkan. Gunakan media kaya karbon untuk menyerap kelebihan air ini. Kalau sudah terserap, baunya bisa berkurang. Di toko tumbuhan banyak dijual "deodoran kompos" bahannya ya karbon aktif (mirip bubuk arang gitu). Dia yang akan menyerap kelebihan air ini.  

Selain itu si deodoran ini juga ada bahan aktif penetralisir bau (tapi tentu aja mungkin nggak 100%). Selanjutnya, penggunaan deodoran ini bisa dicampurkan sekam bakar, serbuk gergaji atau serutan kayu.

Ini sejauh yang saya tau. Ada resep jitu menangkal bau lainnya? Sharing dooong.



18-20 April 2008: Green Festival

21.04.2008
kategori: curhat, berita

Pestipal Hejo. Hihihi. Jadi teringat salah satu dari sekian banyak tebak-tebakan di panggung utama di Green Festival. "3R+1R, R yang terakhir itu apa?" Ada yang jawab "Reflant" tapi disalahin, karena harusnya nyunda dikit alias "Replant". Gara-gara beda ep-na panta sama ep-na pespa, jadi nggak dapet sepeda gunung deh.

Omong-omong… Green Festival… Apa ya? Ide baik juga, "Aksiku untuk Bumi" slogannya. Seberapa pedulinya sih sama bumi? Seberapa pedulinya sama isi bumi itu?

Buat yang nggak sempet ke Green Festival, atau yang lupa-lupa inget, bisa liat infonya di sini.

Beberapa organisasi yang ikut meramaikan: GHBS (Gropesh, hehe, ada sayanya lho); DML (stand tetangga, kampanye plastik bio-degradeable dari singkong); Swiss Contact (stand tetangga satu lagi, kampanye daur ulang mulai dari tas bungkus kopi sampai dengan lampu dari filter oli… keren bok!); Pelangi (wah, saya akhirnya ga sempet foto-foto) dan Green Lifestyle (halo!); WWF (si panda imut); CIFOR (tanam pohon! anak-anak, mari belajar mengenal dan menanam!); Lamintu (Pak Slamet dengan kawan-kawannya yang "walau lansia, kami kreatif lho!"); LIPI; Budidaya Gaharu (pertamanya saya kira jualan isi wirok, ternyata bukan ya?); Bike to Work; dan masih banyak lagi yang saya lupa namanya, tapi saya tau.

(more…)



Rumah Teman-teman Tacchan

17.04.2008
kategori: praktek, takakura

Wadah kompos, atau "rumah" itu bermacam-macam; sama seperti manusia ya? Ada yang permanen, semi permanen, ada yang terbuat dari bata, balok, bambu, dan lain-lain. Mungkin ada yang rumah panggung, ada juga yang rumahnya di atas air. Hehehe…

Aku sendiri masih pake kardus untuk Takkun (adiknya Tacchan, si Kotak Takakura). Alasannya? Karena di tempatku banyak kotak kardus bekas, dan rasanya sayang banget kalo nggak dipake (tadinya dikumpulin karena untuk simpen-simpen barang…. eeeeeh, barangnya sudah kesimpen semua kok ya kardusnya masih banyak?)

Tapi karena menggunakan kardus, jadinya rumahnya Takkun tidak permanen, alias harus sering pindahan (jadi kayak nomaden). Dan kalo pindahan ya berat! Harus diangkat, ditumplekin… Wah, wah. Cwapek! Pegel!

Nah, kalau mau mencari tempat yang lebih permanen supaya tumpukan komposmu nggak harus terus-terus migrasi dan transmigrasi, ini ada beberapa contoh "rumah permanen" dari teman-teman:

Keranjang Bambu (dari Ibu Christine)
Dulu aku pake kardus juga, tapi karena mesti beberapa kali ganti karena kebocoran dan sobek, aku jadi males pake kardus lagi, ribet. Sekarang aku pake keranjang bambu yang lubangnya kecil2. Sampah tinggal dimasukkan saja ke dalamnya, tanpa bantalan sekam. Bagian atasnya aku tutup dengan tampah bambu juga. Kalo pas dingin aku tutup dengan plastik/karung beras biar hangat. Dengan keranjang bambu ngaduknya juga lebih enak, bisa sampai ke dasar. Keranjang ini aku taruh di depan rumah, diatas saluran got. Jadi kalo ada belatung yg pengen jalan-jalan bisa langsung terjun ke got. Sayangnya, keranjang bambu ini tidak bisa dipakai selamanya karena keranjang bambu ini juga ikut dimakan sama si JR (Jasad Renik).

Keranjang Pakaian (dari Ibu Rita)
Prinsipnya wadah apa saja oke, spanjang sirkulasi udara bagus dan bisa menyantuh sampah ke timbunan kompos terdalam. Aku pake keranjang pakaian yg memiliki lubang kecil2 diseluruh bagiannya jadi gak repot lagi pake dus. Untuk bantalannya: sekam bakar yg bungkus plastik kasa/strimin biasa buat nutup jalusi jendela. Dengan begitu telor lalat yg terbawa sayuran akan terperangkap di dalamnya dan pada saat menetas lalatnya tidak bisa keluar/terbang gitu aja, tetapi terperangkap di dalam bantal itu. Kalo sudah panen kompos, bantalnya dijemur langsung di bawah matahari dan lalat akan mati.

Dinding Bata (a la Ibu Endang)
Di rumah Bu Endang, di salah satu pojok rumahnya, ada tumpukan bata yang membentuk sebuah bak (kira-kira tingginya sepinggang). Batanya nggak permanen. Jadi kalau lagi penuh, batanya bisa ditumpuk lebih tinggi, tapi kalau mau panen, batanya tinggal diangkat dan komposnya diambil; atau kalau isi baknya masih sedikit, batanya nggak usah tinggi-tinggi biar nggak cape mesti nylonjor-nylonjor ke dasar. Mengaduknya menggunakan bilah bambu yang agak panjang. Keuntungan dari dinding/bak bata ini: batanya bisa dipake berulang kali (bahkan sampe tebosen-bosen), tinggi-rendah baknya bisa diatur sesuai dengan isi. Oh iya, bak bata ini ditutup dengan triplek.

 



Akhirnya Datang Juga

10.04.2008
kategori: hukum

Kemaren, tanggal 9 April 2008, akhirnya RUU Pengelolaan Sampah disahkan juga. Ternyata udah ampir 3 tahun ya sejak RUUnya dirumuskan? Lama juga. Nungguin momen Global Warming dulu?

Ah, tapi sekarang bagus juga udah ada. Tinggal implementasinya ya? Tinggal liat ntar jadi apa nih. Yang dinanti-nanti sih ada Truk Pengangkut Sampah yang terpilah nih.

(omong-omong tentang truk pengangkut sampah, ini cerita temenku yang baru pulang dari studinya di California, Amerika Serikat: katanya di sana truknya memang terpisah, terus, para truk itu wajib diberikan wilayah kerja yang seluas-luasnya. Artinya, kalau ada mobil pribadi yang menghalangi akses mereka ke tong sampah warga, bisa kena tilang tuh. Lucu ya. Dan, sampah pun harus sudah terpilah. Para tukang sampah berhak menolak kalau ternyata warga salah memilah).

Trus, apa lagi ya harapannya? Harapan kamu apa?

Trus, minggu depan (Tanggal 18-20 April 2008) juga ada pameran Green Festival di Senayan.

Semoga bumi semakin "green" yah.

Tapi aku belom berhasil dapetin soft copy dari UU/RUU ini nih, tapi nanti kalo udah ada, atau ada yang udah punya… bagi donnnnggg…

Tautan:
Siaran Pers Kementrian Negara Lingkungan Hidup





«« catatan lama •