Berbagi Pengalaman: Ngompos nggak ada ruginya

31.03.2008
kategori: praktek, takakura, sharing

Dari Rita (dengan agak diedit tapi ga banyak kok):

Aku buat kompos juga di rumah, bahkan sudah menjual hasilnya yg di-drop ke tukang bunga keliling. Aku juga ngasi short course ttg pembuatan kompos dari limbah RT. Ada yg bayar ada yg gratis…

…[S]etelah mahfum konsep “aerob”, [Kotak] Takakuranya kembali jadi keranjang baju, soalnya ribet kudu nambahin “dus” yg lebih sering kemakan oleh MOL.

Prinsipnya wadah apa saja oke, sepanjang sirkulasi udara bagus dan bisa menyentuh sampah ke timbunan kompos terdalam. Aku pake keranjang pakaian yang memiliki lubang kecil2 di seluruh bagiannya, jadi gak repot lagi pake dus. Untuk bantalannya: sekam bakar yg bungkus plastik kasa/strimin biasa buat nutup jalusi jendela. Dengan begitu telor lalat yg terbawa sayuran akan terperangkap di dalamnya dan pada saat menetas lalatnya tidak bisa keluar/terbang gitu aja, tetapi terperangkap di dalam bantal. Kalo sudah panen kompos, bantalnya dijemur langsung di bawah sinar matahari, dan lalat akan mati.

MOL aku buat sendiri dari tape atau nasi basi. Tapi aku prefer dari tape soalnya gak bau bacin, udah gitu sampahku juga gak berbau. MOL ini dicampur air lindi dari sludge kompos kita bisa jadi pupuk cair.

Jadi berdasarkan pengalamanku, sekali kita mengolah limbah menjadi kompos, gak akan ada yg terbuang… [S]emuanya jadi bermanfaat: kompos kasarnya bisa jadi makanan cacing yg akhirnya kita bisa punya juga kascing, air lindinya diolah jadi pupuk cair, kompos halusnya bisa dijual. Asyik kan..



4 hari libur, ngapain aja?

25.03.2008
kategori: prakarya, kertas, plastik

"Libur panjang…. Beresin kamar!" begitulah pesan emak. Emang sih aku agak selebor soal menyimpan barang di kamar, nggak rapi, asal dilempar ke pojok yang masih kosong. Tapi, dengan ngeberesin dan memilah-milah, keliatan juga yang bisa ‘dikaryain’ dan mana yang… mesti diserahkan ke ahli daur ulang atau pak pemulung.

Jadi, di sela-sela leha-leha, beresin kamar, tugas jaga ronda (baca: Lembur Ceria), dan insomnia, jadilah beberapa benda hasil ‘iseng’:

Pembatas buku
Bahannya: potongan majalah, benang dan jarum jahit, pita atau tali yang ‘diselamatkan’ dari kartu undangan nikahannya orang, dan 2 buah plastik tebal sisa kemasan kapas muka (maklum kita khan cheweq).
Waktu membuat: kira-kira sejam-an lebih dikit lah dari awal sampe akhir (itu juga sambil nonton pelem :D ). Lagian lamanya ada di nyusun-nyusun gambarnya dan milih benang yang mau dipake, sama masukin benang ke jarum (saya kan buta benang).

pembatas buku

Gelang dari botol
Alatnya: cutter dan gunting (gunting yang biasa beli di toko buku aja; tapi guntingnya harus yang baru, jangan yang udah pernah dipake untuk gunting kertas; aturan mainnya sama seperti "gunting kain jangan dipake untuk gunting kertas"); jarum jahit besar (untuk ngebolongin)
Bahannya: botol bekas shampo, lotion, sabun cair, dst dsb lah; pokoknya botol; dan kenur elastis.
Waktu yang dihabiskan: hampir alias ga sampe satu jam buat motong dan bolongin; sekitar 20an menit untuk nyambungin semuanya (kadang-kadang lebih cepet, tergantung mood).

gelang dari botol

Gantungan kunci, bandul kalung, anting-anting, magnet kulkas
Alat: cutter dan gunting (aturannya sama dengan yang di atas). jarum jahit besar; kalau mau pake lem atau selotip dua sisi boleh, nggak juga nggak apa-apa.
Bahan: botol; tube bekas sabun cuci muka, lotion dll; benang dan jarum jahit; magnet/gantungan/dll; benang kenur (boleh yang elastis boleh juga yang nggak).
Waktu: stengah jam dari awal sampe akhir. harusnya teorinya sih stengah jam, tapi saya nggak pinter ngiket benang kenur, jadi agak lama sedikit.

dari botol juga



21 Maret: Hari Hening Sedunia, Napak Tilas Lingkungan Hidup

21.03.2008
kategori: berita

Bagi umat katolik seluruh dunia, tanggal 21 Maret 2008 adalah Hari Jumat Agung, hari mengenang wafatnya Yesus Kristus, Isa Almasih. Teman-teman dari PMKAJ (Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta), seperti tahun-tahun sebelumnya, mengadakan napak tilas. Memang yang namanya napak tilas ini juga sebenarnya bagian dari tradisi Kamis Putih/Jumat Agung, di mana umat katolik mengadakan seperti ziarah-mini ke berbagai gereja. Napak tilas ini digunakan untuk koreksi diri, untuk merenung, dan syukur-syukur bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi banyak orang. (Mengenai tradisi napak tilas, mungkin bisa dilihat di sini).

Tahun ini, mereka mengambil tema "Pedulikah kita pada lingkungan hidup?" yang juga merupakan tema Aksi Puasa Pembangunan KAJ. Yang terjauh, mereka berjalan dari kampus UI Depok, mengunjungi  berbagai perhentian (seperti gereja-gereja dan tempat-tempat "mahasiswa") hingga akhirnya ke UNIKA Atma Jaya dan kemudian Katedral Jakarta. Rombongan lain ada juga yang berangkat dari Trisakti, dan dari beberapa universitas lainnya. 

Sepanjang perjalanan, ada doa bersama, ada juga kampanye kecil (seperti ngumpulin sampah, mengajak orang-orang untuk mengurangi "produksi" sampah, dll). Ternyata, dari UI Depok sampai ke Unika Atma Jaya aja udah terkumpul lebih dari 10 karung besar sampah (belom lagi sampah yang dikantongin sama anak-anak itu)! Dan itu baru sekelumit kecil jalan yang ada di Jakarta yang luas ini.

"Peduli lingkungan hidup adalah wujud nyata dari kasih," kata mereka. Dan walaupun capek napak tilas dari Depok ke Jakarta Pusat, semuanya senang dan bahagia, walaupun diiringi teriakan "Jangan pegang-pegang kaki gue doooong! Sakit nih!" Ada juga yang bilang, "Aku pulang dulu, mau tewas dulu sampe nanti sore." Tapi, hikmah yang didapat dari perjalanan itu kayaknya nggak bakal dilupain.

"Apakah elu bakal nyampah lagi, nanti kalau misalnya peduli lingkungan ini udah nggak ngetren lagi?"

"Setiap kali gue kepikiran mau nyampah sembarangan, pasti akan teringat sama penderitaan napak tilas jalan 8 jam ini dan beban karung sampah yang mesti gue gotong."

Hari Hening Sedunia
Siangnya, saya bertemu dengan seorang wartawan dari sebuah media penyiaran. Intinya sih, mbak wartawan ini mengeluhkan kalau yang namanya Hari Hening Sedunia kurang disosialisasikan. Alhasil,
masih banyak orang yang nggak tau tentang Hari Hening Sedunia ini.

Nggak pake listrik selama 4 jam? Mampu nggak? Apa lagi banyak banget dari benda-benda kita sekarang ini yang tergantung sama listrik, bahan bakar, atau paling nggak ada hubungannya dengan listrik atau sumber daya yang seperti itu. 4 jam nggak melakukan kegiatan yang nggak menghasilkan sampah? Bagaimana pula itu? 

Nah waktu Hari Hening Sedunia itu, kamu ngapain?



Habis minum, botolnya jangan dibuang, ya…

10.03.2008
kategori: prakarya, plastik

Waktu itu, mungkin promosi kali ya. Yang pasti di kantor tiba-tiba kedapetan satu dus air mineral botolan. Dan seharian itu aku jadi sering banget ngomong, "Jangan dibuang ya, dikasih ke aku…" Soalnya, ternyata bagian bawah botolnya cocok banget buat dijadiin wadah barang-barang kebutuhan kantorku.

Akhirnya banyak juga yang terkumpul. Dengan menggunakan cutter dan amplas biar sisa potongannya nggak tajam. Cring! Jadilah wadah. Sekarang si wadah ex-botol ini duduk manis di atas meja kantorku dan beberapa meja kantor lainnya.

dijadikan wadah

Di rumah aku pakai juga (tapi dari botol minuman penambah mineral tubuh yang warna biru itu lho (yang bunyi mereknya berima dengan "jojon"). Tapi di rumah aku pakai untuk menyimpan jepit rambut, cincin, dan pernik-pernik kecewekan lainnya.



Setelah acara dan promosinya usai…

4.03.2008
kategori: prakarya, kain

Di kemanakan spanduknya?

Kadang-kadang dipakai oleh banyak warung sebagai pembatas atau sebagai penghalang debu jalanan. Kadang-kadang, seperti temanku, dijadikan tas (ransel, tas jinjing, tas selempang, dll) atau rok.

tas spanduk

tas spanduk

Sampai-sampai ada seorang lagi teman yang bilang, "Aku jadi ingat, di kampungku dulu, di Sumatera, ada suatu saat di mana menggunakan pakaian yang dibuat dari spanduk itu jadi tren gede di antara para gadis."