Belakangan ini saya lagi sibuk banget di kantor sampai-sampai menelantarkan banyak hal: lupa/malas ngeblog, alpa dari tugas-tugas roadshow daur ulang, bahkan Takkun, si kotak takakura, sempat ikut ditelantarkan. Untung saja di rumah saya masih banyak yang masih ingat, dan tentu saja banyak yang ngomel karena saya selaku ibu angkat de facto dari Takkun itu alpa ngasih makan "anaknya". Selain itu, musim hujan yang berkepanjangan juga membuat yang bocor-bocor di rumah jadi semakin parah, akhirnya Takkun terpaksa diungsikan ke rumah teman, dan… saya rindu Takkuuuuun!
Eh, tapi curhatan kali ini bukan tentang kotak takakura, tapi sekadar pengamatan belaka (yang so pasti bisa saja salah besar). Jadi begini, kayaknya semakin banyak orang-orang di sekitar saya yang semakin tertarik untuk "menyelamatkan bumi", paling tidak sudah mau mencoba yang namanya pengomposan. Ada pula yang terlihat antusias untuk mendaur ulang benda-benda non-organik, apalagi yang punya anak. Kegiatan prakarya menggunakan "sampah" bisa dilihat sebagai sarana family bonding, sebuah kegiatan yang bisa dikerjakan bersama-sama antara orang tua dengan anak.
Tapi banyak juga yang mengeluhkan kalau mereka tidak punya ide, yang punya ide terbatas, dan setelah idenya habis terpakai, bingung mau ngapain lagi. Ada juga yang mengatakan bahwa banyak sekali kemasan-kemasan produk yang secara teori sebenarnya bisa dikreasikan, tapi akhirnya jadi terbengkalai begitu saja karena untuk mengkreasikannya butuh kesusahpayahan. Atau ada juga yang mengeluhkan kalau untuk melakukan hal-hal kreatif itu ternyata butuh alat-alat khusus yang sering tidak aman digunakan dan dikerjakan anak-anak.
"Demam Daur Ulang" ini sebenarnya, menurut saya sih, mendorong agar para produsen menerapkan rekayasa produk yang lebih baik lagi. Banyak kemasan yang beredar sekarang yang dibuat hanya dengan
memperhatikan nilai fungsionalnya saja, dan mungkin nilai estetikanya
datang belakangan.
Tapi, saya kira, kalau bentuknya lebih bagus/indah, dan juga lebih mudah untuk diutakatik (nggak perlu alat khusus, atau alat-alat yang tidak aman bagi anak-anak misalnya), bisa membantu kita-kita yang kurang kreatif (termasuk saya tentunya), untuk membayangkan "kehidupan kedua" dari benda-benda yang biasanya jadi sampah ini. Jadi, akhirnya daur ulang kreatif tidak hanya menjadi hak milik atau hak prerogatif orang-orang kreatif, maupun rumah-rumah design, tapi juga jadi milik orang kebanyakan.
Contohnya begini, produk kecantikan cewek banyak yang terbuat dari plastik warna-warni, ada yang bahannya agak tipis sehingga bisa dengan mudah digunting menggunakan gunting kertas, tapi ada juga bahan yang terbuat dari plastik tebal yang ngguntingnya harus pakai tang, atau malah gergaji (dan kalaupun sudah tergunting, sisinya masih atau malah jadi tajam). Untuk bahan jenis pertama, tentu lebih mudah untuk dikreasikan,
saya yang bodoh ini saja sudah bisa membuat gelang, gantungan kunci,
magnet kulkas dari botol plastik. Semata-mata karena mudah digunting
dan nggak perlu tenaga banyak. Untuk yang susah… ya susah, belum lagi
kalau kebeler sisi tajamnya.
Jadi, menurut saya sih, desainer produk mungkin (kalau sempat dan kalau tertantang) dapat memikirkan pula bagaimana membuat kemasan/produk yang mempermudah lebih banyak lagi keluarga atau rumah tangga untuk ikut serta dalam "demam daur ulang" ini. Mungkin akan sangat baik hasilnya kalau "mendaur ulang" dapat dijadikan suatu pengalaman keluarga yang aman dan berguna.
Mungkin saja, tidak lama lagi, kemasan/produk yang kita beli dikemas lengkap dengan "Saran Daur Ulang" (recycling suggestion) yang dapat dilakukan oleh seluruh anggota keluarga, secara aman dan menyenangkan.