Anak-anak bilang: Memilah dan menaruh sampah

28.02.2008
kategori: curhat

Hampir setengah tahun aku diberi kesempatan bantu-bantu Gropesh. Kegiatannya banyak, ada pameran, road show kecil-kecilan, sampai buka playgroup atau cuap-cuap di muka kelas. Sering banget aku ketemu anak-anak (baik yang kecilnya se-SD sampai yang udah gede tapi dipanggil "anak" sama emaknya). Mereka sering sekali berbagi pengalaman atau cerita.

Setelah dilihat-lihat, anak-anak itu adalah kelompok yang paling responsif dan paling hayuk diajak untuk memulai kebiasaan hidup ramah lingkungan.

Salah satu topik bahasan yang menggelitik banget setiap kali ada yang "curhat" adalah: "meminta agar mama papa (atau saudara, dll) menaruh sampah pada tempatnya" (yang kadang-kadang termasuk juga urusan pilah memilah).

Ada yang orang tuanya bilang, "Ah! Cerewet kamu!" atau ada yang pura-pura nggak denger.

Ada juga yang orang tuanya langsung bersemu merah dan langsung menaruh sampah di tempat yang seharusnya. Ada lagi yang orang tuanya kalau mau "buang sembarangan" di tempat umum itu sambil ngumpet-ngumpet, seperti berharap nggak ada yang lihat, dan setelah dipergoki anaknya langsung bersemu merah.

Ada lagi orang tua yang ketat banget menjalankan 3R+1R di rumahnya, sampai-sampai satu rumah itu seperti rumah percontohan.

Tapi banyak anak juga yang bilang, "Paling kesel kalo di rumah udah capek-capek dipilah, sampe diomelin mamah, tapi pas diangkut truk sampah, dicampur lagi jadi satu."



Baju astronot sang pecandu kafein

18.02.2008
kategori: prakarya, plastik

Ini dia cerita temenku yang doyan ngopi, yang teman-temannya juga doyan ngopi, yang di kantornya di manja dengan persediaan kafein. Ini juga cerita tentang seorang perancang iseng yang lagi cari bahan iseng. Kalau keduanya sudah bertemu, hasilnya lucu-lucu.

Setelah sachet kopi dan krimer dibersihkan, mereka kemudian dijahit yang satu dengan yang lainnya sehingga menjadi sebuah "kain", ukurannya mungkin 1x1 meter, mungkin juga kurang dari itu (hehehe, aku nggak bawa mistar sih, cuma kira-kira aja). Habis itu dipotong sesuai pola, lalu dijahit, diberi furing, dibalik, dan dirapikan. Jadi deh.

Lalu oleh temanku ini dipakai, terutama kalau lagi numpang motor teman yang sukanya jalan ngebut. Lumayan lah bisa menahan terpaan angin. Dan ternyata nggak gerah-gerah banget kok. Tapi sekarang, baju "astronot" ini lebih sering nggak dipake, lebih sering dibawa pameran dan roadshow.

Ini dia fotonya. (Katanya kalo dipajang gitu mirip hantu, padahal nggak, ya?)

baju astronot

Dapet bonus foto model. Namanya Timur, anak SMA Santa Ursula, BSD.



Idebodoh.com: Produsen produk indah bermanfaat

15.02.2008
kategori: curhat

Belakangan ini saya lagi sibuk banget di kantor sampai-sampai menelantarkan banyak hal: lupa/malas ngeblog, alpa dari tugas-tugas roadshow daur ulang, bahkan Takkun, si kotak takakura, sempat ikut ditelantarkan. Untung saja di rumah saya masih banyak yang masih ingat, dan tentu saja banyak yang ngomel karena saya selaku ibu angkat de facto dari Takkun itu alpa ngasih makan "anaknya". Selain itu, musim hujan yang berkepanjangan juga membuat yang bocor-bocor di rumah jadi semakin parah, akhirnya Takkun terpaksa diungsikan ke rumah teman, dan… saya rindu Takkuuuuun!

Eh, tapi curhatan kali ini bukan tentang kotak takakura, tapi sekadar pengamatan belaka (yang so pasti bisa saja salah besar). Jadi begini, kayaknya semakin banyak orang-orang di sekitar saya yang semakin tertarik untuk "menyelamatkan bumi", paling tidak sudah mau mencoba yang namanya pengomposan. Ada pula yang terlihat antusias untuk mendaur ulang benda-benda non-organik, apalagi yang punya anak. Kegiatan prakarya menggunakan "sampah" bisa dilihat sebagai sarana family bonding, sebuah kegiatan yang bisa dikerjakan bersama-sama antara orang tua dengan anak.

Tapi banyak juga yang mengeluhkan kalau mereka tidak punya ide, yang punya ide terbatas, dan setelah idenya habis terpakai, bingung mau ngapain lagi. Ada juga yang mengatakan bahwa banyak sekali kemasan-kemasan produk yang secara teori sebenarnya bisa dikreasikan, tapi akhirnya jadi terbengkalai begitu saja karena untuk mengkreasikannya butuh kesusahpayahan. Atau ada juga yang mengeluhkan kalau untuk melakukan hal-hal kreatif itu ternyata butuh alat-alat khusus yang sering tidak aman digunakan dan dikerjakan anak-anak.

"Demam Daur Ulang" ini sebenarnya, menurut saya sih, mendorong agar para produsen menerapkan rekayasa produk yang lebih baik lagi. Banyak kemasan yang beredar sekarang yang dibuat hanya dengan
memperhatikan nilai fungsionalnya saja, dan mungkin nilai estetikanya
datang belakangan.

Tapi, saya kira, kalau bentuknya lebih bagus/indah, dan juga lebih mudah untuk diutakatik (nggak perlu alat khusus, atau alat-alat yang tidak aman bagi anak-anak misalnya), bisa membantu kita-kita yang kurang kreatif (termasuk saya tentunya), untuk membayangkan "kehidupan kedua" dari benda-benda yang biasanya jadi sampah ini. Jadi, akhirnya daur  ulang kreatif tidak hanya menjadi hak milik atau hak prerogatif orang-orang kreatif, maupun rumah-rumah design, tapi juga jadi milik orang kebanyakan.

Contohnya begini, produk kecantikan cewek banyak yang terbuat dari plastik warna-warni, ada yang bahannya agak tipis sehingga bisa dengan mudah digunting menggunakan gunting kertas, tapi ada juga bahan yang terbuat dari plastik tebal yang ngguntingnya harus pakai tang, atau malah gergaji (dan kalaupun sudah tergunting, sisinya masih  atau malah jadi tajam). Untuk bahan jenis pertama, tentu lebih mudah untuk dikreasikan,
saya yang bodoh ini saja sudah bisa membuat gelang, gantungan kunci,
magnet kulkas dari botol plastik. Semata-mata karena mudah digunting
dan nggak perlu tenaga banyak. Untuk yang susah… ya susah, belum lagi
kalau kebeler sisi tajamnya. 

Jadi, menurut saya sih, desainer produk mungkin (kalau sempat dan kalau tertantang) dapat memikirkan pula bagaimana membuat kemasan/produk  yang mempermudah lebih banyak lagi keluarga atau rumah tangga untuk ikut serta dalam "demam daur ulang" ini. Mungkin akan sangat baik hasilnya kalau "mendaur ulang" dapat dijadikan suatu pengalaman keluarga yang aman dan berguna.

Mungkin saja, tidak lama lagi, kemasan/produk yang kita beli dikemas lengkap dengan "Saran Daur Ulang" (recycling suggestion) yang dapat dilakukan oleh seluruh anggota keluarga, secara aman dan menyenangkan.



Mendaur ulang kemasan dan HAKI

2.02.2008
kategori: hukum

Jadi gini, kan sekarang yang namanya daur-mendaur ulang kan lagi seru-serunya nih. Mulai dari individu sampe organisasi semuanya punya minat. Di mana-mana sekarang banyak terlihat yang memakai dan menjual benda-benda daur ulang. Tentu pada pernah tau dong tas jinjing, kotak pinsil, dan pernik-pernik lain bikinan organisasi semacam XS Project atau Pepulih? Itu lho, pernik-pernik yang terbuat dari kantong bekas deterjen, pelembut, pewangi, cairan pel, bahkan minyak goreng.

Nah yang pengen ditanyain: Apa organisasi seperti ini punya perjanjian dengan produsen (misalnya Unilever, Reckitt Benkiser, Johnson & Johnson atau perusahaan produsen semacem itu)? Karena kan menyangkut penggunaan desain kemasan yang merupakan hak cipta kan, ya?

Kalau memang punya, perjanjian yang seperti apa? Apakah ada hukum yang mengatur pendaur-ulangan sampah untuk kebutuhan komersial?

Aku rasa sih kalo emang bikinnya dari sampah sendiri untuk dipake sendiri sih kayaknya nggak masalah, ya? (kalo ga salah mengerti, ketika kita beli produk itu, kita juga membeli “hak pakai” dari produk itu; baik memakai isinya atau kemasannya). Tapi kan kalo sudah dijual, untuk kepentingan komersil, cari dana, atau apa saja yang mendatangkan uang, apakah ada aturan lainnya lagi?

Kenapa aku pengen tau? Soalnya begini, sekarang ibu-ibu PKK, kelompok anak muda, dan kelompok lainnya rajin banget bikin kerajinan tangan dari sampah kemasan ini (yang dikumpulkan dari komunitasnya tentunya). Dan tentu saja ada keinginan juga untuk menjualnya. Mungkin mereka menjual rumah-ke-rumah, atau mungkin mereka titipkan pada saudara/teman/kenalan yang punya warung atau toko kecil atau toko besar. Dan mungkin uang penjualannya dipake untuk nambahin kas, untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka, atau digunakan untuk subsidi silang program-program komunitas.

Nah, apa yang harus mereka perhatikan? Jangan sampai, antusiasme ini malah kemudian membuahkan masalah. Serem kan kalo tiba-tiba nggak ada angin nggak ada ujan tiba-tiba dibilang melanggar hak cipta (yaitu desain/rekayasa kemasan produk), dikasih perintah C&D, atau seremnya lagi dikenain denda yang buesaaaaaar…

Gimana? Kira-kira ada yang tau nggak, hukum atau peraturannya gimana?