Sampah Setinggi Gunung, Sedalam Lautan…

29.01.2008
kategori: curhat

Belakangan ini lagi rame soal banjir, dan kalau ada banjir pasti ada yang ngomel-ngomel soal sampah. Sampah nggak cuma menggunung di TPA (yang sampe longsor nimpa orang), tapi juga sampah yang menggumpal di dalam got, saluran air, dan di tong sampah. Tambah lagi ini itu, akhirnya banjir deh.

Sejak kapan hari, selama awal tahun ini entah berapa banyak SMS yang masuk dari teman memberi laporan terkini mengenai banjir di daerah mereka. Ada juga yang kirim e-mail berikut foto bukti banjir yang sampai sematakaki, selutut, sepinggul, sedada, sejidat, seubun-ubun. 

Kemarin sempat ketemu dengan beberapa teman dan pembicaraannya masih juga seputar banjir, dan tanpa aba-aba sampai juga ngebahas tentang sampah. Biasanya sih aku nggak pernah ngeblog curhat/gosip atau cerita/ngegosip panjang-panjang di blog ini… tapi karena masih "dalem topik"… hihihi… *nyeleneh*

(more…)



Tacchan dan Takkun: Musim Penghujan

26.01.2008
kategori: praktek, takakura

Musim penghujan ini bawa banyak berita buat Tacchan dan Takkun. Tacchan adalah eksperimen Takakura Systemku yang pertama (sejak Juli lalu) dan sudah pensiun (alias sudah dipake, walau kayaknya kualitasnya kurang okeh karena sering salah-salah (yah, bisa dibaca di seluruh penjuru blog ini). Takkun adalah Takakura II, adiknya Tacchan. Nama Takkun ini langsung dapet dikasih dari Pak Takakura lhoooo (aduuuuh, jadi malu. Hehehe. (makasih buat Om Didut yang udah baik hati hihihi)).

Saat ini Takkun usianya baru… yah 3 hari kali, ya? Dan, beda dengan kakaknya yang "anak Musim Kemarau", Takkun ini "anak Musim Penghujan". Hari pertama sempet gagal lho, soalnya ternyata atap di garasi bocor dan langsung ngetes (ngebanjirin) Takkun. Jadi harus diulang lagi.

Masalah sekarang adalah lembab, dingin. DINGIN! DINGIN SEKALI! Ya ampun. Air mandi aja jadi dingin banget, kayak kalo di Puncak gitu. Padahal ini kan Jakarta! Wong bangun pagi aja biasanya udah kepanasan, ini kok malah kedinginan. Takkun, yang masih bayi, juga kedinginan, dan nyari pojokan ruangan di garasi yang selalu hangat tanpa bocor rada susah juga. Tapi udah ketemu. Juga di kotak komposnya, kardusnya dilapis sama kardus lagi dilapis kardus lagi, terus di antara kardus-kardus dipakein tumpukan koran, dan di atas dan di bawah Takkun itu dilapisin sama karung plastik yang banyak.

Hihihi, jadi semacam insulasi darurat. Lumayan hangat sih. Nggak usah pake lampu penghangat model kalo lagi ngegedein pitik ayam. (Eh, tapi ngaruh nggak ya? Apa cuma suges doang?) Jadi pengen tanya sama Pak Takakura, kalo di Jepang gimana. Kan di sana dinginnya sampe turun salju tuh.

Oh iya, harus siap banjir juga nih. Nggak lucu banget kalo pas bangun tiba-tiba Takkun saya sudah hanyut! 



Yagitudeh: Biopori

20.01.2008
kategori: teori, faq

Ini oleh-oleh dari acara Consarety Sanur minggu lalu. Hehehe, satu dari banyak oleh-oleh. Salah satu stand di acara ini adalah mengenai Biopori.

Biopori? Naon eta?
Singkatnya sih: lubang kapiler di dalem tanah untuk menambah penyerapan air. Lubang ini yang bikin bukan siapa-siapa melainkan cacing tanah (yah kita awalnya membantu juga sih). Hebyat!

Man’paatnya apa?
Banyak, katanya. Membantu peresapan air tanah (jadi tanah tetep subur, ada "pengikatnya" dan nggak gampang longsor, atau mati). Mencegah banjir (jadi tanah lebih bisa "minum" air, dan bukannya air itu malah menggenang toh ya. Lalu bisa kompos yang terbentuk juga akan merangsang bakteri baik dalam tanah supaya makin menyuburkan tanah. Selain itu, lubang ini bisa juga dipake untuk menampung sampah organik (asik kan? Pak Tukang Sampah nggak dateng pun nggak panik!)

Biopori, gimana bikinnya?
Para adik kelas sudah membuatkan bagan yang imyut dan lucu. Silakan disimak:

Biopori 

  1. Siapkan bor tanah atau alat melubangi tanah apa saja (gali pake sekop juga boleh mah kalo bisa kali). Pokoknya untuk membuat lubang lah. Kalo bor (manual atau listrik atau batre) emang cocok kalau mau lubang yang rapi dan lumayan cepat.
  2. Gali tanah dengan  alat itu. Dalam = 1 meteran. Diameter lobang: 10-20cm-an.
  3. Isi lubang dengan sampah organik (misalnya daun kering atau sayur, tapi jangan daging kayaknya sih, nanti malah ngundang hewan-hewan yang nggak asik ngubek-ngubek lubang kita).
  4. Buatlah di sekeliling rumah, seperlunya, sepuasnya. (ihihihihi)
  5. Tunggu sampai cacing-cacing itu beraksi. Kemudian nikmati hasilnya.

Perhatian:

  1. Sebelom ngebor, cek dulu apa ada pipa, kabel, atau apalah yang tertanam di dalam tanah situ. Jangan sampe terus ngebor malah jadi masalah sekampung.
  2. Selain itu, kalau rumahnya kayak rumah saya, ingat-ingat waktu hewan peliharaannya mati, ditanem di mana, dan berapa lama sebelumnya. Serem juga kan kalo ngebornya malah… em… hiiiiiy.
  3. Jangan sampai terlalu banyak juga, beri jarak antar-lubang. Jangan terlalu dempet-dempet. Salah-salah malah nanti longsor. 

Pengen tau lebih banyak lagi?
Berkunjunglah ke sini: http://www.biopori.com/



Main kartu remi isi ulang

14.01.2008
kategori: prakarya, kertas

Ada temanku yang kerjanya kampanye isi ulang elektronik. "Jangan beli pocer isi ulang, pilih isi ulang elektronik. Jadi nggak nyampah, gichu lho…" Ya emang sih ya, kalo dipikir-pikir… emang sih, ada yang kerjanya ngoleksi pocer isi ulang. Tapi banyak juga yang langsung buang.

Temanku ini kerjanya jual pulsa. Katanya, emang sih sekarang banyak yang lebih suka isi ulang elektronik. Tapi yang beli pocer-an juga masih banyak. Sebulan bisa sampe puluhan-an gitu.

Trus? Diapain dong pocer-na? Dijadiin kartu nama, bisa…

kartu nama

Atau dijadiin kartu remi. Temenku si penjual pulsa ini lumayan seneng juga ngegambar-gambar sekop, wajik, kritingan, dan hati; ngenulis-nulis dua sampe sepuluh; ngegambar as, cowok, ratu dan raja. 
Kendalanya? Kadang-kadang kartunya ketebelan. Jadi ngocoknya riweuh.

Atau… ditempel-tempel dijadiin rumah-rumahan, atau kotak kartu nama, atau apa saja. 



Acara: Consarety di Sanur


kategori: praktek, berita

Tanggal 12 Januari yang lalu, di SMA Santa Ursula (Sanur), Jalan Pos (almamater saya lhoooo), diadakan acara Consarety (Conserving Environment through Science and Art for Humanity). Seneng banget bisa balik lagi ke alma mater en ngeliat adik-adik kelas begitu antusias. Acara ini juga jadi ajang temu kangen sama guru-guru yang dulu pernah mengajar saya.

Kata salah satu guru, acara pameran dan bazaar Consarety SMA Sanur ini sebenernya adalah lanjutan dari acara Tanam Seribu Pohon yang belom lama ini dilaksanakan oleh Sanur bagi lingkungan sekitarnya. Tahun lalu, mereka juga pernah melakukan Gerak Jalan Membersihkan Lingkungan dan Bazaar Lingkungan Hidup (bersama dengan TK, SD, dan SMPnya juga).

Aku sih kebetulan aja ke sana ngebantu salah satu ruang Pengolahan Sampah. Di ruang kami itu, ada penjelasan mengenai pembuatan kompos padat, pengolahan sampah anorganik, praktek origami, dan lomba memilah sampah.

Tapi saya takjub banget sama apa yang telah dicapai oleh adik-adik kelas. Melalui prakarsa dan semangat murid-murid sekolah itu sendiri, dan dengan dorongan dari guru serta suster-suster Ursulin, kentara banget hasil yang telah dicapai selama beberapa tahun terakhir ini. Mulai dari pemilahan sampah secara aktif di lingkungan sekolah (yang memang sejak dulu sampai sekarang selalu asri dan bersih, sampai-sampai di daerah WC dan wastafel pun bisa tenang duduk di lantai dan ngobrol), hingga penelitian sumber cahaya murah dan aman, praktek pembuatan kompos cair, biopori, daur ulang sampah styrofoam, sampai pupuk cair a la pipis kelinci pun ada. Bahkan ada karya seni maha gede banget yang dibuat dari kaleng minuman ringan yang dipotong kecil-kecil dan dipilin. Sempet nanya, "Bikin ginian berapa tangan yang jadi korban kebeset dan kebeler?"

"Wah, nggak terhitung dengan jari deh, kak!" jawab mereka. Cerdas! Hehehe.  

Banyak banget hikmah yang saya dapat, termasuk dari pentas seni yang digelar oleh kelompok teater SMA Sanur. Ceritanya sederhana, mungkin bisa juga masuk kategori klise (tapi dalam arti bagus lho, bukan jelek), seperti mungkin menonton komedi romantis yang nggak masuk nominasi Academy Awards tapi tetap memiliki pesan moral yang nggak kalah pentingnya.

Lingkungan memang sedang sedih, Ibu Bumi mungkin sedang sedih, tapi mungkin bisa menjadi sedikit bahagia melihat antusiasme generasi muda ini untuk menyelamatkannya.

Oh iya, kaos panitianya bagus lho! 

P.S: Foto-foto dan ilmu-ilmu (ciyeh, serasa Jurus) yang saya dapat nanti akan saya catat lagi di sini. Di posting-an lain ya.