Naik, Naik, ke Puncak Curug
kategori: curhat
Dalem rangka itoe soempah pemoeda, saya dengan beberapa teman akhirnya wisata alam ke Curug Cilember, Cisarua, Jawa Barat. Tempatnya sebenarnya indah, katanya hutan pinus, tapi hal pertama yang paling mencolok ketika kami tiba di sana adalah kurangnya tong sampah.
Di daerah utama (di bawah, di daerah pintu masuk) memang ada tong-tong sampah yang tersedia. Tetapi semakin ke atas (terutama ke tempat perkemahan dan curug) sepertinya malah tidak ada tong sampah sama sekali, bahkan di tempat MCK, tong sampah nggak jelas terlihat (ada nggak ya sebenarnya? Kayaknya ada, tapi kecil dan tersembunyi). Jadilah lantai-lantai hutan penuh dengan sampah. Mulai dari daun pembungkus makanan (baik yang dari daun (ini sih bisa dicerna oleh hutan ya?) sampai yang dari aluminium foil) sampai styrofoam bentuk jala yang biasa dipakai untuk membungkus buah apel atau pir. Sedih deh.
Bahkan sampai di curug pun, dinginnya air dan asrinya hutan jadi kurang greget gimana gitu. Aliran air pun tersumbat oleh sampah dan daun-daun yang berguguran ke mana-mana. Susah juga dan bingung mau ambil posisi foto yang keren tanpa ada latar belakang sampah ngapung, ngambang, atau mengendap di bawah air yang (wah!) jernih banget!
"Coba ya, kalau ada tong sampah," kata temenku sambil membersihkan saluran air yang tersumbat. Yang berbentuk daun dia letakkan di pinggiran dekat tanah, yang plastik atau aluminium dia masukkan ke dalam kantung.
"Lah, belum tentu kalau ada tong sampah terus ada tukang sampah yang kerajinan manjat curug setiap hari buat ngebersihin. Akhirnya jadi menumpuk dan semakin merukak pemandangan," sahut temanku yang lain. Wah, nduk, pesimis nih ceritanya? (hehehe).
Memang sih, naik curug lumayan terjal dan licin, banyak tanah gundul dan jalanan berlubang ("Kuburan kebo ini mah," kata temenku. "Kebo masuk sini, nggak keluar lagi."), juga batu-batu yang tersamarkan. Kalau naiknya sudah hore, turunnya lebih hore lagi. Tidak cukup hanya untuk mencari tempat pijakan yang aman di sela-sela tanah gundul nan licin nan miring, tetapi harus jeli juga supaya tidak menginjak sampah yang pura-pura terkubur di tengah jalan.
Sepertinya belum beberapa menit temanku bilang, "Awas ada batu lepas!" tiba-tiba dari arah depanku ada seseorang yang berteriak: "Buset! Gue keslimpet bungkus kripik!"
Usut punya usut, seseorang ini (bukan dari rombongan kami, tapi dari rombongan sebelah), sedang menuruni bagian tanah yang curam dan licin dan hampir berhasil sampai di tempat yang landai dan aman. Tiba-tiba kakinya memijak bungkusan makanan ringan yang agak tersamarkan lumpur, dan sukseslah bungkusan itu membawa dia meluncur sampai bawah tanpa rem. Untung sekali di bawah sana ada temannya yang berhasil mengerem laju jatuhnya, dan tidak sampai nyemplung ke dalam jurang.
Jadi, mungkin moral cerita ini sebenarnya: sampah itu nggak cuma berbahaya bagi alam itu sendiri, tapi berbahaya juga bagi mereka yang hendak menikmati alam.
Oh iya, selama perjalanan naik turun curug saya berhasil mengamankan dua botol body lotion untuk nanti dijadikan gelang. Warnanya merah muda, tapi sudah agak kusam karena mungkin sudah lama dibuang ke dasar curug oleh (mantan) pemiliknya.
Untuk foto, nanti disusulkan ya. Mungkin Pasti hasilnya jelek, karena saya anak buangan mapala gagal total yang sibuk ngesot dan ngegelinding turun dari bukit.