Memilah dan kebahagiaan

23.09.2007
kategori: curhat

Pagi itu, di depan rumah, aku bertemu dengan pemulung yang mengais sampah untuk mencari gelas dan botol plastik. Aku akhirnya ingat juga kalau di rumah masih ada satu plastik besar berisi gelas plastik bekas air mineral, bekas rapat di kantor. Walau sudah sering menemukan reaksi seperti itu, aku masih kaget setiap kali bapak atau ibu pemulung kaget bercampur senang ketemu gelas plastik yang masih bersih dan belum peyot atau benyek.

"Wah! Banyak dan bersih ya!" katanya. "Ada yang lain nggak? Saya terima plastik lain kok. Bekas deterjen, botol sampo, besi bekas, koran bekas, aki bekas… Waduh! Bersih banget, mbak!" Entah sugesti atau apa, tapi kok rasanya seruan si bapak ini agak bahagia ya?

Jadi tambah semangat milah dong!



22 September: Hari Tanpa Kendaraan

22.09.2007
kategori: curhat

Hari Sabtu, hari tanpa kendaraan (pribadi). Paling nggak di sekitar Thamrin-Sudirman,Jakarta. Kata orang, bagus juga untuk mengurangi sampah yang bentuknya asap. Tapi, waktu aku lewat (naik bis Transjakarta yang masih beroperasi, tapi lebih mirip kaleng sarden dipakein mesin dan roda), masih banyak juga kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi masih diizinkan lewat jalur lambat. Kendaraan umum trayek tetap juga katanya masih boleh lewat. Tapi terkadang miris juga kalau melihat asap knalpot yang buset hitamnya itu membumbung sampai ke langit Jakarta.

Sampah asap memang buruk, kapan ya ada "hari tanpa buang sampah sembarangan" di daerah Thamrin-Sudirman? Walaupun jalanan Thamrin-Sudirman lengang (paling nggak jalur cepatnya lah, itu juga kalau lagi tidak diserobot oleh kendaraan beroda dua), dan bebas kendaraan, trotoar tentu saja sudah jadi tong sampah kedua.

Banyak yang meludah sembarangan, banyak yang membuang bungkus permen dan kotak bekas minuman ke atas trotoar. Ada juga yang nggak mau buang ke trotoar tapi bingung cari tong sampah, akhirnya sampahnya "dititipkan" ke dalam pot bunga hias. Belum lagi jembatan penyebrangan atau pojok-pojok trotoar yang dikaryakan menjadi WC umum.

Eh, tapi berasa beda lho, jalanan yang asapnya sedikit. Waktu aku berdiri di atas jembatan penyebrangan, udara kayaknya lain deh. Apa sugesti aja ya? Tapi bener lho, jalan kaki juga jadi lebih menyenangkan. Biasanya kalau aku jalan kaki dari Sarinah sampai ke Harmoni, debu di muka banyak banget, sampai harus empat kali pake cleanser, itu aja masih kotor banget. Tapi kemarin itu, cukup dua kali dan kapas ketiga nggak begitu kotor.

Jakarta masih kotor sih, tapi paling nggak satu hari itu… kotornya nggak banget-banget amat. Yang paling bikin hati senang itu, ngeliat banyak burung yang main-main di tengah jalan tanpa takut diserempet mobil.  



Tacchan: Minggu Keenam

14.09.2007
kategori: praktek, takakura

Ternyata usaha penyelamatan Tacchan agak berhasil. Saya senang sekali. Kotak kompos sudah tidak basah lagi dan jamur juga sudah tidak tampak lagi. Panasnya juga sudah tidak berlebihan dan tidak ngalahin oven emak (yang kemaren sempat meleduk sebentar, tapi ini tidak ada hubungannya sih dengan Tacchan).

Tapi… mungkin karena terlalu panik dan berlebihan, keadaan kotak kompos malah menjadi agak kering. Kering dalam arti, kandungan airnya sepertinya sih kurang dari 30%. Dari Pak Tri, aku dapet tips mengukur kandungan air mudah (tapi tentu tidak akurat titik komanya). Ambil sekepal kompos, kalau dikepal lalu kepalannya dilepaskan:

  1. Komposnya menggumpal (seperti nasi kepal orang Jepang) dan tidak buyar, maka terlalu banyak air. 
  2. Kalau komposnya malah buyar seluruhnya dan rasanya kasar seperti pasir/kerikil, berarti kurang air.
  3. Kalau tidak buyar seluruhnya, tetapi tidak juga menggumpal (di tengah-tengah), maka kandungan airnya cukup.

Nah, karena kemarin sempat panik dan akhirnya terlalu banyak menggunakan serbuk kayu dan kertas koran, akhirnya kondisi di dalam kotak kompos adalah kondisi nomor 2. Tacchan menjadi agak kasar. Solusinya adalah diperciki dengan air (disemprot-semprot), tapi jangan sampai menggenang. Airnya sebaiknya tidak terlalu asam dan tidak terlalu basa (pHnya seimbang), atau dengan air lindi sedikit juga boleh.

Nah, yang aku takutkan sebenarnya dengan adanya berbagai krisis ini, apakah kualitas Tacchan masih bagus, ataukah malah buruk? Katanya sih tidak ada kompos yang buruk sama sekali, hanya saja komposnya berkualitas rendah. Tapi kan sayang ya kalau Tacchan jadi kompos yang berkualitas rendah (mungkin ini eufemisme dari kompos gagal).

Tapi, kata temanku, harus dilihat dari segi bagusnya juga. Tacchan telah mengajarkan banyak hal buat saya supaya tidak mengulangi kesalahan seperti dulu ya? 

Sudah satu bulan setengah perjalanan pembuatan kompos bersama Tacchan. Entah bagaimana nanti hasilnya. Tetapi sudah banyak yang saya dapatkan dari Tacchan, dan semoga masih bisa terus belajar supaya nanti kompos yang dihasilkan juga bagus dan nggak malu-maluin ya?



Tacchan: Minggu Kelima dan Jamur

7.09.2007
kategori: praktek, takakura

Jamuran. Menyedihkan sekali. Tacchan Jamuran. Kemarin ketika saya pulang dari kantor, saya membuka kardus Tacchan dan ketika menyentuh kardus yang sama sekali lepek dan basah, saya sudah mempunya perasaan yang agak kurang enak. Benar saja. Karung pelapis dan bantal kuyup basah oleh uap, dan jamur putih berbulu memenuhi seluruh permukaan. Setelah dikorek-korek, bahkan sudah sampai ke tengah dan hampir ke bagian dasar. Panik! Panik yang luar biasa. Jamuran! Aduh. Kalau saja jamur pada pupuk kompos dapat dihilangkan dengan obat oles jamur kulit.

Akhirnya saya rontok dan menelepon salah seorang kawan. Dia minta saya cerita dari awal apa sih yang mungkin menyebabkan Tacchan menjadi begitu.  

Dari pembicaraan panjang lebar akhirnya disimpulkan bahwa Tacchan jamuran karena:

  1. Udara panas. Beberapa waktu lalu saya bercerita tentang Tacchan diletakkan di dekat parkiran kendaraan. Sehingga panas dari kendaraan mempengaruhi proses penguraian. Selain itu juga beberapa hari ini matahari seperti sedang buka cabang di mana-mana.
  2. Kelebihan muatan. Terlebih daripada udara panas adalah kesalahan saya sendiri. Tacchan kelebihan muatan. Terlalu banyak sampah yang dimasukkan mengakibatkan bakteri tidak dapat mengimbangi pembusukan.
  3. Muatan yang basah. Basah dan panas. Tempat yang cocok untuk pertumbuhan jamur dan lain-lain. Mungkin kalau saya memasukkan kentang bulat-bulat, pastinya akan cocok tumbuh jadi kentang.

Akhirnya, setelah memindahkan Tacchan ke dalam kardus ketiga dalam dua minggu (bayangkan, harusnya kardus minimal ditukar sebulan sekali bahkan kadang-kadang bisa lebih!) dilakukan tahap-tahap perbaikan, maksudnya berusaha menyelamatkan Tacchan.

  1. Menggunakan kardus baru yang kering.
  2. Mencampur Tacchan dengan: (a) Pupuk baru sebagai starter. Untung saja Emak punya persediaan pupuk yang dulu dibeli dari toko tanaman. Pupuk ini tentu saja kering dan "sehat". Pupuk ini dicampurkan ke dalam Tacchan dan diaduk; (b) Serbuk kayu. Untung juga saya bisa ‘ngembat’ serbuk kayu yang lumayan banyak, mungkin membuat hamster orang nangis karena serbuk kayunya diambil untuk pupuk. Serbuk kayu digunakan untuk membantu penyerapan kelebihan air; (c) Koran bekas. Ini juga untuk membantu penyerapan air supaya tidak berlebihan.
  3. Menghentikan membuang sampah dapur di dalam Tacchan. Sudah cukup banyak sepertinya. Jangan kelebihan muatan lagi.
  4. Berdoa yang banyak.

Aduh, semoga masih bisa terselamatkan. Kata teman saya sih, ini belum sakit fatal kok. Dan sebenarnya jamur itu juga baik untuk kompos toh? Karena kalau membeli bio-aktivator, pasti di dalamnya juga ada senyawa jamur (fungi) gitu.

Sekarang, sambil dagdigdug menunggu, saya mau cari tahu lebih banyak tentang jamur dan ekosistem jamur.