Hari Sabtu, hari tanpa kendaraan (pribadi). Paling nggak di sekitar Thamrin-Sudirman,Jakarta. Kata orang, bagus juga untuk mengurangi sampah yang bentuknya asap. Tapi, waktu aku lewat (naik bis Transjakarta yang masih beroperasi, tapi lebih mirip kaleng sarden dipakein mesin dan roda), masih banyak juga kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi masih diizinkan lewat jalur lambat. Kendaraan umum trayek tetap juga katanya masih boleh lewat. Tapi terkadang miris juga kalau melihat asap knalpot yang buset hitamnya itu membumbung sampai ke langit Jakarta.
Sampah asap memang buruk, kapan ya ada "hari tanpa buang sampah sembarangan" di daerah Thamrin-Sudirman? Walaupun jalanan Thamrin-Sudirman lengang (paling nggak jalur cepatnya lah, itu juga kalau lagi tidak diserobot oleh kendaraan beroda dua), dan bebas kendaraan, trotoar tentu saja sudah jadi tong sampah kedua.
Banyak yang meludah sembarangan, banyak yang membuang bungkus permen dan kotak bekas minuman ke atas trotoar. Ada juga yang nggak mau buang ke trotoar tapi bingung cari tong sampah, akhirnya sampahnya "dititipkan" ke dalam pot bunga hias. Belum lagi jembatan penyebrangan atau pojok-pojok trotoar yang dikaryakan menjadi WC umum.
Eh, tapi berasa beda lho, jalanan yang asapnya sedikit. Waktu aku berdiri di atas jembatan penyebrangan, udara kayaknya lain deh. Apa sugesti aja ya? Tapi bener lho, jalan kaki juga jadi lebih menyenangkan. Biasanya kalau aku jalan kaki dari Sarinah sampai ke Harmoni, debu di muka banyak banget, sampai harus empat kali pake
cleanser, itu aja masih kotor banget. Tapi kemarin itu, cukup dua kali dan kapas ketiga nggak begitu kotor.
Jakarta masih kotor sih, tapi paling nggak satu hari itu… kotornya nggak banget-banget amat. Yang paling bikin hati senang itu, ngeliat banyak burung yang main-main di tengah jalan tanpa takut diserempet mobil.