Tacchan: Minggu Ketiga

15.08.2007
kategori: praktek, takakura

Sudah masuk minggu ketiga lebih setengah minggu. Saya sudah nggak begitu panik lagi sih, karena kayaknya Tacchan, si Kompos Takakura milikku, baik-baik saja. Hanya saja, pas akhir pekan kemarin, Tacchan mendapat amat sangat banyak sekali. Maklum, emakku waktu kemarin bikin tumpeng untuk ulang tahun dua tante. Jadilah sampah dapur melimpah ruah, sesuai dengan ukuran tampah yang gede banget.

Baru kali ini Tacchan isinya penuh begitu. Tapi sepertinya bakteri-bakteri itu sudah terbiasa dan aktif sekali. Karena baru selang dua hari, bahkan wortel yang keras itu sudah berubah menjadi debu-debu gitu.

Sekarang, masalah yang muncul adalah mengganti kardus Tacchan dengan kardus baru. Karena bakteri itu kan nggak cuma mengunyah-ngunyah sampah, tetapi juga dinding kardus ya. Apalagi kalau kandungan air pada komposnya juga turut membantu pelapukan dinding kardus itu. Dinding kardus itu sekarang sudah mulai terlihat tanda-tanda "keropos", sudah tidak sekokoh waktu itu lagi. Jadi sebelum kardusnya jebol dan kompos serta sampah berhamburan ke mana-mana, kardus harus segera diganti. Memang sih katanya sebulanan gitu harus ganti ya? Kadang-kadang tahan lebih dari satu bulan sih, tergantung dengan seberapa pemilihnya sang bakteri itu.

Mungkin kardus Tacchan akan aku ganti minggu depan. Semoga saja tahan sampai minggu depan, sampai bisa menemukan kardus lagi.  



semakin macet semakin getol

12.08.2007
kategori: curhat

Kalau di luar negeri semakin santer pemberitaan tentang kota atau kantor atau rumah yang semakin getol melakukan gerakan penghijauan, atau semakin getol memilah (nggak cuma organik/anorganik, tapi sampai lebih dari lima macam tong sampah dipejeng di rumah atau di kompleks)… di Indonesia semakin getol ngapain ya?

Memang sudah banyak Pemkot yang santer mengajak warganya untuk melakukan gerakan hidup bersih, sudah banyak RT/RW yang semakin hijau dan jadi daerah percontohan, bahkan pemberitaan tentang sampah dan pengolahan sampah sudah semakin santer terlihat di media massa.

Tapi ada satu kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan, nyampah ke jalanan dari dalam mobil. Memang sih kalau dipikir-pikir, jalan raya bisa saja dijadikan tong sampah yang sangat besar. Kilometer demi kilometer aspal yang tidak berujung. Apalagi kalau di jalanan ada ceruk-ceruk besar yang kalau sapi nyebur ke sana pun sapinya hilang. Lubang-lubang yang menguji kehebatan shockbreaker ini cocok juga untuk kubangan air, dan tong sampah dadakan.

(more…)



mangkok kertas

11.08.2007
kategori: prakarya, kertas

Aku masih inget dulu Bu Guru sayah waktu SD mengajarkan kami murid-muridnya membuat mangkok dari kertas. Namanya anak kecil, habis bikin, dikasih ponten, lalu lupa lagi cara bikinnya. Hingga akhirnya tibalah saya di kantor yang sekarang dan melihat mangkok macam ini bertengger di atas meja teman saya. Isi dan ukurannya bermacam-macam. Ada yang besar dan berwarna cerah berisi permen untuk menyambut semua tamu yang datang ke mejanya (dia dipanggil Ibu Permen oleh teman-teman), ada yang berwarna biru berisi klip kertas, ada juga yang berwarna kuning yang berisi perlengkapan kantor lainnya. Pokoknya mejanya menjadi ceria. Nggak melulu berbentuk lingkaran nyamuk, tapi juga kotak dan lonjong dengan desain dasar yang macam-macam.

Dia bilang, ini bermula ketika dia mulai bingung majalah-majalah wanita di rumahnya mau diapakan. Akhirnya dia membuat lingkaran-lingkaran itu sambil menonton telenovela. Tak disangka, setiap satu episode telenovela dia bisa membuat satu atau dua buah mangkok dengan ukuran agak besar. Membuatnya pun tidak susah dan tidak membutuhkan tenaga yang besar. 

Dan cocok sekali untuk anak-anak sekolah dasar, karena nggak butuh gunting atau benda-benda tajam. Jadi kalau tidak mau menggunakan selotip (misalnya karena "pisau" pada dispensernya agak tajam) bisa menggunakan lem atau bahkan nasi sisa. Hehehe.

(more…)



Dompet dari majalah

10.08.2007
kategori: prakarya, kertas

Kapan hari gitu saya diajari teman cara membuat dompet dari kertas bekas. Bisa dari majalah, dari koran, dari kertas fotokopi, brosur, dan lain-lain. Kalau temanku membuatkan dompet kertas murah meriah itu untuk anaknya yang sering bosenan. Hari ini suka Momokuro Boo, hari lain jadi retro dan suka Vaudeville Duo. Supaya tren dompet anaknya juga mengikuti "selera minggu ini", anaknya diajarkan cara membuat dompet dari kertas, supaya kalo gonta-ganti model tidak berat diongkos. Bagusnya lagi, walau perlu gunting dan/atau cutter, dua benda tajam ini nggak mesti kok. Asal menyobeknya rapi, bisa menggunakan jari (dibantu dengan penggaris) saja. Dan tidak butuh lem juga (tapi kalau mau juga boleh).

Motifnya tinggal dicetak menggunakan printer berwarna di atas bagian polos pada kertas bekas yang hendak dilipat menjadi dompet, atau kertas ditempelkan guntingan-guntingan bercorak bagus, kemudian dilapisi plastik berperekat (laminating sheet), jadi deh. Atau kalau sudah menggunakan kertas majalah yang agak tebal, tidak dilapisi lagi juga sudah lumayan kuat. 

Aku coba bikin langkah-langkahnya di sini ya. Semoga jelas gitu. Berhubung saya kan paling nggak pinter ngajar. Kalau ada salah atau kurang jelas, mohon maaf before and after (kayak kata temenku).

(more…)



Tacchan: Hari kedelapan

8.08.2007
kategori: curhat

Sepertinya perjalanan Tacchan dari sampah menjadi kompos akhirnya berjalan lancar. Kebanyakan sampah yang masuk minggu lalu sudah mulai berubah menjadi warna coklat kehitaman. Dan masih belum berbau. Ya iya lah ya, masa’ begini aja bau ya?

Ibu Endang malah menyimpan kotak takakuranya di ruang makan, saking nggak baunya. Dan semua orang yang datang nggak akan tau kalau itu kotak takakura kalau nggak diberitahu. Emang sih kalau ditaroh di ruang seperti itu ya harus lebih bagus dikit presentasinya. Pake keranjang plastik dengan warna yang menarik. Nggak seperti Tacchan yang cuma kardus bekas air mineral. Hehehe.

Semoga lancar hingga bener-bener jadi pupuk, ya. 

Selamat hari mencoblos juga.

Oh iya, sekarang karena sudah agak tidak sibuk dengan Tacchan, saya sedang coba bikin prakarya dari kertas bekas. Nanti sekalian difoto-foto kalau sudah jadi. Hehehe.. *duh, padahal aku nggak ahli moto euy* 





«« catatan lama •  catatan baru »»