Tacchan: Minggu Keempat
Setelah minggu ketiga dilalui dengan sedikit masalah (minggu ketiga itu minggu tenang, sampah yang dimasukkan jenisnya standar, jumlahnya juga nggak banyak), Tacchan sang Kerangjang Takakura dan saya memasuki minggu keempat yang sarat cobaan.
Hujan deras benar-benar bikin saya sadar akan banyaknya lubang bocor di rumah, alhasil Tacchan pun harus diungsikan ke tempat yang tidak bocor. Ini karena Tacchan musuhan sekali dengan yang namanya sinar matahari langsung atau hujan. Jadi, harus dipindah ke tempat yang teduh. Oke. Akhirnya dipindah ke pojok yang lebih jauh.
Dari segi sampah yang dimasukkan pun Tacchan sudah naik kelas. Tiga minggu pertama, Tacchan hanya mendapat sampah mentah, misalnya daun-daun yang berguguran, sayur mayur sisa, kulit buah, atau daging buah sisa. Ya hitung-hitung saya sebagai ibunda Tacchan latihan dulu lah. Mosok dengan sayur sisa aja udah gagal mau coba yang lain. Syukurlah ternyata tiga minggu itu terlewati dengan lancar.
Oleh karena itu, mulai minggu keempat saya memberanikan diri untuk memberikan sampah dapur yang telah diolah, misalnya nasi, sayur yang sudah dimasak, bahkan roti isi basi. Ini yang bikin aku kebat-kebit ketakutan. Apakah nanti Tacchan akan sakit? Ada beberapa hal yang tetap harus dicatat:
- Makanan yang mengandung minyak atau santan harus dibilas sampai bersih. Minyak dan santan mempercepat pembusukan dan menghalangi fermentasi. Tacchan bisa sakit — bisa bau dan bisa rusak.
- Makanan tetap harus dicacah supaya Tacchan bisa dengan gampang mencerna.menjalankan proses fermentasi.
Selain itu, Tacchan juga pindah kardus. Kardus yang terdahulu sepertinya sudah agak lapuk (karena memang pada awalnya sudah menggunakan kardus lapuk sih), jadi harus segera dipindah ke kardus baru sebelum kardusnya habis dimakan oleh bakteri-bakteri yang kerajinan itu. Kalau kardusnya habis dimakan, nanti kan isinya buyar semua. Proses pemindahan kardus ini sempat membuat bingung, karena nggak punya serokan atau sendok guedeeee gitu. Tapi akhirnya dengan memberanikan diri, Tacchan dijungkirbalikkan ke dalam kardus yang baru.
Letak bantal sekam juga diubah. Yang tadinya di bawah sekarang dijadikan penutup atas, yang tadinya di atas, dipindah ke bawah. Ini juga menolong proses sirkulasi dan penyaringan.
Akan tetapi, usaha untuk melindungi Tacchan dari hujan malah berakibat buruk. Pojok tempat Tacchan dipindahkan itu dekat sekali dengan kendaraan yang digunakan keluarga. Alhasil, panas dari mesin kendaraan sedikit banyak mempengaruhi suhu Tacchan.
Tacchan menjadi panas sekali, mungkin lebih dari 40°C yang menjadi batas maksimal normal (mungkin boleh lebih sedikit sih, tapi ini panas sekali). Aku baru tahu kenapa Tacchan harus diletakkan di tempat teduh. Panas yang amat-sangat ini sangat membantu bakteri supaya semakin giat bekerja. Alhasil cacahan roti, nasi, dan kulit pete yang baru dimasukkan sehari dua hari yang lalu sudah mulai coklat dan menjadi butiran pasir sedikit-demi-sedikit.
Karena proses fermentasi terlalu cepat, Tacchan menghasilkan uap air yang banyak dan meresap sampai keluar kardus. Aku rasa, kalau tidak cepat-cepat dipindahkan, Tacchan bisa menghasilkan air lindi deh. Dan itu bukan hal yang seharusnya dihasilkan oleh Keranjang Takakura.
Sepertinya, itulah mengapa metode pembuatan kompos yang singkat-singkat waktunya (misalnya dengan menggunakan mini-composter, yang notabene cuma butuh 5 hari-an… bandingkan dengan Tacchan yang satu bulan-an) menghasilkan lindi.
Akhirnya Tacchan dipindah lagi ke tempat semula, dan aku sedang negosiasi ke emak supaya Tacchan bisa masuk ke dalam rumah (karena sudah terbukti bahwa Tacchan tidak menghasilkan bau).
Umur Tacchan sudah hampir satu bulan, semoga di minggu kelima tidak begitu ada masalah yang bikin orang sport jantung.
menarik, nanti kalau sudah lebih sering di kost aku juga mau belajar recycle kaya gini
ajarin ya
Comment by starchie — 27.08.2007 @ 10:17 pm
selamat sore … kebetulan pak takakura seminggu ini berada di kantor saya (semarang) untuk berbagi pengalaman
dan saya ingat kalo kamu pernah komen di blog saya mengenai kompos takakura
beliau senang sekali kamu menulis tentang ini
saya cari imel blog ini tapi tidak ada jadi saya komen di postingan teratas di blog ini
pak takakura mau minta tolong kalo bisa nama tacchan-nya diganti jadi takkun atau tackun hehe~
salam lestari ….
Comment by didut — 23.11.2007 @ 9:28 am
BTW kalo ingin japri ke imel saya saja yah
Comment by didut — 23.11.2007 @ 9:28 am