Yagitudeh: Double Digging, Teori Gali Dua Kali

20.08.2007
kategori: teori

Pengolahan sampah yang cocok untuk mereka yang punya halaman agak luas…

Double Digging Theory
oleh: Br. Dieng, SJ

Double digging adalah salah satu cara untuk mengolah sampah dan menyuburkan tanah. Cara ini biasanya diterapkan ketika ada hamparan lahan yang agak luas. Manfaat cara ini adalah untuk mengurangi jumlah sampah organik dengan cara menimbunnya pada lapisan tanah tertentu. Cara ini terbukti dapat memperbaiki kondisi tanah dan menghidupkan/mengaktifkan berbagai macam mikro organisme yang terdapat dalam tanah sehingga dapat menyuburkan tanah dan tanaman yang berada di atasnya.

Caranya…

  1. Persiapan. Siapkanlah lahan tertentu yang ingin anda garap sebagai tempat untuk mempraktekkan teori ini.
  2. Pengangkatan. Angkatlah top soil (lapisan tanah atas) dan pindahkan di bagian ujung atau akhir lahan yang sudah anda rencanakan untuk praktek. Top soil biasanya memiliki ketebalan antara 15-20 cm.
    Catatan: Luas dari top soil yang diangkat disesuaikan dengan panjang dan lebar dari lahan yang rencananya akan digunakan. Jadi, misalnya untuk lahan seluas 1 x 10m, pengangkatan top soil bisa mengambil 1m/segi. Luas pengangkatan juga tergantung dari volume sampah yang kita miliki.
  3. Penggemburan. Setelah melakukan pengangkatan, lakukanlah penggemburan pada lapisan sub-soil dengan menggunakan garpu. Kedalaman sub-soil biasanya mencapai 20-25cm.
  4. Letakkan sampah organik di atas lapisan sub-soil yang sudah digemburkan. Taburkan kotoran ternak (misalnya ayam, sapi, atau kerbau). Jika tidak ada, bisa menggunakan pupuk kompos.
  5. Tutuplah sampah organik yang sudah ditaburi kotoran ternak/pupuk kompos dengan menggunakan top soil dari tanah yang ada di sebelahnya. Lubang dari bekas top soil yang diambil tadi kini siap untuk dijadikan tempat penumpukan sampah organik berikutnya. Jangan lupa untuk menggemburkan lapisan sub-soilnya yaaa…
  6. Ulangi langkah-langkah tersebut sampai akhirnya tiba pada ujung bagian lahan yang direncanakan. Pada bagian akhir lahan yang digunakan untuk penerapan double-digging ini, tutup dengan menggunakan top soil yang didapat pada pemindahan yang pertama kali tadi.

Double digging adalah salah satu cara menyuburkan atau memperbaiki kondisi tanah dengan memanfaatkan bahan-bahan organik yang memang sudah disediakan oleh alam. Menurut saya, cara ini cukup efektif untuk diterapkan oleh mereka yang tidak memiliki banyak waktu untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.

Selamat mencoba, ya!



4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://blogsampah.blogsome.com/2007/08/20/28/trackback/

  1. Oh… menghilang selama ini ternyata jadi pemulung™ sampah, tho?

    *meringkuk di pojokan*

    Comment by alex — 20.08.2007 @ 4:52 pm

  2. haiii salam knal ^^
    salute to youu!
    blognya keren yaa, lain dari yang lain. hwhwhwhw.
    ga banyak loh org yg pduli ama sampah. ^^
    btw otw busway,
    numpang nanya, pernah dgr ttg pengolahan air pake lumpur aktif yg bnyk bakteri aerobnya?
    lg desperate neh bkin tugas skolah.. huhuhu -_-
    bisa tolong bantuu?
    makasi ya klo direspon, klo ga direspon juga makasi kok, blognya sgt keren. hahahaha. thx yaa :)

    haiiiiii… wadyuuuuhhh jadi malooooeee.. :”> makasih yaaaa… hihihi
    aku sih belom pernah denger tentang air pake lumpur itu. tapi ntar aku tanya-tanya ya?hehehe… *buru-buru telepon anak biologi* Untuk sementara, dari Um Gugel aku dapat ini dan ini. Wah! kelihatannya seru juga. Oh iya, semoga tugas sekolahnya lancar-lancar yah dan bisa membawa banyak manfaat :D thx bgt yaaah!

    Comment by arditha — 21.08.2007 @ 11:38 am

  3. saya ingin mencoba pembuatan tong komposter takakura.
    yang ingin saya tanyakan:
    1. Bahan apa saja yang digunakan untuk membuat stater dan komposisi campuran bahannya?
    2. Bagaimana caranya mengetahui stater sudah sempurna dan memenuhi syarat untuk digunakan?
    Terima kasih atas jawaban dan infonya.
    saya ingin mengembangkan di desa saya, yaitu daerah madiun.

    Kalau untuk starter sih saya biasanya beli pupuk yang sudah jadi. Pupuknya katanya dipilih yang agak bagus mutunya. Jadi nggak perlu bioaktivator (seperti kalo misalnya mau pake mini-composter). Nanti starternya dipake untuk menimbun sampah dapur, dan diaduk terus setiap menambahkan sampah dapur. Lama kelamaan kan penuh tuh, dan harus didiamkan 2 mingguan. Nanti kalau sudah jadi pupuk kompos dari takakura sebagian bisa jadi starter lagi.

    Tanda-tanda sudah jadi pupuk kompos itu ya warnanya sudah hitam seperti pupuk kompos pada umumnya, sudah sempurna prosesnya, dan kandungan airnya sebaiknya berkisar 30%.

    Yang aku tahu sih itu. Hehehe. Maklum, masih belajar nih.

    Semoga nanti di Madiun berhasil ya!

    Comment by danang — 6.09.2007 @ 7:53 am

  4. aku lagi bikin kompos dg takakura mulai tgl 1 Jan’08 kemaren (3hari yll), tapi sampai sekarang kok suhunya tidak menjadi hangat ya? adem ayem aja tuh…. Biasannya suhunya mulai naik hari ke berapa?
    tolong yach…… makasih.

    Adem apakah mungkin karena udaranya yang emang agak2 adem kebelakangan ini? Soalnya saya juga ngerasa kok kotak takakura saya agak kedinginan ya (kebetulan saya tarohnya di garasi, dan emang beberapa hari ini garasinya terasa dingin dengan angin yang banyak bertiup, dll gitu). Saya sudah menjapri pula dengan info2 lainnya, semoga sukses yaaaa

    Comment by christine — 4.01.2008 @ 3:06 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.