Takakura Tanya Jawab, bagian 2
Melanjutkan menjawab pertanyaan sendiri…
T: Tacchan, si Keranjang Takakura, mengeluarkan panas ya? Apakah Tacchan sakit? Panas itu apa sih sebenernya? Lalu apakah mengeluarkan gas berbahaya?
J: Katanya, panas yang dikeluarkan itu wajar-wajar saja.
Coba kita tumpangkan tangan ke tangan yang sebelah satu lagi (jangan sampe menyentuh), pasti ada rasa hangat-hangat yang mengalir ruang antara dua tangan itu kan? Itu adalah panas alami tubuh yang dikeluarkan oleh makhluk hidup. Begitu juga dengan bakteri, punya panas sendiri. Tapi karena bakteri itu kecil-kecil jadi kadang-kadang kalo dia lagi bengong ngga melakukan apa-apa, ya nggak terasa panasnya.
Di dalam Tacchan, ada banyak bakteri dan mikroba lainnya yang giat bekerja. Dan kalau sedang giat bekerja, pasti mengeluarkan panas yang lebih banyak. Contohnya, kalau kita berolah raga atau habis bekerja berat, suhu tubuh pasti meningkat lalu merasa gerah. Nah, bakteri juga begitu, mengeluarkan panas (kalor) gitu, dan akhirnya Tacchan juga terasa hangat. Kira-kira begitu teorinya. Semoga aku nggak salah ngerti. Hihihi.

Lalu, apakah bakteri di dalam Tacchan itu mengeluarkan gas? Apakah gasnya berbahaya bagi lingkungan?
Nah, yang ini… aku belum jelas betul tanyanya. Tapi secara garis besar sih… seperti makhluk lainnya, Bapak dan Ibu Bakteri yang mencerna pasti mengeluarkan gas. Akan tetapi, berbeda dengan gas buangan bakteri yang "liar" yang di TPA itu, bakteri yang terdapat di dalam kompos atau di dalam bio aktivator itu adalah bakteri yang "baik" dan "bersahabat". Contoh bakteri yang digunakan untuk kompos adalah Lactobacillus. Nah, sering denger kan nama bakteri yang satu ini? Kayak bakteri yang dipake dalam minuman kesehatan atau susu. Selain itu ada juga Aktinomyces, Saccharomyces, mikroba, bakteri, jamur dan ragi lainnya
Dan, tentu saja jangan lupa kalau bikin kompos lebih pada proses fermentasi, dan bukan proses pembusukan.
T: Seberapa banyak sih sampah yang boleh dimasukkan ke dalam Tacchan? Kapan harus bilang "stop"?
J: Semakin sedikit sampah yang dimasukkan ke dalam kotak ini, semakin cepat sampah itu berubah menjadi kompos, karena perbandingan antara bakteri dan sampah tinggi. Analoginya gimana ya? Mungkin seperti kalau kita punya sepotong roti, dimakan berempat ya lebih cepat habis dibandingkan kalau empat orang itu masing-masing makan satu roti. Jadi semakin banyak bakteri yang bekerja pada satu potong sampah, semakin cepat sampah itu berubah menjadi kompos. Makanya kan sering pake bio-aktivator juga, supaya populasi bakteri di dalam starter kompos jadi banyak.
Gimana perbandingannya? Mungkin paling maksimal adalah 2:1 (dua bagian kompos/bakteri, dan satu bagian sampah). Kalau begini, mungkin prosesnya memakan satu dua bulanan. Kalau perbandingannya 4:1 atau 5:1, mungkin seminggu dua minggu (atau tiga minggu?) paling sudah jadi.
Ukuran ngaruh nggak?
Ngaruh juga sih ya. Semakin halus ukurannya, semakin cepat si bakteri bekerja. Ya bayangin aja kita makan steak daging sapi, antara yang sudah dipotong, sama yang masih berbentuk sapi utuh. Hehehe.
Jadi, kira-kira begitu deh, jawaban yang aku terima dan dirangkum seperti itulah. Mungkin semakin lama aku ngemong si Tacchan, semakin banyak pertanyaan juga ya? Hehehe, jangan kapok-kapok sama sayah yahhh… Dan seperti selalu, kalau ada misalnya salah informasi, ada kurang apa, tolong dibenerin ya. Soalnya aku buta banget soal biologi. Walau dulu seneng banget sama pelajaran biologi, tapi entah kenapa nilai biologiku (dan nilai-nilai IPA lainnya rada jebol). Aku yakin, temen-temen yang aku tanyain nggak menjerumuskan. Tapi kadang-kadang sayah, dalam kegiatan rangkum merangkum, suka seenak jidat sendiri. Hehehe.. *ngumpet*
Oh iya, gambar bakteri itu nggak mewakili gambar bakteri yang aseli. Semata-mata digambar begitu biar aku gampang gambarnya (habis males sih).