Yagitudeh: Mini-composter Pepulih

1.08.2007
kategori: teori

Seri Yagitudeh kali ini bakal mengetik ulang apa yang didapet dari Pepulih tentang penggunaan mini-composter. Sama kayak metode Takakura, mini-composter ini cucok sekalee untuk sampah skala rumah tangga, bukan skala restoran. Tapi beda dari metode Takakura (hehehe, Tacchan), mini-composter ini waktu masak-masaknya lebih cepet, kira-kira 7 hari sajah dari sejak komposternya penuh (kalo Tacchan kan fermentasinya sebulan dua bulan tuh).

 

Pertama-tama, kumpulin dulu alat dan bahannya

  1. Alat pencacah: kalo punya blender atau mesin, lebih bagus. Tapi kalo nggak, pakelah golok atau piso. Kalo punya banyak waktu dan nggak ada kerjaan, bisa juga pake gunting. Plus talenan atau tatakan untuk mencacah. Plus tempat ngumpulin cacahan (kalo aku pakenya kaleng bekas). Tapi ya terserah gimana enaknya lah. Mau dicacah pake jurus tenaga dalam juga boleh, mau dikumpulin di atas kain juga boleh.
  2. Garukan sampah kecil atau sendok kayu atau apa saja. Gunanya untuk mengaduk. Kalo mau pake tangan juga boleh.
  3. Alat semprot kecil. Gunanya untuk membasahi kompos/sampah kalo terlalu kering. Kalo nggak punya alat semprot, diciprat-ciprat pake tangan juga boleh kok. Ya gimana enaknya aja lah.
  4. "Supermic Sampuk", ini bakteri dalam kemasan. Sebutan kerennya "aktivator fermentasi". Isinya bakteri penggemar aerobik yang bersahabat dan telah dikemas di dalam wadah plastik yang mirip dengan bejana susu penambah berat badan untuk cowok. Ukurannya lebih kecil dan tulisan "Sampuk"nya gede-gede. Jadi, jangan sampe ketuker antara ini dengan susu ya. Bisa berabe.
  5. "Deodorant Sampuk", ini biar nggak bawuk. Emangnya cuma manusia doang yang perlu deodoran. Bagus dipake apalagi kalo sampahnya berkadar protein tinggi (misalnya hewan laut gitu).
  6. Sampah dapur, sampah kebun, sampah lah pokok’e. Ya iya lah.

Lalu, lalu:

  1. Ingat 6D+D (dibacanya "enam de tambah de yang satu lagi"), yang kira-kira kepanjangannya adalah: Dipilah, Dicacah, Ditabur, Diaduk, Diangin-anginkan, Diayak, Dipakai Dijual Ditanam.
  2. Dipilah sampahnya: Pokok’e sampah organik thok. Ga bole ada sampah anorganik. Omong-omong, kertas atau kardus atau karton walo asalnya dari pu’un termasuk sampah anorganik ya, soalnya udah diproses secara kimiawi.
  3. Dicacah sampahnya: Sampah organiknya dicacah cilik-cilik supaya fermentasinya merata, dan supaya bakterinya nggak kecapekan waktu mengurai. Kasihan kalo bakteri kecil-kecil gitu disuruh makan sapi utuh kan?
  4. Ditabur aktivatornya: Setekah sampah dimasupin ke composter, si Supermic Sampuk ini ditaburin di atasnya sampai rata.
  5. Diaduk semuanya: Habis ditaburkan, sampah plus aktivator diaduk sampai rata. Kalau jumlah sampah harian sedikit, setiap saat (nggak usah nunggu sehari dulu) bisa masukin sampah (yang udah kecil-kecil dicacah) ke dalamnya. Setiap kali masuk sampah baru, ditaburin aktivatornya. Setiap kali dua-duanya ketemu, diaduk.
  6. Kalau sudah penuh, nggak usah diaduk tiap hari. Minimal dua hari sekali diaduk (sesuai butuh lah). Jangan lupa perhatikan kandungan air yah. Kalo terlalu basah, tambahin bekatul, sekam padi, atau serbuk gergaji atau serbuk kayu.
  7. Tunggu (sambil ngaduk 2 hari sekali). Proses fermentasi itu 7 hari lamanya. Abis itu diamkan sehari, biar tenang (mungkin).
  8. Diangin-anginkan komposnya: Habis didiamin sehari, komposnya akhirnya boleh dikeluarkan dari tempatnya, dihamparkan di tempat teduh, dibiarkan diangin-anginkan (biar selonjoran gitu lah). Jangan sampe kehujanan atau kepanasan yah.
  9. Diayak: Biar bentuknya lebih bagus dan seragam.
  10. Ditanam: Dipake dong. Buat nanem pu’un dan semacamnya. Komposisinya: 1 bagian kompos, 1 bagian pasir kasar, 1 bagian sekam bakar. Aduk-aduk-aduk.
  11. Ulang dari awal lagih.

Catatan Katanya Penting:

  1. Kalo sampahnya berprotein tinggi (misalnya binatang laut gitu), kemungkinan akan terjadi perkampungan belatung itu tinggi. Apalagi kalau terlalu basah. KenaVa? Em… mungkin karena apa ya, di dalam daging ada banyak cacing? Kayaknya ini harus dicari dulu ceritanya.
  2. Yang dicari itu proses fermentasi (kalo di dunia luar, ini seperti bikin bir atau sake gitu), buka proses pembusukan. Kalo busuk keluar belatung. Kalo fermentas keluar bir. Hehehe. Ya semacem gitu lah. Jadi, nggak boleh terlalu basah. Senjatanya kalo terlalu basah ya itu serbuk kayu atau sekam padi atau dedak atau arang lembut (bukan arang bongkahan segede-gede kepala orang loh ya). Dan kalo bau, bisa pake deodoran.
  3. Ya, rajin-rajin dikontrol aja. Kadar baunya, kadar airnya, kadar lindi (air tirisan proses fermentasi), kadar semuanya lah. Ga jauh-jauh dari hebohnya ngurus anak. Hehehe.

Belom ada gambarnya. Nanti kalo ketemu dengan Pak Tri lagi atau kebetulan ngeliat lagi, akan dicoba foto-foto.

Info diambil dari Pepulih dan dari sini.



5 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://blogsampah.blogsome.com/2007/08/01/yagitudeh-mini-composter-pepulih/trackback/

  1. Hebat. Saya juga baru saja mulai berkompos-ria dirumah dengan menggunakan aktivator Boisca. Teruskan dan tularkan terus. Kalau makin banyak walhasil Indonesia kita semakin ok!

    Aku Ingin Hijau
    http://akuinginhijau.wordpress.com

    Wah! Boisca? Baru pernah denger (Seperti nama pengamatan antariksa di Lembang itu?) :D hehehe pasti seru ya? Tiga hari bikin kompos ini rasanya seru banget. Kayak nonton file thriller gitu. Hihihi.

    Comment by Michael Dharmawan — 1.08.2007 @ 10:43 am

  2. Aku pernah baca buku Cara Membuat Kompos Cair yg pake Boisca sbg bio aktivator. Beda Boisca dg EM4 apa yah? Trus belinya dimana yah kira2. Tengkyu..

    Setau aku sih, Boisca itu khusus untuk kompos cair dan EM4 itu untuk kompos padat. Jadinya beda ajah gitu. Kayaknya kalau salah pake malah nantinya hasilnya nggak sesuai dengan keinginan, karena komposisi aktivatornya beda

    Comment by Dody — 2.12.2007 @ 11:23 am

  3. Saya sudah mencoba membuat mini composter, sesuai dengan yang ada dibuku cara membuat kompos cair, akan tetapi saya kesulitan mendapatkan bioaktivator merek BOISCA, maka saya menggunakan EM4 sebagai bio aktivatornya. Hasilnya memang terjadi pertumbuhan bakteri di dalam composter tersebut namun disitu banyak bermunculan larva (belatung), juga kondisi composter tersebut seperti isi “cubluk” dengan warna dan bau yang sama, juga kompos cair yang diharapkan pun tidak keluar, yang ada saluran air terisi penuh oleh larva. Kepada siapa saja yang bisa memberi info mengenai cara mendapatkan boisca mohon diinformasikan ke alamat e-mail di khenann67@yahoo.com. Saya domisili di Bandung tetapi saat ini kerja di Jakarta.
    Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih

    Hai. Setau aku Boisca itu memang untuk membuat pupuk cair, sedangkan EM4 khusus untuk pembuatan kompos padat. Jadinya tidak bisa sebagai substitusi satu dengan yang lainnya. Karena komposisinya beda. Mungkin karena itulah akhirnya malah jadi belatungan? Nanti saya coba tanya-tanya lagi gimana baiknya atau apa memang benar begitu :)

    Semoga nggak kapok bikin pupuk kompos ya

    Comment by Enan Wahyudin — 4.12.2007 @ 11:47 am

  4. saya baru mencoba membuat kompos dengan super sampuk, setelah membaca mengenai boisca, saya ingin tahu dimana beli boiscanya
    tks

    Comment by niniek — 10.03.2009 @ 1:50 am

  5. sama nee saya ingin tahu dimana beli boisca n super sampuk.
    n super sampuk itu sebenarnya dari apa? katanya dari arang sekam padi, bener ga sich.kalo bener berarti bisa bikin sendiri dong.
    tlg jwb ke email saya yaa, mj.dadak@gmail.com

    Comment by dadak — 15.10.2009 @ 12:31 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.