Tacchan: Ulang Bulan dan Krisis

30.08.2007
kategori: praktek, takakura

Tanggal ini satu bulan yang lalu, perjalanan Tacchan si Kotak Takakura dimulai. Tidak terasa sudah satu bulan umurnya ya? Banyak hal yang sudah dilewati, banyak pelajaran yang sudah didapat, dan banyak hal yang harus diperbaiki. Memang yang namanya momong anak itu kayak gitu ya? Ada kalanya dia rewel, ada kalanya dia baik dan tidak rewel. Hehe, padahal cuma kompos doang, tapi kok ya jadi seperti anak sendiri.

Minggu kelima, minggu terakhir dalam bulan. Heboh nian. Karena masalah kepanasan yang waktu itu, akhirnya banyak masalah timbul. Tacchan menjadi sangat basah dan harus ganti kardus lagi (padahal minggu lalu sudah ganti kardus). Masalahnya lagi, rembesannya mulai membasahi lantai garasi. Untung saja belum ada bau yang keluar (baik dari dalam kardus maupun dari luar kardus), padahal udah ada pete loh di dalam sana. Kardus harus diganti, pelapis harus diganti, bahkan kain yang menutupi kardus menjadi basah dan harus dijemur.

Untuk menanggulangi basah, teman saya menganjurkan untuk memasukkan kertas koran ke dalam Tacchan. Kertas koran yang sudah disobek dan diremas baik untuk menyerap air dan juga membuat kantong-kantong udara kecil di dalam kotak. Sembari diaduk terus, kertas koran ini bisa membantu mengatur suhu di dalam kotak sehingga tidak terlalu panas. Dan, tidak seperti serbuk kayu yang harus beli dulu… siapa sih yang nggak punya kertas koran ya? Dan, kertas koran juga bisa jadi kompos loh!

Biasanya kalau tidak ada sampah yang dibuang ke dalam Tacchan, kompos tidak diaduk setiap hari (cukup tiga hari sekali), tapi karena keadaan krisis ini, Tacchan diperiksa keadaannya dan diaduk setiap hari (malam hari). Semoga pengadukan yang lebih sering ini nggak berlebihan, ya.

Sampai hari ini, suhu di dalam Tacchan tidak hanya hangat, tetapi panas. Kalau hangat itu lazim dan malah bagus. Kalau sampai terlalu panas hingga berair… oh tidak! 

Selain itu, aku baru tahu kalau terlalu banyak kulit jeruk tidak baik untuk Tacchan! Terlalu banyak kulit jeruk bisa merusak keseimbangan pH (karena kulit jeruk itu masam/asam/acidic). Ternyata oh ternyata ya?



Satu Bulan Berprakarya

29.08.2007
kategori: prakarya, kertas, kain, plastik

Bersamaan dengan dimulainya proyek pembuatan pupuk kompos dengan metode Takakura (yang sekarang sudah mendapat panggilan sayang: "Tacchan"), dimulai pula proyek prakarya dari bahan ’sampah’.Walau kecil-kecil dan masih buruk rupa, setidaknya sudah bisa jadi semacam contoh untuk diperbaiki dan lebih dipoles lagi.

 

Tujuan mendaur ulang bahan-bahan anorganik ini adalah untuk "memperpanjang" usia suatu benda. Memberikan waktu agar tempat pembuangan sampah tidak cepat penuh. Yang namanya manusia kan memang membutuhkan benda-benda untuk hidup, jadi nggak mungkin melarang kita untuk nggak nyampah sama sekali. Tapi kita bisa mengurangi jumlah sampah dan memperpanjang jarak antara pembuangan sampah yang satu dengan yang selanjutnya. Dan rasanya puas juga kan, kalau sudah berkarya dan menggunakan karya sendiri?

Semua bahan-bahan yang digunakan benar-benar sisa, misalnya brosur atau selebaran yang sudah dibuang orang, majalah bekas (yang kadang-kadang nemu tergeletak begitu saja di atas bangku di ruang umum), bungkus teh kotak atau minuman kotak lainnya, bungkus permen, kopi instan, indomie, dll, kain perca potongan kaus (biasanya disebut majun), bekas contoh warna cat, kardus bekas (kalau tidak layak untuk dijadikan kotak kompos (misalnya sudah banyak lubang, atau terlalu ringkih), bekas undangan pernikahan (biasanya bahan yang digunakan untuk undangan kan bagus-bagus nih, seperti kertas kalkir, kertas glossy, dll), bekas tabung obat, dan bekas strip obat tablet/kapsul (yang sering disebut blister pack).

(more…)



Tacchan: Minggu Keempat

26.08.2007
kategori: praktek, takakura

Setelah minggu ketiga dilalui dengan sedikit masalah (minggu ketiga itu minggu tenang, sampah yang dimasukkan jenisnya standar, jumlahnya juga nggak banyak), Tacchan sang Kerangjang Takakura dan saya memasuki minggu keempat yang sarat cobaan.

Hujan deras benar-benar bikin saya sadar akan banyaknya lubang bocor di rumah, alhasil Tacchan pun harus diungsikan ke tempat yang tidak bocor. Ini karena Tacchan musuhan sekali dengan yang namanya sinar matahari langsung atau hujan. Jadi, harus dipindah ke tempat yang teduh. Oke. Akhirnya dipindah ke pojok yang lebih jauh.

Dari segi sampah yang dimasukkan pun Tacchan sudah naik kelas. Tiga minggu pertama, Tacchan hanya mendapat sampah mentah, misalnya daun-daun yang berguguran, sayur mayur sisa, kulit buah, atau daging buah sisa. Ya hitung-hitung saya sebagai ibunda Tacchan latihan dulu lah. Mosok dengan sayur sisa aja udah gagal mau coba yang lain. Syukurlah ternyata tiga minggu itu terlewati dengan lancar.

Oleh karena itu, mulai minggu keempat saya memberanikan diri untuk memberikan sampah dapur yang telah diolah, misalnya nasi, sayur yang sudah dimasak, bahkan roti isi basi. Ini yang bikin aku kebat-kebit ketakutan. Apakah nanti Tacchan akan sakit? Ada beberapa hal yang tetap harus dicatat:

  1. Makanan yang mengandung minyak atau santan harus dibilas sampai bersih. Minyak dan santan mempercepat pembusukan dan menghalangi fermentasi. Tacchan bisa sakit — bisa bau dan bisa rusak.
  2. Makanan tetap harus dicacah supaya Tacchan bisa dengan gampang mencerna.menjalankan proses fermentasi.

 Selain itu, Tacchan juga pindah kardus. Kardus yang terdahulu sepertinya sudah agak lapuk (karena memang pada awalnya sudah menggunakan kardus lapuk sih), jadi harus segera dipindah ke kardus baru sebelum kardusnya habis dimakan oleh bakteri-bakteri yang kerajinan itu. Kalau kardusnya habis dimakan, nanti kan isinya buyar semua. Proses pemindahan kardus ini sempat membuat bingung, karena nggak punya serokan atau sendok guedeeee gitu. Tapi akhirnya dengan memberanikan diri, Tacchan dijungkirbalikkan ke dalam kardus yang baru.

Letak bantal sekam juga diubah. Yang tadinya di bawah sekarang dijadikan penutup atas, yang tadinya di atas, dipindah ke bawah. Ini juga menolong proses sirkulasi dan penyaringan.

Akan tetapi, usaha untuk melindungi Tacchan dari hujan malah berakibat buruk. Pojok tempat Tacchan dipindahkan itu dekat sekali dengan kendaraan yang digunakan keluarga. Alhasil, panas dari mesin kendaraan sedikit banyak mempengaruhi suhu Tacchan.

Tacchan menjadi panas sekali, mungkin lebih dari 40°C yang menjadi batas maksimal normal (mungkin boleh lebih sedikit sih, tapi ini panas sekali). Aku baru tahu kenapa Tacchan harus diletakkan di tempat teduh. Panas yang amat-sangat ini sangat membantu bakteri supaya semakin giat bekerja. Alhasil cacahan roti, nasi, dan kulit pete yang baru dimasukkan sehari dua hari yang lalu sudah mulai coklat dan menjadi butiran pasir sedikit-demi-sedikit.

Karena proses fermentasi terlalu cepat, Tacchan menghasilkan uap air yang banyak dan meresap sampai keluar kardus. Aku rasa, kalau tidak cepat-cepat dipindahkan, Tacchan bisa menghasilkan air lindi deh. Dan itu bukan hal yang seharusnya dihasilkan oleh Keranjang Takakura.

Sepertinya, itulah mengapa metode pembuatan kompos yang singkat-singkat waktunya (misalnya dengan menggunakan mini-composter, yang notabene cuma butuh 5 hari-an… bandingkan dengan Tacchan yang satu bulan-an) menghasilkan lindi.

Akhirnya Tacchan dipindah lagi ke tempat semula, dan aku sedang negosiasi ke emak supaya Tacchan bisa masuk ke dalam rumah (karena sudah terbukti bahwa Tacchan tidak menghasilkan bau). 

Umur Tacchan sudah hampir satu bulan, semoga di minggu kelima tidak begitu ada masalah yang bikin orang sport jantung.



Yagitudeh: Double Digging, Teori Gali Dua Kali

20.08.2007
kategori: teori

Pengolahan sampah yang cocok untuk mereka yang punya halaman agak luas…

Double Digging Theory
oleh: Br. Dieng, SJ

Double digging adalah salah satu cara untuk mengolah sampah dan menyuburkan tanah. Cara ini biasanya diterapkan ketika ada hamparan lahan yang agak luas. Manfaat cara ini adalah untuk mengurangi jumlah sampah organik dengan cara menimbunnya pada lapisan tanah tertentu. Cara ini terbukti dapat memperbaiki kondisi tanah dan menghidupkan/mengaktifkan berbagai macam mikro organisme yang terdapat dalam tanah sehingga dapat menyuburkan tanah dan tanaman yang berada di atasnya.

Caranya…

  1. Persiapan. Siapkanlah lahan tertentu yang ingin anda garap sebagai tempat untuk mempraktekkan teori ini.
  2. Pengangkatan. Angkatlah top soil (lapisan tanah atas) dan pindahkan di bagian ujung atau akhir lahan yang sudah anda rencanakan untuk praktek. Top soil biasanya memiliki ketebalan antara 15-20 cm.
    Catatan: Luas dari top soil yang diangkat disesuaikan dengan panjang dan lebar dari lahan yang rencananya akan digunakan. Jadi, misalnya untuk lahan seluas 1 x 10m, pengangkatan top soil bisa mengambil 1m/segi. Luas pengangkatan juga tergantung dari volume sampah yang kita miliki.
  3. Penggemburan. Setelah melakukan pengangkatan, lakukanlah penggemburan pada lapisan sub-soil dengan menggunakan garpu. Kedalaman sub-soil biasanya mencapai 20-25cm.
  4. Letakkan sampah organik di atas lapisan sub-soil yang sudah digemburkan. Taburkan kotoran ternak (misalnya ayam, sapi, atau kerbau). Jika tidak ada, bisa menggunakan pupuk kompos.
  5. Tutuplah sampah organik yang sudah ditaburi kotoran ternak/pupuk kompos dengan menggunakan top soil dari tanah yang ada di sebelahnya. Lubang dari bekas top soil yang diambil tadi kini siap untuk dijadikan tempat penumpukan sampah organik berikutnya. Jangan lupa untuk menggemburkan lapisan sub-soilnya yaaa…
  6. Ulangi langkah-langkah tersebut sampai akhirnya tiba pada ujung bagian lahan yang direncanakan. Pada bagian akhir lahan yang digunakan untuk penerapan double-digging ini, tutup dengan menggunakan top soil yang didapat pada pemindahan yang pertama kali tadi.

Double digging adalah salah satu cara menyuburkan atau memperbaiki kondisi tanah dengan memanfaatkan bahan-bahan organik yang memang sudah disediakan oleh alam. Menurut saya, cara ini cukup efektif untuk diterapkan oleh mereka yang tidak memiliki banyak waktu untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.

Selamat mencoba, ya!



Biofuel vs. 3R+1R

18.08.2007
kategori: curhat, teori, berita

Mungkin sudah banyak yang tahu apa biofuel itu. Mungkin sudah banyak juga yang tahu apa itu 3R+1R (Reduce, Reuse, Recycle dan Replant). Dari keduanya, mungkin yang paling nggak sulit adalah menggunakan bahan bakar ramah lingkungan semacam biofuel tadi. Bahkan ada beberapa orang, termasuk beberapa yang saya kenal merasa penggunaan biofuel adalah alternatif dari melakukan gerakan 3R+1R. Mungkin ada yang beranggapan begini: buat apa 3R+1R, toh saya sudah pake biofuel. Kontribusi saya pada lingkungan sudah cukup besar.

Akan tetapi sekelompok peneliti dari Inggris Raya menyimpulkan bahwa penggunaan biofuel, atau bahan bakar alternatif yang sepertinya, belum tentu efektif untuk mengendalikan emisi karbon serta menyelamatkan lingkungan. Menurut mereka, penanaman kembali, pelestarian habitat, penataan kembali gaya hidup, dan dengan sendirinya kegiatan 3R+1R itu adalah pilihan yang lebih baik.

(more…)





«« catatan lama •