geger di hari kedua

31.07.2007
kategori: praktek, takakura

Setelah perasaan hampir kiamat di hari pertama (heu euh, hiperbola, tapi biarin deh)… rasanya senang sekali pas buka kotak hari ini dan ngerasa ada rasa haneut-haneut eh hangat keluar membumbung dari tumpukan sampah itu. Soalnya, katanya sih, kalau dalam proses suhunya naik berarti kayaknya prosesnya benar. Kalau pake metode takakura ini katanya sekitar 30-40°C gitu deh. Kalo pake minicomposter bisa sampe 80-an derajat gitu. Asal jangan terlalu panas sampe kayak kompor tentunya. Kalau suhunya meningkat, itu berarti kawan-kawan bakteri sedang bekerja dengan giat mencerna sampah, mengubahnya menjadi kompos. Teorinya sih gitu.

Yang aku takutkan, itu suhu meningkat gegara bakterinya kepanasan dan kegerahan. Kejemur sih kayaknya nggak. Tapi takutnya mereka kesumpekan. Lubangnya cukup ga ya? Mereka bisa nafas nggak ya?  

Kembali ke motong-memotong sampah. Karena kemarin cukup berhasil (menurutku) dalam hal motong-memotong, cacah-mencacah sampah, jadi hari ini rada pe-de nih, walau belum tau sampah yang didapat hari ini apa. Hwarakadah! Ternyata potongan kulit apel, bonggol apel (eh apa sih, itu yang bekas apel gitu deh), buntut wortel dan… sisa-sisa buah pir! Oh tidak! Huhu, benda-benda basah semua.

Jadilah selama mencacah-cacah banyak cairan yang keluar sampai-sampai menggenang di wastafel. Dan karena cairan yang keluar manis, yang ada sambil motong, sambil dirubung semut-semut kecil. Setelah selesai mencacah, buru-buru mengeluarkan jurus serbuk kayu yang didapat dengan cara memalak meminta baik-baik pada pemilik toko hewan peliharaan. Sesuai dengan petunjuk, sampah yang rada basah diaduk dengan serbuk kayu sampai nggak basah-basah amat. Nah. Kriteria nggak basah-basah amatnya itu gimana? Semoga bener lah.

Sekarang waktunya mengorek lubang baru untuk menimbun sampah. Hmm hmmm. Lalu melihat sampah yang kemarin ditimbun masih berwarna hijau ya? Sempet panik sebentar, kemudian tersadar kalo hari ini baru hari kedua. Huh, tidak ada yang instan sepertinya.

Ya sudah, akhirnya si sayah menuangkan sampah hari ini ke dalam lubang itu dan menimbun. Hmmm… tapi nggak sempurna tertutup nih. Komposnya nyampur sama sampah, jadi ada yang nyembul-nyembul sedikit di permukaan. Ini nggak apa-apa kan ya? Bener ga? Boleh ngga? Sedih deh nggak ada yang bisa aku tanyain. Tapi kayaknya sih masih nggak apa-apa.

Kalau dipikir-pikir hari ini sih rasanya agak sukses dibandingkan kemarin. Euh… tapi ada satu kendala. Aku baru inget kalau tadi ada satu dua biji apel dan/atau pir yang ikut nyemplung ke dalam kompos. Gawat! Itu… kalo… tiba-tiba tumbuh jadi pohon gimana? Ini kan proyek bikin kompos, bukan proyek budidaya apel. Huhuhuhu.

Ah, ternyata bikin kompos ini perlu kesabaran dan ketelatenan yang tinggi ya? Dan kayaknya nasib kompos yang satu ini kok suram banget ya? Hehe, kunamakan saja lah proyek ini Proyek Madesu Takakura, nama panggilannya "Tacchan". Hohoho. Mirip nama orang Jepang betulan.

Oh iya, si sayah mengumpulkan sampah di dua tempat berbeda. Untuk sampah basah ada plastik berwarna hitam, dan untuk sampah daun (termasuk yang kering) di plastik yang bening. Kamsudnya sih biar nggak nyampur dan akhirnya basah semua. Baru di malam hari dikeluarkan dan dicacah satu-satu, ditampung di wadah dari kaleng biskuit bekas. Abis itu baru diobok-obok, dan kalau misalnya masih terlalu basah, serbuk kayunya dituang di sana dan diobok-obok lagi. Setelah selesai semua, kantung plastik dan kaleng dibilas (biar nggak bau dan kalo manis nggak dikerubutin semut), dijemur, dan dipake lagi deh pagi-paginya. Hehehe.. Tadinya kepikir pake kertas koran. Tapi kok, kertas koran jadinya basah dan jadi sampah yang jijay ya? Entah cara ini bener apa nggak. 

Hari ini tidak ada foto juga. Masih maluw. Huhuhu. 



2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://blogsampah.blogsome.com/2007/07/31/geger-di-hari-kedua/trackback/

  1. itu hangat2 ada yg keluar bukannya gas metana?
    STOP GLOBAL WARMING!

    kalo kata petunjuknya sih, bantal sekam yang ditaro di atas kompos ini gunanya untuk menyaring gas-gas hasil dekomposisi/fermentasi. jadi kayaknya yang hangat-hangat itu tinggal kalornya doang. udah nggak berbahaya lagi buat lapisan ojon. eh, omong-omong, kalo di negara dingin, bisa dijadiin penghangat? cuma bawuk mungkin. *imajinasi yang keterlaluan dari sayah*

    Comment by amen — 1.08.2007 @ 7:47 am

  2. Saya punya cara pengomposan lain yg jauh lebih mudah. Coba main2 k blog sy.

    Comment by Manika — 4.07.2008 @ 4:27 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.