Pilah-memilah. Karena siapa tau…
"Mbak, boleh pinjam bolpennya?" tanya perempuan itu sambil menunjuk marker yang ada di tangan saya.
"Oh, boleh boleh," jawab saya seraya menyerahkan marker yang dimaksud. "Markernya agak tebel, nggak apa-apa kan, ya?" (Doh, info ga penting kali ya, tapi bingung mo bilang apa lagi).
"Makasih," katanya sambil senyum sumringah. Eh daku jadi minder. Si mbak-mbak itu cakep amat ya, mana wangi (dibandingin si sayahyang udah nggak tau deh bau kringet macem apa. Eh lho, jadi curhat. Dan eh lho nggak ada skrinsyut).
Marker sudah aman di tangan kanan, dia dengan sigap meraih kertas dari dalam tempat sampah kertas. Lalu dia berbalik ke temannya, menyodorkan marker dan kertas, "Nih, tulisin nomor telepon sama email loe. Hape gue abis batre nih."
Temannya mungkin sama kagetnya dengan saya. Mungkin di wajah kami berdua kayak ketulis, itu bukannya sampah? Iya kan, ya?
Dan seperti bisa membaca pikiran, dia mengangkat kertas itu, "Ga papa, masih bersih banget kok! Tuh liat," dia bilang sambil membolak-balikkan kertas ex-brosur yang ternyata memang bersih dan masih banyak bidang putihnya. Kertas itu dia sodorkan kembali ke temannya.
Tak berapa lama kemudian, alamat email dan nomor telepon pun selesai dipertukarkan, dan marker pun balik ke tangan saya (hoho, penting ga seeh).
—
Memilah di Kumkum
Hal ini terjadi di wing kanan lobby Museum Bank Mandiri, pada hari kedua acara Kumkum tepat di depan sederet kardus-kardus setinggi pinggang orang dewasa.
Hari itu, seperti kemarinnya juga, memang banyak kardus berlapis trashbag hitam yang dideret-deret berkelompok di setiap sudut museum, setiap kardus punya peruntukannya sendiri-sendiri: kertas, plastik-kaleng-tetrapak, non-daur ulang, serta organik (khusus area bazaar makanan).