5 Juni: Hari Lingkungan Hidup
kategori: berita
Semoga laen kali, setiap hari juga bisa jadi hari lingkungan hidup ya. Masa’ hidupnya cuma sehari abis itu hibernasi lagi?
Semoga laen kali, setiap hari juga bisa jadi hari lingkungan hidup ya. Masa’ hidupnya cuma sehari abis itu hibernasi lagi?
Ah jadi inget, waktu Green Festival kemarin, saya sempet bicara panjang lebar sama seorang ibu (lupa dari negara mana) dengan dua anak cowok yang imyut-imyut. Salah satu dari sekian banyak topik yang sempet diomongin itu adalah tentang membiasakan anak untuk 3R+1R itu. Nggak cuma di rumah, tapi juga di sekolah (melalui guru dan prakarsa kelompok orang tua murid), anak-anak dibiasakan untuk melakukan praktek 3R+1R ini.
Misalnya:
Sekolahnya kedua anak itu sudah mengharuskan semua anak didik membawa peralatan makan (kotak makan, sendok, garpu, sumpit, dll yang bukan sekali pakai) dan botol minum sendiri dari rumah. Syukur-syukur kalau di dalam kotak makanannya juga sudah ada makanan yang dibawa sendiri dari rumah (para orang tua juga diberikan buklet gizi dan resep-resep mudah, bergizi dan nikmat dari sekolah sebagai anjuran).
Penjaja di kantin atau di luar gerbang sekolah sudah diminta kerjasamanya untuk mewanti-wanti anak didik untuk menggunakan wadah sendiri ketika "jajan".
Sekolah juga mendukung program penghematan kertas, misalnya: untuk lanjut terus menggunakan buku tulis yang masih berhalaman sisa, walau sudah naik kelas. Atau menganjurkan orang tua untuk membeli kertas tulis saja yang kemudian dilubangi dan dimasukkan ke dalam file (kalau loose leaf kemahalan, bisa kertas tulis biasa saja). Hal ini mengurangi mubazir halaman sisa, dan juga masih banyak buku tulis yang "cover"nya terbuat dari bahan yang tidak mudah terdaur ulang secara organik.
Saat ini, sekolah itu sedang memulai kerjasama dengan salah satu alumni sekolah itu, untuk daur ulang kertas. Para murid diajak untuk mengumpulkan kertas bekas untuk kemudian didaur ulang menjadi kertas tulis baru. Kertas ini kemudian akan dijual di koperasi sekolah itu dengan harga yang terjangkau.
Penghematan listrik juga dilakukan dengan cara belajar di luar ketika cuaca cerah. Di bawah rerimbunan pohon dan "saung kecil", terik matahari juga tidak terlalu terasa. Di sekolah, anak-anak juga belajar memilah sampah, menggunakan kembali sampah mereka untuk pelajaran kerajinan tangan, membuat kompos dan menanam bibit untuk pelajaran IPA.
Masih banyak lagi hal-hal menarik yang saya dengar, tapi kok ya lupa ya? *jeduk-jeduk kepala ke tembok* nanti saya tambahin lagi kalau ingat
Bagaimana dengan Anda? Sharing dooong….
Kemarin, saya pergi ke Dufan bersama teman saya. Terakhir saya ke Dufan itu kapan, ya? Mungkin pas jaman-jamannya saya masih SMP gitu (udah lama ya?)
Ternyata sekarang Dufan bersih banget, ya? Tong sampah pun banyak dan mudah ditemukan. Satu hal lagi yang bikin saya tercengang itu adalah kepatuhan orang-orang untuk merokok hanya di kawasan merokok. Jarang banget saya melihat ada yang merokok di daerah umum.
Bahkan, selama saya di sana, banyak juga kata-kata "Pak, Bu, jangan buang sampah di sini," baik dari para petugas kebersihan maupun dari sesama pengunjung yang mengingatkan pengunjung lainnya. Teman saya dan saya juga sempat berteori: mungkin karena lingkungannya bersih, yang lain juga jadi segan mau buang sampah sembarangan, atau karena tidak ada yang merokok jadi segan mau merokok di luar area yang sudah ditunjuk. Apalagi dengan tong sampah yang mudah terlihat di mana saja. Malu dong, sama yang lain, ya?
Tidak lama berselang setelah teori itu disampaikan, saya memperhatikan ada seorang bapak yang celingukan hendak menyalakan rokok. Tapi setelah melihat tidak ada yang merokok di sekelilingnya, dia pun tidak jadi menyalakan rokoknya.
Lalu ada lagi seorang cewek (mungkin rada ABG gitu, dengan dandanan yang oke juga), yang dengan ragu meninggalkan bungkus bekas makanan ringan di atas kursi yang tadi dia dudukin. Tapi belum juga beranjak dua langkah, dia balik dengan terburu-buru, mengambil bungkus itu, lalu menaruhnya di dalam tempat sampah yang memang nggak jauh dari tempat dia duduk tadi.
Jadi mungkin memang begitu, ya? Pengaruh lingkungan membentuk perilaku. Kalau ketemu tempat yang bersih, mau nyampah juga kagok dan malu. Tapi kalo ketemu tempat yang jorok, ya hayuk aja.
P.S: nggak! aku nggak dibayar sama Dufan kok. Malah bayar Dufan.
P.P.S: semoga bersihnya nggak cuma pas kemaren doang, tapi sekarang dan selama-lamanya.
P.P.P.S: mungkin lain kali aku datang, tong sampahnya nggak cuma satu jenis, tapi sudah untuk sampah terpilah. *berharap* hehehe.
Ini juga jadi pertanyaan banyak orang. Baterai (batu baterai, atau kalo di bule dikenal sebagai dry-cell batteries) itu habis dipake lalu dibuang, kan ya? Apakah bisa di daur ulang? Apakah semua orang bisa mendaur ulang baterai? Apalagi yang namanya batu baterai itu kan bahan berbahaya dan beracun. Salah-salah, bukannya untung malah buntung.
Tapi, kalau dibuang begitu saja bersama dengan sampah, lalu berakhir di tempat pembuangan akhir, atau malah dibakar… hmmm… kayaknya nggak sehat banget, ya?
Di luar negeri, yang namanya baterai itu bisa dikembalikan ke pembuatnya (manufacturer) ketika sudah selesai dipake. Satu RT/RW bisa mengumpulkan di wadah terpisah, dan nanti bareng-bareng dikembalikan ke si pembuat. Atau, orang-perseorangan bisa ke toko-toko swalayan, toko-toko elektronik, atau toko-toko lain yang menyediakan tempat pengumpulan baterai bekas pakai. Selain itu, perusahaan-perusahaan pembuat baterai juga mendirikan beberapa recycling depot di daerah-daerah/kota-kota tertentu.
Lalu, di Indonesia sendiri bagaimana? Kayaknya belum ada, ya? Menurut salah satu koran ibu kota, banyak perusahaan dan toko yang sebenernya tau, tapi cuek karena di Indonesia belum ada peraturan yang mengharuskan mereka untuk melakukan tindakan proaktif untuk mengumpulkan dan mendaur-ulang baterai-baterai yang imut-imut tapi berbahaya ini (ya, kalau cabe rawit juga imut dan pedes, tapi ga bahaya).
Jadi, bisa nggak kita mengembalikan batu baterai bekas ke si pabriknya? Ini sih saya belum tau. Tapi lucu juga kali ya, kalau satu RT saja mengumpulkan batu baterai bekasnya lalu dikembalikan ke pabrik baterai itu? Ada yang udah coba?
Cara-cara yang mudah adalah:
Temenku menghemat baterai dengan berbagai cara. Ada yang dijemur, ada juga yang dimasukin ke kulkas. Entah deh nih, apa berhasil atau nggak. Terus, dengan dimasukin ke kulkas nggak tau juga deh dampaknya ke makanan-makanan yang ada di dalem kulkas.
Mari Merakit Joule Thief
Atau, simpan baterai yang kamu kira sudah mati. Karena sebenernya mereka belum mati! Kebanyakan alat-alat elektronik berbaterai butuh minimal 1.5 - 3V untuk menyala (misalnya LED biru atau putih). Di bawah itu, mereka menyatakan baterainya sudah soak, sudah mati, sudah tidak ada gunanya. Tapi berarti, di dalam baterai itu masih ada sekitar 1.5V yang nganggur begitu saja.
Nah, kalau ada iseng, buat saja sebuah joule thief, dengan kata lain, senter kecil yang bercahaya lumayan tapi hanya perlu daya rendah. Dia akan tetep menggunakan daya baterai yang tinggal sedikit itu (±1V), sampai hanya 0.3V saja yang tersisa (lama hidup: sekitar 3 hari sampai 1 minggu).
Jadi, lumayan lah baterai-baterai yang udah "nggak guna" itu bisa disimpan untuk saat-saat di mana PLN lagi ngambek dan matiin lampu rumah.
Saya sih lagi mau nyoba bikin, minggu ini. Entah deh berhasil atau nggak, berhubung saya ga mahir begini-beginian. Tapi temenku bikin sih berhasil. (Ya iya lah, dia kan pinter, masa’ ya iya dong?)
Yuk!
Tautan lainnya:
- "Wasted Opportunity to manage e-trash", Jakarta Post, 03 May 2008
- Cara membuat joule thief. (blog.makezine.com) (emanator.co.uk) (ledsales.com.au)
Ini yang jadi pertanyaan banyak orang, mulai dari emakku yang doyan masak, sampai dengan seorang ibu di acara Green Fest kemarin: Menyak goreng abis dipake, kalo udah nggak layak pake lagi, diapain yah?
Kalo jumlahnya sedikit sih masih mending bisa dimasukin ke kotak kompos. Tapi kalo udah dalam jumlah yang banyak? Ga mungkin juga lah ya. Dibuang gitu aja?
Kebetulan, waktu ibu-ibu Green Fest itu tanya, saya baru aja mencari-cari tahu dari Om Gugel, jadinya saya bisa cuap-cuap ngecap-ngecap sedikit, walau belum ada satu pun yang saya dipraktekin. Tapi, saya tertarik juga untuk coba bikin sabun (ya betul! sabun… seperti sabun yang dipake untuk cuci tangan itu).
Mungkin minggu depan saya mau coba bikin sabun.
Jadi… beberapa hal di antara banyak hal yang bisa dilakukan dengan menggunakan minyak goreng bekas adalah:
Pengganti bahan bakar kendaraan
Terutama untuk kendaraan-kendaraan bermesin diesel. Pertama kali saya tau ini dari salah satu stasiun televisi musik sekitar tahun lalu. Ceritanya ada salah seorang artis bule yang menggunakan minyak jelantah untuk bis tur keliling negerinya. Jadi, dia tidak pusing kalau misalnya harus tur ke daerah-daerah yang rada jauh. Tinggal berhenti di suatu restoran, minta jelantahnya (kadang kalo bayar ya uwis… kadang dia didaulat nyanyi sebagai ganti sejerigen dua jerigen jelantah).
Di Indonesia, penggunaan jelantah sebagai bahan bakar alternatif juga sudah mulai marak lho. Di Bogor misalnya, pemerintah kota Bogor sudah mulai menggunakan minyak jelantah, yang dicampur solar (entah diseling-seling sama solar, atau dicampur beneran sama solar ya?) ini untuk kendaraan operasional pemerintah dan juga angkot Transpakuan.
Kalo di Bali ada Pak Olivier yang menggunakan minyak goreng bekas pakai sebagai bahan bakar truk. Kalau ada yang mau menyumbang minyak goreng atau bertanya-tanya, silakan hubungi beliau.
Dijadikan sabun
Jadi inget yang di filemnya Brad Pitt itu ya, yang Fight Club. Hehehe… bikin sabun secara rumahan. Intinya sih, karena menggunakan bahan soda api (caustic soda alias sodium hidroksida, NaOH), sabun ini sebaiknya nggak dipake untuk cuci muka dan jangan sampe kena mata. Mungkin paling banter bisa untuk bersih-bersih rumah, bisa untuk cuci-cuci baju, atau paling jauh ya untuk cuci tangan.
Bahan soda api (caustic soda) ini emang sering dipake untuk bikin deterjen kok.
Untuk jelasnya, gimana cara bikinnya, silakan liat di sini. Jurusnya cuma: aduk, aduk, aduk. Dan jangan sentuh soda api dengan tangan yang tak terlindungi. Pakelah perlindungan.
Oh iya, walau semua tipe minyak goreng sebenernya bisa dipake untuk bikin sabun ini, kayaknya (menurut sumber-sumber yang aku baca, paling bagus itu minyak kelapa).
Digunakan untuk mencegah rerumputan/tumbuhan liar
Buat yang suka berkebun, gunakan minyak goreng bekas pakai sebagai salah satu bahan sungkupan (untuk mulching). Jadi ceritanya, kertas bekas direndam dengan minyak goreng ini, lalu diletakkan di bagian bawah sungkupan itu.
Katanya nih, kalau di daerah yang adem-adem dingin (negara yang ada musim seminya), sungkupan berbahan minyak goreng malah bikin rerumputan liar ini cepet tumbuh. Tapi… karena kita tinggal di daerah tropis alias panas, menggunakan sungkupan dengan campuran minyak bekas ini malah mencegah, memperlambat, bahkan membunuh rerumputan liar. Oke banget, kan?
Info lebih lanjut sila buka halaman ini, lihat di bawah sub-judul "Paper Mulches".
Catatan kecil lainnya
Oh iya, kalau emang misalnya minyaknya rada berbau oye (misalnya abis ngegoreng yang enak-enak) dan takut kalau terlalu bau yah… bisa "dibersihin dulu". Menurut salah satu halaman web di bawah itu tuh *tunjuk-tunjuk* caranya:
- masukin ke dalam toples atau wadah yang cukup, masukkan minyak bekas dan air (perbandingan 1:1)
- abis gitu, sinar-sinarin di bawah matahari, sekitar 2 harian. Kocok seingetnya.
- nanti, tujuannya itu supaya hal-hal jelek yang terperangkap dalam minyak itu pindah masuk ke dalam air.
- kalau minyak sudah keliatan agak oke, dan air berubah menjadi agak buram, pisahkan minyak dari air.
- silakan dipake buat hal-hal lainnya yang dianggap asik.
Nah, kalau ada yang punya info lainnya, monggo lho kalau mau dibagi. Hihihi, supaya minyak gorengnya nggak "habis manis sepah dibuang"… Apalagi kalau masih bisa dipake.
Tautan lainnya:
- Biodiesel gitu deh
- Bahan Bakar Bogor
- Recycle This
- Green Lifestyle